Minggu, 05 Agustus 2012

Muhamad Dalam Agama Budha

SEDIKIT KLAIM DARI PIHAK ISLAM

Dalam Cakrawati, Senasutana D.III, 76 yang menyampaikan ramalan tentang Mitri dan ramalan ini di ulang kembali dalam sebagian kitab Agama Budha yang mengatakan bahwa akan datang Budha yang bernama “Mitri” yang berarti yang suci, yang terutama, yang bersinar dan penuh dengan pengetahuan, bijaksana, kecerdikan pengetahuan yang menyeluruh  akan menerima wahyu, pengetahuan yanag utama dan ia akan mengajarkan permulaan untuk mencapai tujuannya dan ia akan mengajarkan agama kebenaran. Hal ini berarti akan sama dengan apa yang dikatakan oleh Budha. Namun sang Mitri ini akan memiliki ribuan pengikut sementara sang Budha hanya memiliki ratusan pengikut. Dalam “Buku Buddha oleh Carus-dari sumber Ceylon” Halaman 217 & 218 dikatakan, jika Mitri ini dianalisa berarti sesuatu yang bermanfaat yang memberikan rahmat yang memiliki rasa cinta kasih dalam dirinya. Jadi Mitri berarti “Rahmat” dalam bahasa Arab. Dalam Al-Quran Surat 21 (Al-Anbya) : 107 Allah Berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta  alam (rahmatan lil alamin)”.


Dalam “Buku Keramat Timur, Volume 11 Hal 36 Mahaparinabana Sutta” Bab 2, Ayat 32, menyatakan bahwa Sang Budha tidak akan membedakan pengajarannya kedalam Isoterik dan Esoterik. Budha akan selalu menyatakan kebenaran dan sebagai sang guru pengetahuannya pasti tidak akan disembunyikan, apa yang Budha ajarkan waktu itu bukanlah sesuatu yang sebagian terbuka dan sebagian tertutup. Isi dan kandungan Al-Quran diajarkan oleh Nabi Muhammad di depan Umum dan terbuka dan melarang menyembunyikannya. Dalam Bab 5 Ayat 36 hal 97, dikatakan , seperti halnya Budha yang memiliki “Sarvito” dengan nama “Ananda”  demikian juga Budha Mitri yang akan datang mempunyai “Sarvito”. Sarvito dari Nabi Muhammad adalah seseorang bernama “Anas” , yang diberikan oleh orang tuanya, ayah dan ibunya pada nabi yang mulia di usia 8 tahun dan sang nabi menyebutnya sebagai anak yang tercinta, sikecil tersayang. Dan Anas dikirim oleh Nabi Muhammad saat perang dan damai, saat yang baik dan buruk hingga akhir hidupnya. Bahkan dalam perang Uhud dalam usianya yang ke 11 dia berdiri di depan Nabi dan melindungi beliau saat beliau terkepung oleh Musuh. Bahkan dalam perang Hunain hujan panah menerjang nabi dan Anas berdiri melindungi beliau. Ananda juga melindungi 11 terjangan pada Budha dan ia berdiri didepan Budha. Dalam Buku Buddha oleh Carus  Hal 214 ada 6 kriteria dari Mitri, keenam kriteria menunjuk pada Nabi Muhammad, antara lain yaitu :


  1. Ia akan menerima cahaya petunjuk pada malam hari
  2. Saat menerima pencerahan ia akan bercahaya
  3. Ia akan meninggal dengan cara yang alami dan baik
  4. Saat sang Mitri akan meninggal ia akan kembali bercahaya (bersinar)
  5. Meninggal di malam hari (sesuai Nabi yang ketika meninggal saat malam hari)
  6. Saat meninggal bentuk fisik tidak akan nampak kembali (setelah Nabi Muhammad wafat, gambar/wujud fisik beliau tidak ada, karena Islam melarang wujud Nabi digambar )



TANGGAPAN ATAS KLAIM YANG CUKUP MEMALUKAN INI

tIDAK MUNGKIN Kalo Muhammad itu adalah Bodhisatva (Calon Buddha) Maitreya. Alasannya :

1. Di dalam Sutta, Bodhisatva Maitreya lahirnya di Jambudvipa (Wilayah India).

2. Buddha itu tidak dilahirkan, tapi dicapai, yang dilahirkan itu Bodhisatva.

3. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan tidak akan mungkin beristri, karena nafsunya sudah lenyap, Dia tidak akan melakukan hubungan seksual. Dia hanya beristri sewaktu masih Bodhisatva (belum mencapai kebuddhaan). Sedangkan Muhammad pada masa2 dimana dia disebut Nabi dia kan mengambil istri. Dan katanya punya anak lagi (mengenai anak, tolong dikoreksi kalo salah)

4. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan tidak akan mungkin ikut/pergi berperang apapun alasannya.

5. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan akan menjauhkan hidupnya dari hal-hal duniawi seperti kekuasaan/jabatan dalam pemerintahan.Dia akan menghabiskan hidupnya sebagai seorang Pertapa.

6. Maitreya baru lahir setelah ajaran Sang Buddha Gotama dilupakan orang.

7. Maitreya lahir pada zaman ketika umur manusia rata-rata 80.000 tahun. Hal ini disebabkan Maitreya adalah seorang Bodhisatva yang menonjol dalam Cinta Kasih (Metta/Maitri = > Maitteya/Maitreya [Pali/Sangsekerta]), sesuai dengan Hukum Kamma, orang-orang seperti itu akan lahir dalam keadaan dan lingkungan yang baik.
8. Seorang yang disebut Sang Buddha, hanya akan muncul ketika usia manusia rata-rata berada dalam range 100-80.000 tahun. Seorang Buddha tidak akan muncul ketika usia manusia rata-rata dibawah 100 atau diatas 100.000 tahun. Pada satu masa hanya ada 1 Buddha yang muncul (berhubungan dengan point 6)




Muhammad bukanlah Maitreya
Klaim bahwa Muhammad adalah Maitreya didasarkan pada beberapa kesamaan antara ramalan Buddha Gautama dengan kehidupan Muhammad. Tetapi klaim ini kebanyakan hanya mengada-ada dan menghubung-hubungkan dengan tidak logis. Bahkan klaim ini tidak mempedulikan aspek-aspek dari ramalan Buddha Gautama yang dengan jelas menyebutkan kapan dan dalam kondisi seperti apa seperti apa keadaan Buddha Maitreya muncul. Selain itu, ketidaksesuaian ajaran antara Buddha Gautama dengan ajaran Muhammad dalam hal-hal yang mendasar patut dipertanyakan karena seharusnya ajaran Buddha dari masa ke masa adalah sama.

Tulisan ini bukan bertujuan untuk menjelek-jelekkan agama lain, tetapi untuk memberi penjelasan berdasarkan kitab-kitab suci Buddhis kenapa Muhammad tidak mungkin adalah Maitreya. Fokus tulisan ini karena itu adalah perbedaan fakta sejarah kehidupan Muhammad dengan ramalan Buddha Gautama dan perbedaan ajaran antara Islam dan Buddhisme yang sangat mendasar.

A. Ketidakcocokan dengan ramalan
Buddha Maitreya akan datang setelah ajaran Buddha Gautama dilupakan Suatu hari ketika Buddha Gotama tinggal di hutan Banyan di Kapilavastu, Bhikkhu Sariputta mendekati beliau dan mengajukan pertanyaan kepada Buddha tentang Buddha yang akan datang. Dia berkata:
“Pahlawan yang akan mengikuti Anda sebagai Buddha, seperti apakah Dia? Berdasarkan catatan semata, aku tidak dapat memahami. Nyatakanlah kepadaku, Yang Mahatahu.”

Buddha kemudian menyatakan :
“… siklus Kami adalah siklus yang bahagia. Ketiga pemimpin Buddha sudah pernah hidup Pemimpin Buddha Kakusandha, Konagamana dan Kassapa Buddha sekarang adalah Aku
Namun setelah Aku, Maitreya akan datang Sementara siklus yang bahagia ini masih berlangsung…” (Anagata-vamsa, Chronicles of Future Buddhas) “Setelah kepergianku, lebih dahulu akan ada kemerosotan dan pelenyapan ajaranKu. Ini akan terjadi dalam 5 tahap:
Lenyapnya pencapaian. Ketika tidak ada lagi bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian
Lenyapnya metode. Ketika tidak ada lagi Bhikkhu yang menjalankan peraturan para Bhikkhu yang berjumlah 227. Jumlah peraturan yang diikuti akhirnya hanya akan ada 4 (4 parajika, peraturan yang paling dasar) dan setelah tidak ada bhikkhu yang menjalankan 4 parajika, metode lenyap. Lenyapnya ajaran. Ketika Tripitaka lenyap dari dunia dan manusia tidak mampu mengingat 4 baris syair Dharma:

Jangan berbuat jahat

Sempurnakan kebajikan

Sucikan hati dan pikiran


Itulah ajaran para Buddha
Lenyapnya simbol-simbol. Ketika Bhikkhu-bhikkhu merosot cara hidupnya, menanggalkan jubah dan memakai carikan kain kuning. Mereka akan berdagang dan menikah. Ketika mereka membuang carikan kain kuning dan mulai melakukan pembunuhan terhadap binatang, simbol telah lenyap. Lenyapnya relik-relik. Setelah 5000 tahun, relik-relik Buddha akan gagal mendapatkan penghormatan yang semestinya. Relik-relik tersebut tidak akan dihormati dimanapun. Relik-relik itu akan terbakar dengan sendirinya tanpa meninggalkan sisa setelah melakukan keajaiban-keajaiban yang disaksikan oleh para dewa.

Yang dapat dilihat secara jelas adalah bahwa saat ini Para anggota sangha, para bhikkhu masih memakai jubah dan menjalankan peraturan-peraturan kebhikkhuan secara lengkap, ajaran Buddha dalam tripitaka masih lengkap, dan relik-relik Buddha masih dihormati di banyak tempat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat lama.

Siapapun yang mengklaim dirinya atau orang lain sebagai Maitreya pada saat ini jelas tidak dapat dipercaya. Muhammad lahir pada tahun 570 Masehi, sekitar 1000 tahun setelah Buddha Gautama. Sedangkan Ajaran Buddha baru akan hilang 5000 tahun setelah Buddha.
Buddha Maitreya akan datang setelah masa kegelapan berlalu

Menurut Cakkavati Sihanada Sutta, disebutkan bahwa setelah Ajaran Buddha hilang dari dunia, akan terjadi masa kegelapan dimana umur manusia semakin berkurang karena moral manusia menurun: “Para bhikkhu, demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas… mencuri… kekerasan… pembunuhan… berdusta… memfitnah… perzinahan… kata-kata kasar dan membual… iri hati dan dendam … pandangan sesat… berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu… hingga kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada pemimpin masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal-hal ini berkembang dan meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 100 tahun.

Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur lima tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka ini, biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik. Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik — Siapa yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan kepada para pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana dan pertapa serta patuh kepada para pemimpin, namun pada masa orang-orang… yang batas usia kehidupan mereka hanya 10 tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.

Para bhikku, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan kambing, domba, burung, babi, anjing dan srigala.
Di antara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan menjadi hukum, perasaaan yang benci yang hebat, dendam yang kuat serta keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya… Hal ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.

Para bhikku, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka 10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir: ‘Individu ini adalah binatang liar.’ Dengan pedang mereka saling membunuh.
Sementara itu ada orang-orang tertentu yang berpikir: ‘Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam belukar, ke dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam gua gunung dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan.’ Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan gua, mereka akan saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan berkata: ‘O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih hidup!’

Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan-keinginan sebagai berikut : ‘Karena kita melakukan cara-cara yang jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara. Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan.’ Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 20 tahun.

Para bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun: ‘Sekarang, karena kita mengikuti dan melaksanakan kebajikan maka batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak memfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan sesat, kita berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut, yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orang tua kita, kita menghormati para samana dan pertapa serta kita patuh kepada pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan ini.’

Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan kebajikan: tidak mengambil apa yang tidak diberikan… berbakti kepada ke dua orang tua, menghormat para samana dan pertapa serta patuh kepada pemimpin masyarakat. Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun; ….
anak-anak mereka mencapai 160 tahun;… anak-anak mereka mencapai 320 tahun;… anak-anak mereka mencapai 640 tahun;… anak-anak mereka mencapai 2.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 20.000 tahun; anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan mereka yang pada masa itu hanya berbatas usia kehidupan 40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun.”
Jadi sebelum Budha Maitreya datang, akan ada masa kegelapan dimana usia manusia sangat rendah, ketidakbajikan merajalela, incest tidak dilarang, dan terjadi pemusnahan besar manusia karena mereka saling membunuh.
Karena masa kegelapan ini belum datang, maka jelas bahwa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat jauh.

Buddha Maitreya akan datang dalam masa kemakmuran
“Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 80.000, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya akan ada tiga macam penyakit — keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan orang-orang ini, Jambudipa — bagaikan avici — akan penuh dengan penduduk bagaikan hutan yang dipenuhi semak belukar. Pada masa kehidupan orang-orang ini, kota Baranasi yang kita kenal sekarang akan bernama Ketumati yang merupakan kota kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup. Pada masa kehidupan orang-orang ini, di Jambudipa akan terdapat 84.000 kota dengan Ketumati sebagai ibu kota.

Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati, ibu kota kerajaan, akan muncul seorang raja Cakkavatti bernama Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan kebenaran, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyatnya dan pemilik tujuh macam permata, yaitu: cakka, gajah, kuda, permata, wanita (istri), kepala rumah tangga dan panglima perang. Ia akan memiliki keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan ksatriya-ksatriya digjaya, penakluk musuh-musuh. Ia akan menguasai dunia sampai ke batas lautan, tetapi ia menguasai dunia ini bukan dengan kekerasan atau dengan pedang melainkan dengan kebenaran.

Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya (Maitreya), yang sempurna dalam pengetahuan dan pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, yang sadar serta yang patut dimuliakan, yang sama seperti saya sekarang. Ia, dengan dirinya sendiri akan mengetahui dengan sempurna dan melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma, mara, serta para samana, para pertapa, para pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang saya tahu dengan sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhikkhu sangha, seperti saya sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus bhikkhu sangha.”
Bisa dilihat bahwa pada saat ini,

- Tidak ada raja yang sangat berkuasa bernama Sankha yang memerintah dengan adil. Di zaman Nabi Muhammad juga tidak ada raja seperti itu

- Usia manusia belum mencapai 80.000 tahun

- Kehidupan manusia belum semakmur seperti yang diceritakan dalam Cakkavati Sihanada Sutta, dimana tidak ada perang dan kebanyakan penyakit hilang.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedatangan Buddha Maitreya tidak mungkin terjadi sekarang.


Apalagi umur Nabi Muhammad SAW tidak sampai 80.000 tahun. Padahal Buddha Gautama mengatakan:
“Usia Buddha Maitreya adalah 80.000 tahun. Berada di dunia, beliau akan membawa banyak orang menyebrang”

Seorang Buddha mempunyai 32 tanda manusia besar.

Seorang Buddha di masa lalu maupun masa yang akan datang akan memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Ciri-ciri ini berjumlah 32, dan terdapat dalam kitab-kitab Veda agama Hindu sebagai Maha Purisa Lakkhana (Tanda-tanda manusia agung). Buddha Gautama menjelaskan tentang hal ini dalam Lakkhana Sutta (Sutta Pitaka,Digha Nikaya): “Para bhikkhu, apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), … maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:

1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.
2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).
4. Jari-jari panjang (digha-anguli)
5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).
8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)
9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).
11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno)
12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit
13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).
16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.
20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).
21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
24. Gigi-geligi rata (sama-danto).
25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.
29. Mata biru (abhinila netto).
30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).”

Seseorang yang ingin mengklaim bahwa dirinya adalah Buddha, harus mempunyai 32 tanda ini. Muhammad tidak pernah disebutkan memiliki tanda-tanda tersebut. Kita memang tidak dapat membuktikan apakah Muhammad mempunyai ciri-ciri tersebut karena tidak ada gambaran fisik tentang Muhammad yang dilestarikan oleh umat Islam.

Proklamasi kedatangan Buddha Maitreya
Sebelum Bodhisattva Maitreya lahir terakhir kalinya sebagai manusia, para dewa dan Brahma akan mengumumkan kedatangannya 1000 tahun sebelumnya. Umat manusia yang pada saat itu masa hidupnya berusia 80.000 tahun akan hidup dalam penantian 1000 tahun lamanya sebelum Buddha Maitreya benar-benar lahir.

(Seorang Calon Buddha disebut Bodhisattva sebelum mencapai pencerahan sempurna)


Buddha Maitreya dilahirkan dan dibesarkan dalam beberapa kondisi
· Boddhisattva akan menjadi anak dari Kepala Pendeta Kerajaan, yang bernama Subrahma, dan ibunya akan bernama Brahmavati (disebutkan dalam Visudhi Magga Bab XIII, 127)
· Beliau akan dinamai Ajita, dan akan memiliki 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan yang biasa dimiliki oleh Raja Dunia dan Buddha (daftar 80 tanda minor ada dalam pendahuluan Dasabodhisattuppattikatha/ The Birth-stories of the Ten Bodhisattas)
· Kondisi kelahiran yang menakjubkan:
Ibunya melahirkan Beliau dalam keadaan berdiri dan di dalam hutan. Bodhisattva akan dilahirkan di taman rusa Isipatana…Ia dilahirkan tanpa noda…Segera setelah lahir beliau akan berjalan ke utara, memeriksa empat penjuru, dan mengumumkan bahwa beliau adalah yang termulia di dunia…tujuh hari setelah Bodhisattva dilahirkan, ibunya meninggal dan terlahir di alam dewa Tusita.
· Beliau akan menjalani kehidupan sebagai perumah tangga selama 8000 tahun.
· Beliau akan mempunyai empat istana yang bernama Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha, and Candaka. Ia akan mempunyai 100.000 gadis penari.
· Istrinya akan bernama Candamukhi (Dasavatthuppakarana) dan anaknya bernama Brahmavaddhana

Jelas sekali Muhammad tidak memenuhi semua ramalan di atas.
Muhammad tidak mungkin lahir di hutan. Di Arab tidak ada hutan
Muhammad tidak bernama Ajita. Ia bukan anak kepala pendeta kerajaan
Semua Buddha segera setelah lahir langsung dapat berjalan dan berbicara, sementara tidak ada catatan Muhammad melakukan hal yang sama.
Ibunya meninggal pada waktu Muhammad berusia 6 tahun, bukan 7 hari
Muhammad tidak punya istana dan gadis penari, nama istri dan anaknya juga beda.

Bandingkan dengan fakta historis Muhammad di bawah:
Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hâsyim bin ‘Abd al-Manâf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b.[1]
Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin ‘Abd Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b.[1]
Istrinya bernama Khadijah (dan lain-lain) dan anaknya bernama Fatimah.
Buddha Maitreya dan pengikutnya meninggalkan keduniawian
“He will become averse to sensual pleasures. Not looking for the unsurpassed, great happiness and bliss in seeking honour, he will go forth.” (Anagata-vamsa)
“kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang” (Cakkavati Sihanada Sutta)

Semua Bodhisattva memutuskan untuk meninggalkan keduniawian setelah mereka melihat empat tanda (orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa), dan setelah mereka mendapatkan seorang putra. Cerita Bodhisattva Ajita secara detil diceritakan dalam Dasabodhisatta- uddesa:

Pada umur delapan ribu tahun, Bodhisattva akan mengendarai kereta yang mirip istana dewa dan ketika beliau pergi ke taman istana, beliau akan melihat empat tanda. Beliau akan mengembangkan perasaan tidak puas pada dunia, dan melepaskan keduniawian.
Beliau akan mencukur rambut dan memakai jubah kuning. Bodhisattva kemudian akan pergi ke salah satu istananya. Diikuti oleh para pengikutnya (yang mencontoh beliau meninggalkan keduniawian), beliau akan duduk di bawah pohon Naga dan bermeditasi selama 7 hari sebelum mencapai pencerahan sempurna.

Seperti Buddha Gautama yang meninggalkan keduniawian, meninggalkan anak dan istri dan menjadi pertapa, begitu pulalah yang dilakukan oleh Buddha Maitreya.
Disini terlihat perbedaan yang sangat mencolok karena seperti yang kita tahu bahwa:
· Muhammad tidak meninggalkan keluarganya sewaktu mendapatkan wahyu pertama
· Muhammad tidak hidup selibat, ataupun memakai jubah pertapa, dll
· Muhammad malah kawin lagi, mengambil 9 istri (minimal) setelah kematian istri pertamanya.
· Muhammad mendapat wahyu di dalam gua, bukan di bawah pohon.
· Muhammad menjadi pemimpin politik dan menguasai daerah-daerah. Hal ini juga terus dilakukan oleh penerusnya, para kalifah.

Hal ini sangatlah berbeda dengan ramalan Buddha Gautama yang mendeskripsikan Maitreya sebagai penerusnya yang akan hidup dengan cara yang mirip dan mengajarkan ajaran yang sama. Satu dari teks awal yang menyebutkan Maitreya adalah teks Sansekerta, Maitreyavyakaraṇa (The Prophecy of Maitreya), yang menyatakan bahwa dewa, manusia, dan makhluk lain akan memuja Maitreya dan:

“akan hilang rasa ragunya, dan arus nafsu keinginan mereka akan terpotong; bebas dari penderitaan mereka akan menyebrang lautan kelahiran kembali; dan, sebagai hasil dari ajaran Maitreya, mereka akan menjalani kehidupan suci. Tak akan lagi mereka menganggap apapun sebagai milik mereka, mereka tidak akan mempunyai kepemilikan, tak ada emas atau perak, tak ada rumah, tak ada keluarga! Tapi mereka akan menjalankan kehidupan suci selibat di bawah petunjuk Maitreya. Mereka akan merobek jaring nafsu, mereka akan dapat memasuki samadhi, dan mereka akan mendapat banyak kebahagiaan karena mereka menjalankan kehidupan suci di bawah bimbingan Maitreya. (Trans. in Conze 1959:241)

http://id.wikipedia.org/wiki/maitreya
Buddha Maitreya datang pada saat keadaan dunia berubah Kedatangan Maitreya ditandai oleh beberapa kejadian fisik. Lautan diprediksi akan berkurang ukurannya, yang membuat Maitreya dapat menyebrang secara bebas. Di dalam Buddhavacana Maitreya Bodhisattva Sutra disebutkan:

“O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari keempat lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi, persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih”

Buddha Maitreya memiliki fisik yang berbeda dengan manusia masa kini. Dikisahkan bahwa karena kebajikan mereka, manusia di masa depan akan berkembang tubuhnya. Badan mereka akan menjadi sangat besar. Badan manusia masa sekarang kecil karena banyak melakukan ketidakbajikan.

Many details are given about the physical appearance of Buddha Metteyya. He will be eighty-eight cubits high. His chest will be twenty-five cubits in diameter. There will be twenty-two cubits from the soles of his feet to the knees, from the knees to the navel, from the navel to the collar bone, and from the collar bone to the apex of his head. His arms will be twenty-five cubits long. The collar bones will be five cubits. Each finger will be four cubits. Each palm will be five cubits. The circumference of the neck will be five cubits. Each lip will be five cubits. The length of his tongue will be ten cubits. His elevated nose will be seven cubits. Each eye socket will be seven cubits. The eyes themselves will be five cubits. The Anagatavamsa says his eyelashes will be thick, that the eyes will be broad and pure, not winking day or night; and that with his physical eye, he will be able to see large and small things all around for ten leagues without obstruction. The space between the eyebrows will be five cubits.(126) The eyebrows will be five cubits. Each ear will be seven cubits. The circumference of his face will be twenty-five cubits. The spiral of the protuberance on his head will be twenty-five cubits.

10. Maitreya bukanlah yang terakhir
Muslim percaya bahwa Muhammad adalah nabi terakhir bagi dunia. Hal ini ditegaskan oleh Muhammad sendiri. Namun menurut Buddhis, Maitreya bukanlah yang terakhir karena masih akan ada Buddha yang lain.

Uttamo Metteyyo Ramo Pasenadi Kosalo ca
Abhibhu Dighasoni ca Candani ca Subo Todeyyabrahmano
Nalagiri Palaleyyo bodhisatta anukkamena
Sambodhim labhanti anagate.
Buddha Gotama predicted as follows:
In the future (ten) Bodhisattas will attain full awakening in the following order:
the most honourable (Ariya) Metteyya,(King) Rama, (King) Pasenadi of Kosala, (the Deva) Abhibhu, (the Asura Deva) Dighasoni, (theBrahman) Candani, (the young man) Subha, the Brahman Todeyya, (theelephant) Nalagiri, and (the elephant) Palaleya.(Anagatavamsa, bait pertama)

Ketidakcocokan ajaran
1.Kelahiran kembali dan karmaSalah satu perbedaan besar ajaran Buddha dan ajaran Muhammad adalah mengenai masalah kelahiran kembali dan Karma. Buddha Gautama dengan sangat spesifik menyatakan bahwa kelahiran kembali adalah pasti, dan lebih jauh menceritakan banyak kelahiran-Nya yang terdahulu.Catatan mengenai kelahiran terdahulu Siddharta Gautama ini terkumpul di banyak tempat di Tripitaka. Contohnya:Jataka (Theravada). Kitab yang menceritakan kisah 547 kelahiran Bodhisattva yang terdahulu.Jatakamala (Mahayana). Kitab Jataka versi Mahayana dengan cerita yang lebih sedikit tetapi lebih mudah dimengerti dan lebih menekankan aspirasi pencapaian KeBuddhaan. Sutra Tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Mahayana). Menceritakan banyak cerita kelahiran kembali dan hukum sebab akibat (karma) yang dialami oleh Bodhisattva maupun murid-murid Buddha pada kelahiran sebelumnya.Semua kitab di atas menceritakan kisah yang sama, yaitu bagaimana seorang Bodhisattva harus berjuang melalui banyak kelahiran untuk menyempurnakan kualitas-kualitas baik dan perbuatan bajiknya. Perbuatan bajik yang tidak mungkin dapat disempurnakan dalam satu kelahiran. Kesempurnaan (Paramita) yang disempurnakan melalui kelahiran yang tak terhitung jumlahnya. Kesempurnaan Berdana (Perfection of giving) misalnya, dicapai ketika Bodhisattva memberikan:

a. Hartanya, anak-anaknya, dan istrinya (Vessantara Jataka)b. Organ tubuhnya (Maitribhala Jâtaka – Kisah Tentang Kekuatan Belas kasih)c. Hidupnya. (contoh: Vyaghri Jataka)Muhammad tidak pernah memberikan ajaran tentang bagaimana tidak mementingkan diri sendiri dan memberikan hidup sendiri untuk kebahagiaan orang lain.Apa yang diajarkan Muhammad sangatlah berbeda. Ia mengajarkan akhir jaman (kiamat) yang serupa dengan agama Kristen dan Yahudi dimana semua orang akan diadili sesuai perbuatannya pada masa hidupnya. Manusia hanya hidup satu kali. Tak ada hukum karma yang berlanjut di kehidupan mendatang.



2. Beliau akan menceritakan Buddha Gautama secara jelas dan mendetil
Buddha Maitreya akan secara jelas menceritakan kisah-kisah mengenai Buddha sebelumnya, termasuk Buddha Gautama. Seperti juga Buddha Gautama yang telah menceritakan secara jelas 24 Buddha sebelum Beliau.“He will tell the story of one of his past lives (Jataka) whenever necessary, and he will teach the Buddhavamsa (The Chronicle of Buddhas) to a gathering of his relatives.”Para bhikkhu, berdasarkan pengertiannya yang sempurna tentang Dhamma-dhatu, maka Tathagata dapat mengingat kembali para Buddha yang lampau. Karena ia telah mencapai kesempurnaan, telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah menghancurkan semua rintangan, telah memutuskan lingkaran kehidupan dan terbebas dari penderitan. Demikianlah, sehingga ia dapat mengingat kelahiran para Buddha, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, panjang usia kehidupan mereka, pasangan murid utama mereka, bhikkhu pembantu mereka, kelompok bhikkhu yang datang berkumpul; maka ia dapat berkata: “Demikian itulah kelahiran dari para Bhagava, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, sila (moral) mereka, Dhamma mereka, kebijaksanaan mereka, bagaimana mereka hidup dan bagaimana mereka mencapai kesucian.”
(Mahapadana Sutta, Digha Nikaya)Kenapa Buddha Maitreya menceritakan secara detil tentang Buddha Gautama? Karena mereka pernah bertemu secara langsung dalam beberapa kehidupan. Salah satu pertemuan tersebut diceritakan dalam Vyaghri Jataka, dimana Buddha Maitreya waktu itu adalah siswa senior pertapa yang merupakan kelahiran terdahulu Buddha Gautama. (At different stages of perfection two Bodhisattas may happen to be reborn at the same vicinity at some very rare moments in their life’s journey).
Nah, Muhammad tidak pernah menceritakan Buddha Gautama dan Buddha-Buddha sebelumnya yang telah diceritakan oleh Buddha Gautama. Maka, sangatlah diragukan apakah Muhammad adalah penerus Buddha Gautama. Padahal Buddha Maitreya dengan sangat jelas diramalkan sebagai penerus garis sislsilah Buddha.



3. Ahimsa dan cinta terhadap semua makhlukNama Maitreya (sansekerta, bahasa pali: Metteya) berasal dari kata Maitri (pali: Metta) yang artinya cinta kasih. Maitreya berarti `Ia yang memiliki cinta kasih’. Seorang yang diklaim sebagai Maitreya seharusnya mempunyai cinta kasih yang sangat istimewa.Dikatakan bahwa ajaran Buddha Gautama menekankan pada pengembangan kebijaksanaan dan ajaran Buddha Maitreya akan menekankan pada cinta kasih. Bukan berarti Maitreya memiliki cinta kasih yang lebih daripada Buddha Gautama dan Buddha Gautama lebih bijaksana. Cinta kasih dan kebijaksanaan semua Buddha adalah sama, yang berbeda hanyalah pada penekanan ajaran.

Tidaklah cukup mengatakan bahwa Muhammad dan ajarannya, Islam, memiliki cinta kasih, atau Tuhan agama mereka adalah Maha-Pengasih, dll, untuk menyamakan Muhammad dan Maitreya. Masalahnya cinta kasih yang dimengerti dalam ajaran Buddha tidaklah sama dengan cinta kasih yang dimengerti pada umumnya.

Cinta kasih dalam ajaran Buddha berarti cinta kasih pada semua makhluk di dunia, bahkan terhadap serangga terkecil sekalipun.“Tak berbuat kesalahan walaupun kecilYang dapat dicela oleh para bijaksanaHendaklah ia berpikirSemoga semua makhluk berbahagia dan tentramSemoga semua makhluk berbahagiaMakhluk hidup apa pun juga,Yang lemah dan kuat tanpa kecualiYang panjang atau besar,Yang sedang, pendek, kecil, atau gemukYang tampak atau tak tampak,Yang jauh atau pun dekatYang telah lahir atau akan lahirSemoga semua makhluk berbahagia….Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya Melindungi anaknya yang tunggalDemikianlah terhadap semua makhlukDipancarkankannya pikiran kasih sayangnya tanpa batas(Karaniya Metta Sutta – Khotbah tentang pengembangan cinta kasih)

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Muhammad bukanlah Maitreya penerus Buddha Gautama. Kenapa? Karena Buddha Maitreya seharusnya mengajarkan praktek pengembangan cinta kasih yang minimal sama dengan Buddha Gautama. Sehingga Maitreya juga akan mengajarkan cinta pada semua makhluk dan mengajarkan ahimsa (tanpa kekerasan). Pembunuhan makhluk lain akan dicela sebagai perbuatan buruk dan mengakibatkan karma negatif.

Sementara Muhammad tidak mengajarkan hal tersebut. Bahkan membunuh manusia dan perang dalam kondisi tertentu diperbolehkan, apalagi membunuh binatang. Muhammad dikatakan menyukai beberapa binatang (contohnya Unta) dan melarang mereka dibunuh. Tetapi beberapa binatang dibunuh dengan sengaja. Contohnya, dalam Islam, ada upacara kurban yang membunuh banyak ternak yang merupakan upacara religius wajib.Upacara kurban sangat bertentangan dengan konsep cinta kasih kepada semua makhluk. Upacara kurban juga secara spesifik ditentang/dikritik oleh Buddha Gautama. Buddha berkata bahwa upacara kurban yang benar dan mulia adalah:

“Brahmana, dalam pelaksanaan upacara tidak ada sapi, kambing, unggas, babi yang dibunuh atau tidak ada makhluk hidup mana pun yang dibunuh. Tidak ada pohon yang ditebang untuk dijadikan tiang, tidak ada rumput ‘Dabba’ yang disabit dan diletakkan di sekeliling tiang. Para pekerja dan pembantu atau pekerja yang bekerja, tidak ada yang diancam dengan cambuk atau tongkat, sehingga tidak ada tangisan maupun air mata bercucuran di wajah mereka. Siapa yang ingin membantu, ia bekerja; ia yang tidak mau membantu, tidak bekerja. Setiap orang melakukan sesuai apa yang ia inginkan; melakukan atau tidak melakukan.

Upacara dilaksanakan dengan hanya menggunakan ghee, minyak, mentega, susu, madu dan gula.(Kutadanta Sutta –Sutta Pitaka Digha Nikaya)Dalam salah satu kisah jataka juga disinggung tentang upacara kurban dimana upacara pengorbanan hewan dikatakan sebagai hal yang sia-sia.

4. Tentang TuhanBuddhisme jelas-jelas menolak ide tentang Tuhan Pencipta. Hal ini telah berkali-kali ditegaskan oleh Buddha Gautama dalam banyak khotbah. Buddha dengan sendirinya juga menolak metode-metode agama lain yang menawarkan penyatuan dengan Tuhan. Tuhan di India waktu itu dipanggil dengan nama Brahma. Contoh hal ini ada di Tevijja Sutta (khotbah tentang tiga pengetahuan) dimana Buddha mengkritik metode-metode Hindu yang dikatakan dapat membawa penyatuan dengan Brahma. Definisi Buddhism tentang Tuhan sama sekali berbeda dengan definisi agama lain

1 komentar:

  1. gw pro dgn uraian di atas tp yg terakhir no 4) apa maksudnya bhwa maitreya tdk mngakui adanya Tuhan. gw beragama buddha en yg gw tau klo smbahyang gw mnyembah dr tingkat pling atas sampai bawah . gw ga bgtu ngerti urutannya tp yg jelas pertama ttp Tuhan-buddha-bodisatwa(mngkin setara dgn dewa dlm hindu) lalu para pnjabar agung ( trmsuk muhamad yesus) para2 guru yg berjasa dgn pngajaranny para2 leluhur sampai kpd orang tua . kmi brsujud krn kmi sadar kmi berada tingkat pling bawah.. gw yakin roh itu abadi leluhur dr generasi ke generasi sebelumny ga musnah dgn brbagai mcm cara kbyakan org mmberi pnghormatan dgn ritual mlalui dupa yg di anggap pnyembah berhala oleh umat muslim yg tdk tau apa2. gw yakin dgn mnundukkan kepala mmberi hormat kpd leluhur jg dewa2 itu bkn dosa (yg di blng murtad/kafir oleh umat muslim) kelak roh gw ini mninggalkn raga gw yakin penerus2 gw jg mmberi hormat ma gw.

    BalasHapus