Selasa, 14 Agustus 2012

Septuaginta kuno di dalamnya terdapat Tetragammaton

Hexapla Origen
Origen Hexapla adalah study versi Septuaginta dari Text Ibrani. Bagian ini bukan textual literatur yang dipakai untuk mempelajari tetragrammaton dalam text Yunani. Hexapla adalah bukti penggunaan tetragrammaton dalam naskah Yunani Perjanjian Lama. Tabel Hexapla memberikan informasi mengenai Septuaginta dan menceritakan masalah text pada awal abad ke 2 M. Dari study ini kita bisa belajar lebih lagi tentang tetragrammaton dalam Kitab Suci.

Origen dan Hexapla
Origen adalah salah satu ahli agama yang paling terkemuka di awal tahun Masehi. Origen dilahirkan di Alexandria kira-kira pada tahun 182, dan meninggal di Caesarea sekitar tahun 251.

Pada masa mudanya, Origen mengenyam pendidikan terbaik yang mungkin didapatkan di masanya dengan dukungan dari ayahnya. Pada tahun 202, ayahnya meninggal sebagai seorang martir karena kepercayaannya sebagai orang Kristen. Origen dapat terus hidup karena perlindungan dari ibunya. Origen menjalani masa mudanya sebagai seorang pengajar Alkitab yang miskin namun sangat disegani. Dia kemudian berpindah ke Palestina dan menghabiskan sisa hidupnya dengan mengajar dan telah membuat lebih dari 6000 naskah tertulis.

Selama hidupnya, Origen sangat mendalami Septuagint dan menulis berbagai variasinya. Yang paling lengkap adalah Hexapla, di mana Origen membandingkan Septuagint dengan tiga versi penerjemahan bahasa Yunani dari Kitab Suci Ibrani (Tanakh). Karyanya ini disusun menjadi enam kolom (hex- dari kata Hexapla berarti enam). Kolom-kolom tersebut terbagi-bagi sebagai berikut: Pada kolom pertama (yang berjudul The Hebrew  ), Origen menuliskan ayat-ayat yang terdapat pada Kitab Suci Ibrani sebagaimana aslinya, yaitu dengan huruf Ibrani. Kolom ini ditulis dari kanan ke kiri. Pada kolom kedua (berjudul “ÔEbr”, yang berarti Bahasa Ibrani dalam huruf Yunani), kata-kata Bahasa Ibrani dari kolom pertama ditulis ulang dengan menggunakan huruf Yunani. Kolom kedua tidak memiliki arti dalam tulisan Yunani, tetapi tulisan itu bisa dibaca dengan mengunakan pelafalan Ibrani di setiap kata-kata.(Karena bahasa tulis Ibrani pada masa Origen tidak memiliki tanda baca huruf hidup maka hanya orang yang benar-benar fasih berbahasa Ibrani yang bisa membaca kata-kata Ibrani dengan pelafalan yang tepat. Oleh karena itu, kolom kedua ini juga menyediakan cara pelafalan kata-kata Ibrani bagi orang-orang yang bukan Yahudi. Kolom ini ditulis dari kiri ke kanan sebagaimana penulisan Bahasa Yunani pada umumnya. Di keempat kolom sisanya, Origen menuliskan empat versi Bahasa Yunani dari Kitab Suci Ibrani).Pada Kolom ini terbaca dari kiri ke kanan seperti tulisan Ibrani pada umumnya. Di empat sisa kolom yang lain, Origen menggunakan empat versi Yunani dari Kitab Suci Ibrani. Yang pertama adalah versi Aquila, ditulis pada kolom berjudul “ÔA”. Yang kedua adalah penerjemahan dari Symmachus, yang ditulis pada kolom berjudul “S”. Yang ketiga adalah Septuaginta pada kolom berjudul “OV”. Yang keempat adalah versi Theodotion, pada kolom berjudul “Q”. Sebenarnya masih ada satu kolom lagi yang berisi berbagai variasi, notasi dan penjelasan tentang kolom-kolom lainnya, namun hanya kadang-kadang dipergunakan dan tidak dihitung sebagai satu kolom yang utuh. Figure 11 menggambarkan penyusunan Hexapla yang otentik. Perhatikan bahwa setiap baris merepresentasikan penerjemahan kata-per-kata dari keseluruhan Kitab Suci Ibrani (Tanakh).

Masing-masing dari ketiga versi penerjemahan (Aquila, Symmachus dan Theodotion) menunjukkan gaya penerjemahan yang khas. Versi penerjemahan dari Aquila, yang dibuat pada paruh pertama dari abad ke-2, diterjemahkan dengan benar-benar harfiah(literal). Versi dari Symmachus yang ditulis pada tahun-tahun akhir abad ke-2 menggunakan gaya penerjemahan yang lebih bebas. Karya Theodotion yang juga dibuat pada abad ke-2 merupakan versi revisi bebas dari Septuaginta.

Hexapla adalah karya terbesar dari Origen, namun tidak seorangpun yang mengetahui kehancurannya. Tidak ada salinan Hexapla yang benar-benar lengkap selain Hexapla itu sendiri. Dari catatan Eusebius dan catatan sejarah yang lainnya, kita dapat mengetahui bahwa naskah Hexapla yang otentik disimpan di perpustakaan Caesarea selama bertahun-tahun, tempat di mana naskah itu kemungkinan ikut hancur bersama Caesarea pada tahun 653 ketika Caesarea dibakar habis oleh pasukan Saracen (Arab).

Seandainya Hexapla tidak hancur, naskah tersebut akan menjadi aset yang tak ternilai harganya terhadap pemahaman Kitab Suci Ibrani(Tanakh). Origen telah melakukan penelitian yang mendalam terhadap penyebaran naskah Ibrani, dan dia memfokuskan penelitiannya pada rekonstruksi yang akurat dari naskah Septuaginta. Tujuan utamanya adalah memberikan penerjemahan Kitab Suci Ibrani (Tanakh) yang teramat akurat kepada dunia di masanya, yang pada waktu itu sebagian besar berbahasa Yunani.


Gambar 11


Penulisan ulang Hexapla
Naskah Hexapla yang asli telah benar-benar hilang. Telebih lagi, karena perpustakaan Caesarea tidak pernah membuat salinannya, salinan naskah yang lengkap tidak pernah ada sampai saat ini. Meskipun demikian, karena Hexapla begitu banyak dikutip orang sebelum kehancurannya, banyak bagian-bagian naskah yang ditemukan pada tulisan-tulisan para ahli agama di masa lampau. Namun salinan Septuaginta yang dibuat oleh Eusebius dan Pamphilus masih ada dan bisa diselamatkan.

Karena Hexapla memberikan pengetahuan yang teramat penting terhadap Septuaginta dan berbagai literatur Kitab Suci Ibrani lainnya, dan ditulis baik dalam Bahasa Ibrani maupun Bahasa Yunani, banyak usaha telah dilakukan untuk merekonstruksi Hexapla dengan cara mencari kutipan-kutipan Hexapla dari berbagai karya tulisan para ahli agama.

Rekonstruksi yang paling lengkap yang ada saat ini adalah Origenis Hexaplorum oleh Fridericus Field, dengan disertai komentar-komentar dari sang penulis dalam Bahasa Latin. Edisi ini diterbitkan pada tahun 1867-1874. Georg Olms Verlagsbuchhandlung dari Hildesheim, Jerman menerbitkan kembali buku tersebut pada tahun 1964. Edisi rekonstruksi ini begitu mendetail sehingga harus dibagi menjadi 2 volume, masing masing berdimensi 21,6 X 28 cm dan disusun menjadi dua kolom. Teks dan bagian-bagian pentingnya saja (tidak termasuk kata pengantar dan catatan-catatan sejarah dari editor) memakan tempat sebanyak 806 halaman di Volume I dan 1095 halaman di Volume II.

Berbeda dengan aslinya yang sebanyak enam kolom oleh Origen, Field mengelompokkan satu kata beserta penerjemahannya dari keenam kolom ke dalam satu paragraf saja, dipisahkan dengan judul kolom asli dari Origen. Figure 12 menunjukkan entry lengkap dari Maleakhi 2:13 dalam Origenis Hexaplorum. Tulisan-tulisan dalam Bahasa Ibrani dan Yunani adalah penulisan ulang dari karya Origen, dan penjelasan-penjelasan dalam Bahasa Latin adalah karya editor modern dari buku ini. Catatan-catatan dalam Bahasa Yunani atau Syria agaknya merupakan catatan yang mengidentifikasikan sumber informasi tekstual yang diterima sang editor.

gambar 12


Gambar 12. adalah Maleakhi 2 : 13 secara komplit. dibuat dari rekonstruksi dari Origen Hexapla. Origen memasukkan YHWH,Kurios, dan PIPI dalam lingkaran. Dia memberi judul kotak oktagonal. Komentar yang berkenaan dengan tidak lengkapnya Hexapla yang asli, memberikan dampak pada study Tetragramaton. Hati-hatilah memeriksa gambar 12, pembaca akan melihat ayat 13 yang lengkap, tidak termasuk di dalamnya ayat 14. ayat 14 hilang seluruhnya, dan ayat 15 hanya sebagian saja yang ada di dalamnya. Di akhir ayat Maleakhi 2 (ayat 16 dan 17) juga hilang. Bab 4 hanya terdapat satu kata Ibrani yang masuk di dalam ayat 1, 3 dan 5. dua kata masuk dan terselamatkan di ayat ke 2. ayat 6 dan 7 benar-benar hilang, sedangkan ayat 8 sangat lengkap. Perhatikan, bagaimanapun lengkapnya ayat itu, tidak semua mewakili. Sebagai contoh : kata tunggal yg masuk dalam Bab 3 ayat 1 memuat data dari Septuaginta di terjemahkan dari Aquila, Symmachus dan Theodotion. Bagaimanapun kata tunggal yang masuk dalam ayat 3 memuat hanya pokok bahasan dari septuaginta. ( meskipun termasuk didalamnya catatan kritikan oleh Origen sendiri)

Materi-materi mengenai Hexapla
Pada awalnya, studi kita mengenai teks Hexapla didasari oleh Origenis Hexaplorum (yang berarti Origen’s Hexapla) yang ditulis oleh Field. Namun, buku tersebut memiliki satu kelemahan penting menyangkut penulisan nama Tuhan dalam Hexapla. Field rupanya memiliki akses kepada dokumen-dokumen kuno yang hanya menggunakan kata Kyrios pada kolom ke-2 sampai kolom ke-6. Buku Origenis Hexaplorum tidak menggunakan Tetragrammaton selain kolom pertama yang berbahasa Ibrani. Sehingga pada awalnya kita terjebak dalam pemahaman yang salah bahwa: Origen tidak menggunakan kata “YHWH יהוהdimanapun selain pada kolom pertama.

Namun setelah adanya riset yang lebih mendalam, kita menemukan referensi naskah yang menyangkut penggunaan Tetragrammaton di dalam naskah asli Hexapla dari Origen. Ambrosiana palimpsest yang ditemukan oleh Giovanni Mercati dan diterbitkan pada tahun 1958 memberikan kita pemahaman baru terhadap bentuk asli naskah Hexapla.

Pada tahun 1894, Mercati mempelajari buku kebaktian dari Gereja Ortodoks Yunani yang berasal dari abad ke-13 atau 14 yang disimpan di perpustakaan Ambrosia di Milan. Buku itu berupa palimpsest, artinya ada tulisan yang lebih kuno yang telah dihapus sebagian, kemudian di atasnya dituliskan teks baru, dalam hal ini teks liturgis tentang tata kebaktian. Penemuan Mercati ini memberikan contoh tentang bentuk Hexapla asli dari Origen. Walaupun tulisan kuno yang telah sebagian terhapus itu berasal dari abad ke-9 atau 10, teks tersebut dipercaya merupakan salinan dari naskah yang jauh lebih kuno. Naskah tersebut mencakup 150 ayat dari Kitab Mazmur, disusun seperti gaya Origen yaitu dengan penerjemahan kata-per-kata, dan yang paling penting, menggunakan Tetragrammaton di keseluruhan enam kolomnya.

Dokumen ini menegaskan bahwa Origen menggunakan Tetragrammaton di semua kolomnya dalam naskah Hexapla. Terlebih lagi, Ambrosiana palimpsest menegaskan bahwa Origen menuliskan “YHWH” יהוהdengan huruf kotak Ibrani, bukan dengan menggunakan huruf  paleo-Hebrew atau Ibrani kuno.

Reproduksi foto dari halaman-halaman teks Mercati seringkali sukar dibaca karena adanya tulisan yang lebih baru (teks liturgi seperti telah dibahas di atas) di atas teks yang sebenarnya. Namun karena penempatan margin halaman (yang tidak mengandung tulisan), kita dapat dengan cukup jelas melihat lima kolom dari Hexapla yang memakan tempat sebanyak dua halaman (pada kolom ke lima pada satu halaman dari buku yang asli menggunakan jarak pada dua halaman terbuka pada text yang terakhir). Ayat 6 diatas halaman dengan jelas tertulis YHWH יהוה  pada beberapa judul kolom. Pada spasi yang tepat, sekali lagi terlihat YHWH יהוה pada judul ayat 7. (karena ayat 7 dengan kurang hati-hati di salin dua kali, judul YHWH terlihat di kedua tempat). Gambar ini (diambil dari gambar 11) menunjukkan informasi yang hati-hati dari huruf Ibrani oleh penulis asli (para katib Ibrani). Jelaslah para penyalin naskah asli (katib Ibrani) sangat mengenal Naskah Ibrani. Huruf-hurufnya adalah bentuk secara tepat tidak merupakan gambaran sederhana yang mana kita bisa mengira mendapati sedikitnya salinan-salinan yang memuat PIPI ( tulisan ini memuat gambaran dua huruf Yunani pi (P) dan titik (I) ditulis dua kali. Bisa saja tertulis dengan huruf besar seperti PIPI atau huruf kecil seperti pipiЎ) huruf ini adalah kombinasi yang diperbolehkan oleh penulis-penulis Yunani untuk menyatakan empat huruf Ibrani dari  Tetragammaton יהוה  dengan huruf-huruf Yunani pada umumnya. PIPI diketahui sebagai cara menuliskan dalam kitab suci pada masa itu tidak hanya dibatasi pada tulisan-tulisan Origen)  

Di halaman 108 dari buku Manuscripts of the Greek Bible, Metzger menuliskan,
[The photographic reproduction shows] palimpsest parchment leaves, originally measuring about 15 3/8 X 11 inches...containing in the under-writing about 150 verses of the Hexaplaric Psalter, written in a hand of the ninth or tenth century. In the thirteenth or fourteenth century the codex was dismantled and the parchment reused for another book. The leaves were (partially) erased and cut in half laterally, each half making two leaf and four page of the new codex. The plate [which is reproduced in the book] shows one such leaf (formerly the upper half of a page of the original codex), the under-writing, in five columns, giving for Psalm 27(28):6-7 the transliteration of the Hebrew text and the translations made by Aquila, Symmachus, the Seventy [Septuagint], and, instead of Theodotion as might have been expected, the Quinta.... The first column of the Hexapla, giving the Hebrew text...is lacking.

[Reproduksi fotografis menunjukkan] lembaran-lembaran perkamen palimpsest, aslinya berukuran sekitar 15 3/8 X 11 inci...tertulis di dalam teks asli [di bawah teks yang lebih baru] sekitar 150 ayat dari Kitab Mazmur yang ditulis seperti gaya penulisan Hexapla, berasal dari abad ke-9 atau 10. Pada abad ke-13 atau 14 naskah asli tersebut dibongkar dan lembaran perkamennya dipergunakan lagi untuk buku yang lain. Lembaran-lembaran tersebut (sebagian) telah dihapus dan dipotong menjadi dua, masing-masing separuh lembaran tersebut akhirnya menjadi dua lembar dan empat halaman dari naskah [buku] yang baru. Gambar ini [yang direproduksi di buku Manuscripts of the Greek Bible] menunjukkan salah satu lembar tersebut (yang sebelumnya merupakan separuh bagian atas dari naskah aslinya), teks yang tertulis di bawah teks yang lebih baru, dalam lima kolom, yang menyajikan penulisan ulang teks Yahudi dari Mazmur 27(28):6-7 dan penerjemahannya yang dibuat oleh Aquila, Symmachus, Seventy [Septuagint], dan, bukannya Theodotion seperti yang mungkin diduga, melainkan Quinta.... Kolom pertama dari Hexapla, yang menyajikan teks Ibrani...tidak ada

Gambaran Pengamat Sosial tentang Hexapla
Dengan latar belakang ini, kita bisa kembali kepada pengamat Sosial menggunakan Hexapla dalam dokumentasi dari Tetragramaton dalam Kitab Suci berbahasa Yunani. Pada halaman 310 dari buku “All Scripture Is Inspired of God and Beneficial” tertulis:

Ini sangat menarik bahwa Nama Tuhan, dalam bentuk Tetragrammaton, juga terlihat pada Septuaginta dari enam kolom Hexapla Origen, tahun 245. mengomentari Mazmur 2 : 2, Origen menulis Septuaginta : di dalam manuskrip yang akurat didapati nama dalam huruf-huruf Ibrani, bukan pada huruf-huruf Ibrani modern yang kita kenal saat ini, tetapi pada huruf-huruf Ibrani yang lebih kuno” bukti menunjukkan dengan sangat meyakinkan bahwa Septuaginta merusak pada janji awal, Kurios dan Teos adalah pengganti dari Tetragramaton.

Ketika kita mengevaluasi informasi dari naskah-naskah terbaru tentang Hexapla, klaim dari pengamat sosial bahwa Origen menggunakan kata “YHWH” יהוה  memang benar-benar terbukti. Kitapun dapat meninjau lebih lanjut naskah Ambrosiana dan menentukan bagaimana sebenarnya Origen menuliskan bagian-bagian Kitab Mazmur yang menggunakan nama Tuhan.

Dalam buku Psalterii Hexapli Reliquiae karya Mercati, yang dapat kita temukan di perpustakaan theologi yang terbilang mempunyai koleksi cukup lengkap, dimuat foto-foto keseluruhan naskah Ambrosiana. Dalam buku Psalterii Hexapli Reliquiae ini, pada halaman sisi kiri buku dimuat foto asli dari lembaran-lembaran naskah Ambrosiana, dan kemudian di halaman sisi kanannya adalah foto yang menunjukkan bagian teks Hexapla yang terdapat dalam lembaran-lembaran naskah Ambrosiana yang bersangkutan. Dari foto-foto tersebut kita dapat menyusun kembali tabel Hexapla Origen yang terdiri dari enam kolom (Tabel 11). Dari fakta-fakta dan naskah-naskah yang telah ditemukan sampai saat ini dapat dikatakan bahwa Tabel 11 ini adalah reproduksi yang akurat dari tabel Hexapla Origen yang otentik. Tabel 11 hanya berisi ayat-ayat yang mengandung kata “YHWH” יהוה , tidak menyertakan teks lengkapnya yang berbahasa Yunani, hanya berfokus kepada kata “YHWH” יהוה .

Tabel 11.


Table 11:
Origen memasukkan untuk Nama Tuhan didapati pada Naskah-naskah yang masih ada pada Mazmur dalam Naskah Ambrosiana. Catatan : Tabel ini hanya memuatיהוה   seluruh bahasaYunaninya diabaikan.
 
Setelah membaca Tabel 11 kita dapat memahami bagaimana sebenarnya Origen menuliskan tabel Hexaplanya, dan kita dapat menyimpulkan sebagai berikut (berdasarkan ayat-ayat Mazmur yang terdapat dalam Tabel 11):

1.      Seperti yang telah diduga, setiap penulisan nama Tuhan ditulis menggunakan Tetragrammaton dalam huruf-kotak Ibrani di kolom pertama yang berbahasa Ibrani.
2.      Kemudian Origen juga menggunakan Tetragrammaton pada kolom kedua yang merupakan penulisan ulang dari kolom pertama ke dalam Bahasa Yunani, walaupun kata yang lain dalam kolom itu ditulis menggunakan Bahasa Yunani.
3.      Kita kemudian mengetahui bahwa Origen menuliskan “YHWH” יהוה dalam teks berbahasa Yunani pada kolom ke-3 (penerjemahan Aquila), ke-4 (penerjemahan Symmachus), dan ke-6 (penerjemahan Theodotion atau Quinta). Walau terkadang kita menemui beberapa huruf Yunani yang menyertai Tetragrammaton, ternyata huruf-huruf tersebut hanyalah merupakan kata depan yang bermakna “the” atau “sang” atau perluasan nama Tuhan lainnya, seperti terdapat dalam Mazmur 45 dan 88.
4.      Yang tak terduga adalah kolom Septuaginta. Dalam setiap penulisan, kecuali Mazmur 17:29, Origen menuliskan nama Tuhan sebagai “YHWH” יהוה, dan sebagai tambahan, dia juga menggunakan bentuk lainnya yaitu  k-“-, k-e-, k-n-, k-w-i- dan k-u- yang merupakan singkatan dari Kyrios  yang berarti “Lord”, misalnya pada Mazmur 28:1 di kolom Symmachus, 29:13 di kolom Aquila dan 30:6 di kolom Theodotion.
5.      Yang lebih mengejutkan lagi, pada Mazmur 17:8, Origen menulis di kolom Septuaginta menggunakan “YHWH” יהוה dan juga bentuk Yunani k-“- dan
 pipiЎ
6.      Satu hal tak terduga lainnya kita temui pada Mazmur 28:1 di kolom Septuaginta. Pertama-tama Origen menuliskan tw’i יהוה, (dia memasukkan tulisan berarti “Yahweh”). Kemudian Origen memberikan bentuk lain yaitu uivoiЎ q-u- ejnevgkate dengan tambahan q-u- yang berarti “God”. Bagian yang mengejutkan adalah bentuk alternatif berikutnya, Origen menggunakan bentuk singkatan i-w-/k-w-.inisial tulisan dari kombinasi i-w- adalah singkatan bahasa Yunani YHWH. Yang kedua adalah k-w- yang merupakan singkatan dari Bahasa Yunani Kyrios. Jadi, Origen menuliskan “Lord God” sebagai alternatif membaca untuk ayat dalam Septuaginta.


Apa maksud Origen menuliskan masukan bentuk nama Tuhan lebih dari satu seperti       יהוה /k-“-/pipiЎ pada Mazmur 17:8 atau tw’i יהוה/uivoiЎ q-u- ejnevgkate/i-w-/ k-w- pada Mazmur 28:1? Origen mempunyai akses kepada banyak salinan Septuaginta dan juga Kitab Suci Ibrani (Tanakh) yang diterjemahkan ke Bahasa Yunani lainnya. Ketika semua naskah menerjemahkan penulisan nama Tuhan dengan serupa, dia menuliskan hanya satu bentuk nama Tuhan. Namun ketika naskah-naskah yang dia punya menuliskan nama Tuhan dengan bervariasi, dia menuliskan lebih dari satu bentuk nama Tuhan. Jadi, dalam Mazmur 17:8, kita dapat menganggap bahwa Origen mempunyai satu salinan naskah Septuaginta yang menggunakan Tetragrammaton yang ditulis “YHWH” יהוה dalam huruf Ibrani. Namun di ayat yang sama, Origen juga mempunyai salinan naskah Septuaginta yang lain yang menggunakan penulisan k-“-, dan satu salinan naskah lagi yang menggunakan penulisan pipiЎ. Walaupun begitu, sedikitnya seringkali kita akan menemui pola yang sama untuk terjemahan Aquila untuk Mazmur 29 : 13 atau Terjemahan Theodotian untuk Mazmur 17 : 42 dan 30 : 6.

Origen tidak berusaha untuk mengoreksi bentuk penulisan “Kyrios”. Dia tidak pernah menyebutkan bahwa “YHWH” יהוה adalah satu-satunya cara penulisan bentuk nama Tuhan yang layak dalam Kitab Suci Ibrani (Tanakh). Origen memiliki pilihan untuk Tetragramaton (dia memakai k-e-/ יהוה, untuk Aquila pada Mazmur 29 : 13 adalah menarik) dia tidak menghindari penggunaan “Kyrios” atau bentuk singkatannya, dan tidak pernah berkomentar bahwa penggunaan “Kyrios” adalah tidak layak.(kita harus ingat bahwa Origen menggunakan catatan kritikan yang didapati pada Naskah salah. Origen dengan menyolok menggunakan simbol ί diseluruh Hexapla untuk tujuan ini. Sebelumnya, Origen tidak menggunakannya disini).


Komentar Origen tentang Mazmur 2:2
Kutipan yang terdapat pada halaman 310 dari buku “All Scripture Is Inspired of God and Beneficial” mengatakan:

Commenting on Psalm 2:2, Origen wrote of the Septuagint: “In the most accurate manuscripts THE NAME occurs in Hebrew Characters, yet not in today’s Hebrew [characters], but in the most ancient ones.”
Dalam komentarnya tentang Mazmur 2:2, Origen menulis tentang Septuaginta: “Dalam naskah-naskah yang paling akurat nama Tuhan ditulis dengan huruf-huruf Ibrani, bukan dengan huruf Ibrani yang umum saat ini, tetapi dengan huruf Ibrani yang paling kuno.”

Buku “All Scripture Is Inspired of God and Beneficial” mengambil kutipan di atas dari buku berbahasa Latin berjudul Patrologiæ Cursus Completus (Karya-karya Tulis Lengkap dari Para Bapa Gereja), dengan editor J.P. Migne, tepatnya pada Volume 12 Origenis Opera Omnia (Karya-karya Lengkap dari Origen), disusun oleh Caroli dan Caroli Vincentii Delarue yang diterbitkan pada tahun 1862. Karya-karya Origen yang masih dapat diselamatkan ditulis di buku ini dan masih berbahasa Yunani seperti aslinya. Kutipan-kutipan komentar Origen berikut berasal dari halaman 1104 

Untuk bisa mengerti apa yang dikatakan Origen secara tepat, pada kalimat yang bertanda kutip “All Scripture Is Inspired of God and Beneficial” dan di sekitar konteksnya diikuti oleh teks Bahasa Yunani dari komentar Origen yang asli pada Mazmur 2. teks Bahasa Yunani diambil langsung dari Patrologioe Cursus Completus

Itulah sebabnya dikatakan bahwa hal-hal ini dilakukan “against the Lord [Kyrios] and against his Anointed [Christ]” [Mazmur 2:2]. Sudah bukan rahasia bahwa di Yunani orang menyebut nama Tuhan sebagai “Kyrios”, tetapi di Ibrani sebagai “Adonai”. Tuhan memiliki 10 nama dalam Bahasa Ibrani, salah satunya adalah “Adonai”, yang dilafalkan (Metzger berkata : komentar Origen tentang Mazmur 2 : 2, Origen dengan sengaja mengatakan diantara orang-orang berbahasa Yunani Adonai adalah pelafalan dari Kurios, dalam catatan kaki dari tulisan Origen yang di tulis dengan bahasa Yunani lengkap, dikatakan : tanpa ragu-ragu kita bisa memeriksa semua kata-kata yang di beri tanda kutip. Dengan otoritas ini, kita mengetahui bahwa penekanan ditujukan pada pelafalan dan bukan pada tulisan yang diterjemahkan) di Yunani menjadi “Kyrios”.

Dan ketika dikatakan “Adonai” di Bahasa Ibrani, atau “Kyrios” di Bahasa Yunani, keduanya menyatakan susunan kata-kata yang tertulis dalam kitab Suci Ibrani. Di dalamnya didapati kata yang tertulis “Iae” maksudnya Kurios dalam pelafalan Yunani dan bukan dalam bahasa ibrani seperti pada : “Puji Tuhan” (Kyrios-Kuvrion) dalam Mazmur 146 : 1, jadi Kurios yang digunakan pada Mazmur ini pada awalnya tertulis Iae (Iae adalah kemungkinan penulisan yang hanya diketahui oleh Origen dan pembacanya saja) yang mana dalam bahasa Ibrani dalam Mazmur adalah : HalleluYAH.

Walaupun nama Tetragrammaton yang tidak bisa dilafalkan tidak pernah diucapkan, nama tersebut juga terukir pada mahkota-mahkota emas para Imam Besar, dan dilafalkan sebagai “Adonai”. Tetragrammaton tidak pernah bisa dilafalkan, tetapi, dalam Bahasa Yunani, Tetragrammaton dilafalkan sebagai “Kyrios”. Dalam naskah-naskah yang paling akurat nama Tuhan ditulis dengan huruf-huruf Ibrani, bukan dengan huruf Ibrani yang umum saat ini, tetapi dengan huruf Ibrani yang paling kuno.

Ezra berkata ketika dalam masa tawanan, ada perbedaan huruf diantara tulisan asli (autograf) yang diteruskan (disalin ulang). Tetapi satu yang harus kita ingat, sejak tetragrammaton ditulis Kurios ditemukan dalam Mazmur 1 : 2 (ILT : Namun kesukaannya adalah Torat YAHWEH, LAI : “tetapi kesukaannya ialah taurat TUHAN) But his delight is in the law of the LORD (Kurios-Kurivou : kuri,ou) juga di Mazmur 1 : 6 (ILT : sebab YAHWEH mengenal jalan orang benar, LAI : sebab TUHAN mengenal jalan orang benar) For the LORD (Kurios-Kuvrio: ku,rioj)   knoweth the way of the righteous, juga dalam Mazmur 2 : 2 (LAI : melawan TUHAN dan yang diurapiNya) “Against the Lord (Kurios-Kurivou: kuri,ou) dan against His Anointed”

Bisa dilihat dalam Septuaginta dan Theodotion, keduanya berasal dari masa (abad) yang sama, Aquila juga, Symmachus terbit setelahnya, semuanya tersusun sesuai urutan waktunya. 

Dari kutipan-kutipan di atas, terbukti bahwa Origen mengakui bahwa Kyrios dapat diterima sebagai terjemahan (yang bisa dilafalkan) dalam bahasa Yunani dari Kitab Suci  Ibrani (Tanakh).

Origen berkata : ini bukanlah rahasia ketika Nama dlam bahasa Yunani dilafalkan sebagai “Kurios”, tetapi dalam bahasa Ibrani “Adonai”. Tuhan dipanggil dengan 10 Nama dalam Bahasa Ibrani (contoh : El, Elohim, Elah, Eloah, Yah,etc) satu diantaranya Adonai, yang mana dilafalkan Kurios dalam bahasa Yunani.

Origen berkata kemabali : dan ketika dikatakan “Adonai” dalam bahasa Ibrani, atau “Kurios” dalam bahasa Yunani, keduanya menyatakan susunan kata yang tertulis dalam Kitab Suci.

Dan akhirnya kesimpulan Origen :
Tidak dimaksudkan pelafalan Tetragrammaton. Cukup dikatakan dalam bahasa Yunani yang pelafalannya “Kurios”
Dalam tulisannya yang lain, kita tidak berharap hendak meremehkan komentar Origen ketika Origen berkata :
Pada manuskrip yang akurat, NAMANYA didapati dalam huruf-huruf Ibrani belum seperti huruf-huruf Ibrani saat ini (huruf Ibrani modern) tetapi huruf yang lebih kuno lagi.

Origen dengan jelas ingin menunjukkan fakta bahwa nama Tuhan diberi penghormatan tertinggi, sebagai Nama yang mulia, sehingga dituliskan dengan huruf Paleo-Ibrani di dalam naskah yang disebut Origen sebagai “naskah-naskah yang paling akurat”, sebagai contohnya : Origen mengatakan kepada kita Nama Tuhan muncul seperti יהוה   (dalam huruf Paleo Ibrani) hal ini diperkuat oleh tujuh Naskah Kitab Suci Ibrani Tanakh dan dua Naskah Kitab Apokrifa yang ditemukan di Laut mati menggunakan יהוה (dalam huruf Paleo Ibrani) 

Kutipan ini harusnya tidak ditafsirkan seperti yang dikatakan pada terjemahan yang lebih dapat dipercaya harusnya terbaca  יהוה  (dalam huruf paleo Ibrani), hal ini tidak jelas dalam terjemahan Inggris (apalagi LAI) apakah Origen mengidentifikasi יהוה (dalam huruf Paleo Ibrani) kedalam Naskah bahasa Ibrani awalnya atau  ditulis ke dalam terjemahan bahasa Yunani dari Kitab Suci Ibrani (Tanakh). Itu adalah contoh dari dua naskah-naskah Ibrani salinan.

Jadi jelas dari pernyataan Origen bahwa dia mengenali Tetragrammaton memang tertulis di dalam naskah Septuaginta, bagaimanapun kita harus berhati-hati dan kita jangan berbuat salah ketika mengidentifikasinya. Kita tidak bisa mengambil laporan singkat dari kutipan komentar Origen pada Mazmur 2 di luar konteks dan mengijinkan diri kita sendiri untuk percaya bahwa Origen berkata salinan-salinan awal dari Kitab Suci kita menggunakan tetragrammaton dalam huruf Paleo Ibrani (Ibrani kuno). 

Origen melaporkan bahwa Tetragrammaton di temukan pada “Naskah-naskah yang paling akurat” dari Alkitab. Kita hanya membaca konteks tanda kutip yang didiskusikan dalam Tanakh untuk menyatakan ini bukanlah maksud Origen. Sangat mengejutkan, kita juga melihat Origen sepenuhnya menerima Kurios sebagai terjemahan yang pantas bagi Tetragammaton ketika Kitab Suci Tanakh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.

Pada bagian pertama yg berhubungan dengan Hexapla Origen, kita menyimpulkan Origen menulis Tetragrammaton dengan tulisan Ibrani Kotak(Ibrani Gundul) pada Mazmur 2, bagaimanapun Origen dengan jelas menetapkan :

“Ezra berkata ketika dalam masa tawanan, ada perbedaan huruf diantara tulisan asli (autograf) yang diteruskan (disalin ulang). Tetapi satu yang harus kita ingat, sejak tetragrammaton ditulis Kurios ditemukan dalam Mazmur 1 : 2 (ILT : Namun kesukaannya adalah Torat YAHWEH, LAI : “tetapi kesukaannya ialah taurat TUHAN) But his delight is in the law of the LORD (Kurios-Kurivou : kuri,ou) juga di Mazmur 1 : 6 (ILT : sebab YAHWEH mengenal jalan orang benar, LAI : sebab TUHAN mengenal jalan orang benar) For the LORD (Kurios-Kuvrio: ku,rioj)   knoweth the way of the righteous, juga dalam Mazmur 2 : 2 (LAI : melawan TUHAN dan yang diurapiNya) “Against the Lord (Kurios-Kurivou: kuri,ou) dan against His Anointed” Bisa dilihat dalam Septuaginta dan Theodotion, keduanya berasal dari masa (abad) yang sama, Aquila juga, Symmachus terbit setelahnya, semuanya tersusun sesuai urutan waktunya. 

Bisa dilihat dalam Septuaginta dan Theodotion, keduanya berasal dari masa (abad) yang sama, Aquila juga, Symmachus terbit setelahnya, semuanya tersusun sesuai urutan waktunya.

Pada huruf paleo Ibrani menunjuk pada Ezra, pada bagian ini, Origen mengidentifikasi kata dalam bahasa Yunani Kurios menggantikan menggantikan Tetragrammaton dalam Septuaginta, Theodotion, Aquila dan Symmachus.

Kita bisa mencari jalan tengah dari ketidakcocokan  dengan salah satu atau dua cara. Pertama, kita bisa berpendapat bahwa huruf Ibrani didapati dalam manuskrip Ambrosian, bukanlah hasil karya Origen, tetapi disisipkan oleh penyalin-penyalin. Kemudian, ini lebih sulit untuk dijelaskan, bagaimanapun dengan jelas kita sekarang mengetahui sejarah dari Naskah yang ada. Ini seperti hal yang tidak bisa dipercaya bahwa orang yang bukan Yahudi yang mengganti יהוה  kedalam Naskah orang bukan Yahudi.  Itulah sebabnya orang yang bukan Yahudilah yang merubah יהוה  menjadi Kurios pada manuskrip-manuskrip Kitab Suci Ibrani.

Kita tidak bisa mencoba mencari jalan tengah atas ketidakcocokan dengan menjelaskan komentar-komentar Origen pada bagian ini kita mengutip tulisan asli menunjuk pada Tetragramaton dalam huruf Ibrani dengan jelas memberikan perbedaan antara Tetragrammaton dan kata dalam bahasa Yunani Kurios pada bagian yang sama dalam Kitab Suci Ibrani bisa saja sebagai alasan yang tidak logis pada komentar-komentar ini jika pada bagian ini hanya tertulis יהוה  

Maka dari itu, kita hanya punya  cara kedua, dan hanya ini jalan tengah yang logis bahwa Manuskrip Ambrosian yang mana Origen menggunakan יהוה  di dalam Hexapla, dan Origen merekomendasikan pada Septuaginta, Theodotion, Aquila dan Symmachus semuanya mengandung kata Kurios. Semuanya mungkin sekali Origen memasukkan salinan  dalam banyak salinan dari Kitab Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani. Beberapa memuat יהוה lainnya memuat Kurios, pada bagian yang sama. Pada pernyataan Origen menyoroti Mazmur 2 inilah cara yang masuk akal mengapa Origen menggunakan יהוה  pada Hexapla yang asli.

Yang kita ketahui pada saat ini, bahwa manuskrip-manuskrip yang ditemukan sampai saat ini, meskipun penemuannya sangatlah sedikit jumlahnya, terjemahan Kitab Suci Ibrani (Tanakh) mengandung Tetragrammaton sangatlah jelas. Kita memang bisa membayangkan bahwa Origen memiliki beberapa salinan (copies) dengan terjemahan Kurios sama seperti salinan-salinan dengan יהוה tercantum dalam Naskah.


Gambaran Origen pada Abad 1-2 M
Tidak ada Individu mendapat tempat terbaik seperti Origen yang melaporkan dan mengakui adanya perubahan penggunaan Tetragrammaton pada Abad 1-2 M pada Zaman Kekristenan. 
 
Pertama Origen hidup selama periode ini dan mempunyai laporan yang kontroversial, dan dalam posisi yang kurang dihormati, ditiap pembelaan dari Tetragrammaton atau argumen yang mendukung perubahan menjadi Kurios akan terlihat pada tulisan-tulisannya (Origen). Jika kita teliti hanya sejumlah kecil dari pekerjaan Origen dalam Hexapla dan satu dari komentar-komentarnya, kita mengetahui pendapat Origen. Dia bebas menggunakan יהוה ketika dia menulis catatan dalam Naskah Ibrani, pada Tulisan Lain ia menggunakan Kurios, dan dua bentuk variasi : k-~- dan PIPI tanpa beban ketika Origen mengerjakan ke dalam bahasa Yunani. Komentarnya di dalam Mazmur dia terbuka mengakui bahwa menerjemahkan Tetragrammaton dengan Kurios. Dari pengamatan tulisan pertama, bisa saja Origen menggunakan Kurios karena dia berada dalam keadaan semua orang disekelilingnya menggunakan Kurios dan bukan יהוה.

Sebelumnya, Origen tidak secara kebetulan memperhatikan, Origen dengan penuh gairah mempertahankan dengan setia Septuaginta. Dia tekun selama bertahun-tahun dalam hidupnya mengembangkan cara mempelajari naskah akan membantu menerjemahkan Tanakh ke dalam bahasa Yunani. Meskipun demikian, dengan sangat prihatin dia mengatakan bahwa Kurios cocok mewakili יהוה  (sekitar awal abad 3).

Pernyataan dari "All Scripture Is Inspired of God and Beneficial" mengatakan,
yang menarik dari Nama Tuhan, dalam bentuk tetragrammaton, juga muncul dalam Septuaginta dari enam kolom Hexapla, ini benar-benar demikian adanya. Tapi pernyataan ini jangan digunakan untuk menyatakan secara tidak langsung bahwa Origen menggunakan Tetragrammaton untuk membuangnya dari bentuk lain dalam Yunani dari Nama Tuhan. Catatan Origen dari Septuaginta seperti dia menggambarkan ketiga terjemahan yang lain-penggunaan yang tidak keliru mengganti bentuk dari ku,rioj Kurios (dan seringkali PIPI) untuk mewakili Nama Tuhan.

Pernyataan lebih lanjut dari  "All Scripture Is Inspired of God and Beneficial" mengatakan,
Komentar dalam Mazmur 2:2, Origen menulis dari Septuaginta "dalam manuskrip yang lebih akurat terdapat nama dalam huruf Ibrani, tidak dalam huruf Ibrani yang kita kenal saat ini (Ibrani modern) tapi dalam huruf-huruf yang lebih kuno.

Ini sangat tidak jelas, pada konteks yang dikutip, Origen jelas mengidentifikasikan Septuaginta (seperti juga Theodotion, Aquila, dan Symmachus) menggunakan Kurios. Komentarnya kemudian, manuskrip yang kuno didukung oleh Ezra disana menggunakan huruf paleo Ibrani. Bagaimanapun Dia segera mengingatkan pembacanya bahwa Tetragrammaton akan diingat seperti Kurios ketika dia berkata,

....sejak Tetragrammaton menjadi Kurios didapati dalam But his delight is in the law of the LORD (Kurios-Kurivou : kuri,ou) dan juga “Against the Lord (Kurios-Kurivou: kuri,ou) dan against His Anointed” “Against the Lord (Kurios-Kurivou: kuri,ou) dan against His Anointed”


Akhirnya, pernyataan dari  "All Scripture Is Inspired of God and Beneficial" mengatakan,
Fakta menunjukkan dengan meyakinkan bahwa Septuaginta merubah secara tidak sah diawal masa, Kurios dan Teos dijadikan pengganti dari Tetragrammaton, hal ini tidak bisa diselidikidi baik dari Hexapla atau komentar Origen pada Mazmur 2. Origen tidak memakai beberapa sebutan pada bagian ini dengan sengaja mengganti Tetragrammaton menjadi Kurios. Hanya fakta dari "akhirnya terlihat" bahwa Origen mengenali dan menggunakan keduanya Tetragrammaton dan Kurios. Origen menggunakan יהוה  ketika menulis dengan tulisan Ibrani. Origen menggunakan Kurios ketika dia mengarahkan (menerjemahkan) pada bagian yang sama dalam bahasa Yunani. Origen tidak keberatan kalau Kuvrio adalah terjemahan yang layak untuk יהוה bagi pembaca berbahasa Yunani.

Seperti yang kita lihat, Origen hidup diantara diantara kira-kira pada tahun 182 dan 251 M. Rasul Yokhanan (Yohanes) kitab Wahyu pada tahun 96 M. Dan Injil Yohanes pada tahun 98 M. Origen tentunya mengetahui isi tulisan asli Yohanes. Dia juga pasti mengetahui karya krekristenan yang menyimpang dari ajaran semula untuk merubah cara menyusun kata dari Septuaginta karena tujuan Hexapla adalah untuk memastikan penyusunan kata yang benar dari Septuaginta yang asli.
                                                                                                 
Berdasarkan dari apa yang dikatakan oleh pengamat sosial bahwa fakta menunjukkan dengan bahwa Septuaginta merubah dengan tidak sah sejak awalnya. Dimana Kurios dan Teos menggantikan Tetragrammaton. Tidak ada fakta yang menunjukkan di dalam komentar-komentar Origen pada Mazmur 2 yang menunjukkan bahwa Origen merasa kalau “Septuaginta merubah secara tidak sah” malah kebalikannya, Origen segera menegaskan untuk menggunakan Kurios sebagai terjemahan yang layak untuk יהוה

Ini mungkin saja terjadi, karena pada saat itu kejadiannya adalah terjadi penyesuaian secara nasional dari dialek dan kebudayaan yang telah diwarisi dan hal ini terjadi di abad kedua dan ketiga? Dengan adat Yahudi yang diwariskan, Versi Septuaginta menghasilkan catatan dalam huruf Ibrani pada Tetragrammaton atas יהוה , sebaliknya untuk pembaca berbahasa Yunani, versi Septuaginta menerjemahkan Tetragrammaton menjadi Kurios. Ini mungkin bahwa pengubahan ini diterima baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi sepertinya hal ini menyimpang, tapi seperti hanya pilihan antara mencatat atau menerjemahkan, bergantung atas latar belakang budaya dari pembaca? Ketika gereja-gereja Kristen berkembang salinan-salinan Septuaginta mengandung Tetragramaton jarang didapati (hampir punah) pada generasi selanjutnya secara berturut-turut. gereja Kristen bukan Yahudi memiliki Septuaginta yang hanya memuat ku,rioj setelah Roma menguasai Palestina ketika Yahudi Mesianic mengeluarkannya dari Sinagoge dan sebagai akibat dari bercampur dengan gereja bukan Yahudi, salinan-salinan Septuaginta semata-mata untuk orang Yahudi telah hilang keberadaannya. (mencoba untuk membersihkan penghinaan Kristen dari Kurios pada Abad kedua dan ketiga, terjemahan ke bahasaYunani dari Tanakh (kitab suci Ibrani = Perjanjian Lama , Torah, Nevim Kethuvim) untuk orang Yahudi huruf tertulis יהוה  pada Naskah Yunani. Tetapi sejak kekristenan menjadi agama negara pada masa pemerintahan Constantine pada abad ke empat orang-orang Yahudi secara sistematis menghancurkan terjemahan Yunani dan mengembalikan Kitab Suci mereka)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar