Senin, 27 Agustus 2012

Perayaan Idul Adha mengingatkan Muslim akan pengorbanan Isa Almasih diatas kayu salib.....

Kitab Injil Membuka Rahasia Berkah Idul Adha


Mengenai peringatan hari raya Idul Adha, Al-Quran mencatat sebuah ayat yang menarik. Ayat ini tentang pengurbanan Nabi Ibrahim AS. Ia mengurbankan seekor domba jantan sebagai pengganti anak lelaki yang disayanginya. 



“Kami tebusi anaknya itu sembelihan yang besar (seekor kambing / domba).” (QS 37:107).

Al-Quran Menggambarkan Sembelihan Dengan “Adzim” (Besar)
“Adzim” (Besar) adalah nama yang digunakan bagi Allah. Tapi ayat diatas juga menggunakan nama tersebut bagi korban sembelihan yang nilainya lebih kecil dibandingkan anak Ibrahim. Apa maksud Al-Quran dengan ayat tersebut?

“Sembelihan besar” ini adalah sebuah simbol yang melambangkan keagungan. “Sembelihan besar” menjadi alat penebusan Allah bagi anak lelaki Ibrahim. Inilah merupakan kemurahan hati Allah. Kematian domba jantan itu telah menebus manusia dan memberikan hidup kepadanya.


Allah yang Menebus dan Menyediakan

Karena Allah yang menebus anak lelaki Ibrahim melalui sembelihan. Sembelihan yang Allah sediakan ialah sebuah domba jantan yang benar-benar murni dan tanpa cacat sedikitpun.

Al-Quran tidak bicara mengenai tempat penyembelihan tersebut. Namun Kitab Taurat, Kejadian 22:3 menulis: Allah memerintahkan Ibrahim untuk pergi ke Gunung Moria. Ratusan tahun kemudian, Raja Sulaiman membangun Bait Allah di atas gunung yang sama.


Apa Tujuan Berkurban Pada Idul Adha?

Beberapa orang berpendapat tujuan berkurban supaya orang miskin dapat mengambil manfaat dengan makan dagingnya. Pendapat itu tidak salah. Tetapi benarkah tujuan Allah atas kurban semata-mata hanya itu?

Tidak ada perintah dalam Al-Quran untuk berkurban saat Idul Adha. Satu-satunya alasan adalah meneladani ketaatan Nabi Ibrahim saat berkurban (QS 37:100-113). Dan saat itu dia tidak berada diantara orang-orang miskin.

Karena dia takut kepada Allah dan menyadari dosa-dosanya, maka dia memerlukan tebusan dari Allah. Al-Quran mencatat “Dan yang amat kuinginkan (Nabi Ibrahim) akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat" (QS 26:82). Maka seharusnya tujuan seseorang berkurban adalah karena percaya kepada Allah, pada apa yang telah dilakukan-Nya serta memohon pengampunan dan penebusan-Nya.


Kurban Seperti Apakah Yang Layak Menggantikan Kita Dihadapan Allah?

Sapi Kurban“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. . . . ” (QS 22:37)

Kurban yang layak menggantikan kita dihadapan Allah haruslah lebih tinggi dari seekor hewan. Karena Allah hanya menerima ketaqwaan yang hanya dimiliki oleh manusia, maka kurban yang dapat diterima Allah hanyalah kurban seorang manusia.


Ciri-ciri “Kurban Besar”

Jelas, harus manusia suci, tanpa dosa, dan dikirim Allah. Beberapa orang berpendapat bahwa semua nabi tidak berdosa. Benarkah demikian? Al-Quran mencatat: Adam dan Hawa berdosa (QS 7:23 ); Nuh berdosa (QS 11:47 ); Ibrahim berdosa (QS 26:82; 14:41 ); Musa berdosa (QS 28:15-16); Harun berdosa (QS 20:93); Daud berdosa (QS 38:24 ); Sulaiman berdosa (QS 38:32,35 ); Yunus berdosa (QS 21:87 ); Muhammad berdosa (QS 48:2; 47:19).

Bagaimana dengan Isa Al-Masih? Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang mengatakan Isa Al-Masih berdosa. Sebaliknya Al-Quran mencatat: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." Kata “suci” hanya ditujukan kepada Isa Al-Masih. Kedatangan-Nya disebut ajaib karena Dia satu-satunya yang dilahirkan oleh seorang perawan (QS 21:91; 66:12), juga memiliki Kebesaran (QS 3:45; 4:171) dan disebut “Kalimat-Nya dan roh dari pada-Nya”.


Yesus Kristus/Isa Al-Masih “Kurban” yang Besar

Dengan demikian Isa Al-Masih adalah satu-satunya yang dapat menjadi kurban yang sebenarnya. Mengapa? Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dan dikirim Allah.

Seperti halnya kurban yang harus terlebih dahulu hidup lama sebelum siap dikurbankan, demikian juga Isa Al-Masih. Ia hidup cukup lama sebelum mengurbankan diri-Nya sebagai tebusan. Kematian-Nya di kayu salib telah membuat darah-Nya tertumpah. Dia adalah lambang tebusan Allah seperti yang dikatakan oleh Nabi Yahya, anak Zakaria: “Ini adalah Anak Domba Allah, yang akan dikurbankan untuk menebus dosa-dosa dunia.”

Kematian-Nya telah memberikan hidup kepada manusia. Ia membangkitkan orang dari kematian sebelum Dia sendiri mati. Dia, yang tidak berdosa telah menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa. Dan menjadi tebusan serta memberi hidup bagi orang berdosa.


Rahasia Berkah Idul Adha!!

Yesus Kristus/Isa Al-Masih bukan hanya satu-satunya yang dapat menjadi kurban, tetapi Dia adalah “kurban besar” itu karena menggambarkan semua sifat kurban itu.

Dengan demikian kita dapat mengerti dalam pengertian yang lebih luas arti rahasia dari ayat “Kami tebusi anaknya itu dengan sembelihan yang besar (seekor domba)” (QS 37:107). Mengapa dia “besar?” Karena pengurbanan besarnya mencakup seluruh umat manusia.

10 komentar:

  1. Ingat, nabi Isa dlm Al Quran tidak pernah mati ditiang salib.
    Nabi Isa bukan korban/berkorban, tp krn ditangkap dan difitnah oleh orang Yahudi bahwa nabi Isa akan memberontak.
    Korban nabi Ibrahim dan nabi Ismael adalah ikhlas karena perintah Allah.
    Anda banyak kesalahan menempatkan ayat Al Quran bukan pada tempatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda sangat BODOH. Dari mana anda tahu bahwa Yesus tidak pernah disalib? Anda pikir anda dapat menilai orang lain dari sudut pandang anda sebagai manusia yang hina dan bernoda? Yesus adalah anak domba yang disediakan ALLAH bagi anda dan bagi saya dan bagi semua orang. Ingat jika anda tidak bisa menerima ke-valid-an INJIL maka orang lain oun tidak akan pernah menerima ke-valid-an alquran

      Hapus
  2. Kalau lagi banyak pikiran saya sempatkan membaca blog ini.. isinya lelucon dan sangat menghibur.. LOL

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar anda sangat tidak jelas, tanpa arah, dan kalimat yang tidak sesuai.

      Hapus
  3. Kalau lagi banyak pikiran saya sempatkan membaca blog ini.. isinya lelucon dan sangat menghibur.. LOL

    BalasHapus
  4. Sungguh mencerahkan disertai dengan kutipan ayat2 jadi bukan karangan atau fitnah. Muhammad bukanlah nabi hal itu tercermin dari perbuatanny. Muhammad Sungguh bertolak belakang dengan Yesus. Dan ketahuilah gelap tidak bisa disatukan dengan terang dan gelap tidak akan menguasai terang. Saran saya kepada teman teman muslim lebih banyak belajar sejarah pra islam supaya anda tau islam itu bagaimana dan dari mana asalnya.

    BalasHapus
  5. Sungguh mencerahkan disertai dengan kutipan ayat2 jadi bukan karangan atau fitnah. Muhammad bukanlah nabi hal itu tercermin dari perbuatanny. Muhammad Sungguh bertolak belakang dengan Yesus. Dan ketahuilah gelap tidak bisa disatukan dengan terang dan gelap tidak akan menguasai terang. Saran saya kepada teman teman muslim lebih banyak belajar sejarah pra islam supaya anda tau islam itu bagaimana dan dari mana asalnya.

    BalasHapus
  6. Artikelnya sungguh mencerahkan.
    Dari sini kita dapat belajar dan mengingat kaitannya dgn peristiwa qurban oleh nabi Ibrahim bahwa:
    - hari raya qurban yg dirayakan saat ini maknanya berbeda dengan tujuan qurban oleh nabi Ibrahim: meminta pengampunan dosa.
    - peringatan/ perayaan sembelihan qurban yg jg disebut hari raya qurban yg dilakukan saat ini ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dgn kegiatan naik haji orang islam jaman dulu maupun jaman sekarang.
    - Ibadah haji adalah warisan agama pagan sbg salah satu ritual penyembahan berhala.
    - peristiwa yg dikisahkan muhammad dlm quran tidak selengkap kisah yg ditulis nabi Musa kurang lebih 1900 tahun sebelumnya.
    - bahwa klaim orang islam anak yg mau dijadikan qurban adalah ismail tidak punya dasar sama sekali karena muhammad juga tidak menyebut nama ismail dalam quran.
    - wahyu awloh dlm surah al fatihah merupakam kekhilafan nabi muhammad terbesar yang lupa bahwa dia harus berakting sbg awloh dlm setiap wahyu, yg menyebabkan sandiwaranya sbg awloh jadi terbongkar shg tiap orang dapat melihat bhw yg berbicara dlm surah itu muhammad pribadi sbg manusia.
    - muhammad nabi palsu
    - awloh swt tuhan palsu
    - alquran kitab palsu
    - akhirnya nyata bhw islam hanya agama palsu yg tidak memiliki hubungan dengan ajaran nabi2 yahudi jaman dulu.

    BalasHapus
  7. Artikelnya sungguh mencerahkan.
    Dari sini kita dapat belajar dan mengingat kaitannya dgn peristiwa qurban oleh nabi Ibrahim bahwa:
    - hari raya qurban yg dirayakan saat ini maknanya berbeda dengan tujuan qurban oleh nabi Ibrahim: meminta pengampunan dosa.
    - peringatan/ perayaan sembelihan qurban yg jg disebut hari raya qurban yg dilakukan saat ini ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dgn kegiatan naik haji orang islam jaman dulu maupun jaman sekarang.
    - Ibadah haji adalah warisan agama pagan sbg salah satu ritual penyembahan berhala.
    - peristiwa yg dikisahkan muhammad dlm quran tidak selengkap kisah yg ditulis nabi Musa kurang lebih 1900 tahun sebelumnya.
    - bahwa klaim orang islam anak yg mau dijadikan qurban adalah ismail tidak punya dasar sama sekali karena muhammad juga tidak menyebut nama ismail dalam quran.
    - wahyu awloh dlm surah al fatihah merupakam kekhilafan nabi muhammad terbesar yang lupa bahwa dia harus berakting sbg awloh dlm setiap wahyu, yg menyebabkan sandiwaranya sbg awloh jadi terbongkar shg tiap orang dapat melihat bhw yg berbicara dlm surah itu muhammad pribadi sbg manusia.
    - muhammad nabi palsu
    - awloh swt tuhan palsu
    - alquran kitab palsu
    - akhirnya nyata bhw islam hanya agama palsu yg tidak memiliki hubungan dengan ajaran nabi2 yahudi jaman dulu.

    BalasHapus
  8. smua penjelasan diatas hanya omong kosong.

    BalasHapus