Selasa, 14 Agustus 2012

Nama Sesembahan Bag I


oleh : Kristian Sugiyarto
1.       Kata Benda dan Nama
 Menurut Wenham (The Elements of NT Greek), noun (kata benda) berasal dari bahasa latin nomen yang artinya nama dari segala sesuatu.  Ada 4 macam noun  yakni proper noun, common noun, collective noun dan abstract noun; dan yang kita diskusikan ini hanya 2 pertama saja yang terkait.
(1). Proper noun is the name appropriated to any particular person, place or thing (Latin proprius - belonging to a person); jadi kata benda ini memiliki sifat definit intrinsik, artinya sama sekali tidak memerlukan kata bantu artikel definit, “awalan” the (Inggris) – ha (Ibrani) – ho (Yunani), atau “akhiran” a - alef (Aramaik) untuk mengidentifikasi dirinya sendiri. Dengan mudah dapat dikenali bahwa nama-nama diri baik, nama-nama personal (YHWH, Abraham, dsb.), nama-nama tempat (misalnya Yerusalem, Yordan, dsb.), kejadian khusus yang tak ada duanya (misalnya Paskah, dsb.) adalah termasuk proper noun, dan itu sebabnya nama-diri sering disebut sebagai proper name

(2). Common noun is the name which all things of the same kind have in common (Latin communis – belonging to all); jadi nama (benda) ini menunjuk pada sesuatu yang semuanya ada atau semuanya memilikinya, misalnya saja kata kota, negara, saudara, meja, tuhan, elohim, sultan, setiap bahasa memiliki nama-nama tersebut. Oleh karena beberapa contoh menunjuk pada unique appellative - sebutan yang unik,  maka sering pula disebut sebagai nama generik, artinya nama yang diturunkan dari hal yang sama tadi. Jadi Elohim (Ibrani), Ilah (Arab), Elah (Aramaik), Teos (Yunani), God (Inggris), Tuhan (Indonesia), semuanya untuk menunjuk hal yang sama yakni sebutan untuk personal sesembahan. 

Cara yang paling mudah untuk mengenali common noun adalah adanya unsur-unsur bentuk jamak-tunggal, bisa mendapat kata sandang, dan akhiran posesif- ku/mu/nya /mereka/dst., dan sebaliknya bagi proper noun-proper name, tidak ada bentuk jamak-tunggal, tidak bisa mendapat kata sandang dan akhiran posesif. 

2.       Nama Sesembahan menurut Kitab Suci
 Alkitab Ibrani Tenakh (PL) secara keseluruhan mencatat adanya berbagai “title” untuk “sesembahan” umat manusia yang terkait dengan posisinya sebagai “Sang Pencipta / Yang Absolut”. Sebutan atau “term” yang digunakan dalam bahasa Ibrani adalah: 

(1) Elohim (bentuk jamak, muncul sekitar 2360 kali), Eloah (bentuk tunggal, sekitar 50 kali);
(2) El (bentuk tunggal muncul sekitar 250 kali, bentuk jamaknya elim, sekitar 3 kali), dan
(3) dalam bahasa Aram, Elah (bentuk tunggal sekitar 26 kali, bentuk jamaknya elahin, sekitar 9 kali).

  Semua term untuk “sesembahan” tersebut yang biasanya diterjemahkan secara umum sebagai (the true) God atau Tuhan adalah Elohim-Eloah, El dan Elah; jadi, semuanya bentuk tunggal dan hanya bentuk jamak Elohim saja yang menunjukkan the true God, sedangkan bentuk jamak elim dan elahin (ditulis dengan huruf kecil) selalu menunjuk pada the false god (tuhan-dewa-ilah). 

 Semua term tersebut muncul dalam bentuk bebas, yakni Elohim (sekitar 680 kali), maupun dengan artikel-kata sandang, ha (the) kecuali Eloah, ha Elohim (sebanyak kurang lebih 360 kali untuk sesembahan yang benar, true God), dan 7 kali untuk false god-dewa-ilah (ha elohim), dan ha El (sebanyak 20 kali).

  Bentuk jamak, elim (yang juga berarti ram = domba jantan), diterjemahkan the mighty (Ayub 41:17; Mazm 29:1) dan gods (Dan. 11:36, “..El of elim” = God of gods).  Mazm. 89: 6, “sons of elimoleh LAI diterjemahkan “penghuni surgawi”, namun oleh YLT (Young Literal Translation) diterjemakan “sons of the mighty”, dan oleh Geneva Bible-GNV diterjemahkan “sonnes of the gods”.  

 Term Elohim dan El, keduanya juga muncul secara construct, dengan suffix posesif, “mereka-kami-kita-dia” dan “of”; Elohim dengan construct-suffix ini muncul sekitar 1300 kali, dan untuk El dengan suffix  ku”, Eli, muncul sekitar 12 kali.
                       
 Term Elah dalam bentuk bebas muncul sekitar 21 kali, dan sebagai Elahahon (Elah mereka) 3 kali; sedangkan elah yang menunjuk the false god (dewa-ilah-tuhan) tercatat 3 kali; bentuk jamak elahin, hanya menunjuk pada the false gods sebanyak 9 kali. Elaha (dengan the Aramaic article suffix, ‘alef) muncul 30 kali.
                       
  Selain itu dikenal pula term Adonai-Adon yang pada awalnya nampaknya ditujukan untuk “panggilan” bagi seseorang yang mempunyai posisi sebagai “majikan”, sehingga sering diterjemahkan sebagai Tuan, Mister, Master; pada zaman patriak, posisi majikan relatif terhadap hamba/budaknya sedemikian tingginya sehingga nyawa seorang hamba pun berada dalam “genggaman” majikannya. Kenyataan bahwa term Adonai ini dikenakan kepada Sang Pencipta, maka sebutan bagi-Nya menjadi superlatif atas Tuan dan nampaknya dalam bahasa Indonesia berubah menjadi Tuhan. Term Adon juga mempunyai bentuk jamak, Adonim. Sebutan ini muncul secara variatif, baik dalam bentuk bebas (Adon), maupun terikat, dengan “akhiran-suffix” berfungsi posesif/milik (misalnya Adonai-ku) dan dengan kata sandang-artikel ha (the) baik bentuk tunggalnya, ha Adonai, maupun bentuk jamaknya ha adonim. 

  Alkitab mencatat satu-satunya nama pribadi (proper name) untuk Tuhan (hanya for the true God) yakni YHWH (baca YAHWEH) yang muncul sebanyak kurang lebih 6800 kali, suatu jumlah yang jauh melebihi keempat term sesembahan di atas. Nama YHWH yang muncul secara eksplisit sejak awal sebagai Sang Pencipta (Kej 2:5), muncul secara variatif, baik bebas (mandiri), sebagai nama compound (gabungan) dengan term-term di atas misalnya YHWH Elohim dan Adonai YHWH, maupun dengan berbagai atribut (gelar) seperti YHWH Yireh, YHWH Nissi dsb. Selain itu terdapat term YH (baca Yah) yang umumnya dipahami sebagai bentuk pendek dan bentuk “puitis” dari proper name YHWH.  Term YH ini muncul sebanyak 49 kali: secara bebas YH sebanyak 19 kali, terikat sebagai “akhiran” dalam frase haleluYH sebanyak 26 kali, dalam bentuk compound YH YHWH sebanyak 2 kali, dan pengulangan YH YH 1 kali.  

  Keempat term sesembahan tersebut, Elohim, Elah, El, dan Adonai selalu mempunyai bentuk jamak-tunggal, hadir tanpa maupun dengan artikel ha (the), dan dapat menunjuk baik bagi the true God maupun false god(s); oleh karena itu dapat dipahami bahwa term tersebut adalah term generik (umum), yang juga dipakai bagi para penyembah berhala (pagan).  Tambahan pula term-term itu dapat hadir pula dalam bentuk terikat-construct, untuk melukiskan posesif /kepemilikan atau “of” sebagai suffix-akhiran, misalnya Elohim-ku/mu/nya/mereka-Israel menjadi Eloheka (Elohim-mu), Elohe Yisrael (Elohim of Israel); El menjadi Eli (El-ku) Elah menjadi Elahahom/Elahahon (Elah-mereka), Elahakom/Elahakon (Elah-mu), Elahana (Elah-kami). Kenyataan demikian ini dalam konteks seluruh Alkitab tidak mungkin term-term tersebut “disejajarkan” dengan YHWH yang hadir selalu sebagai “proper noun” sedangkan keempat term tersebut, “common noun” sebagaimana dalam parsing menurut WTT BibleWorks 6. 

  Term-term tersebut yang muncul dalam Alkitab Ibrani Perjanjian Baru (Hebrew New Testament-HNT) adalah Elohim (sekitar 591 kali), ha-Elohim (sekitar 408 kali), Eloah (1 kali, 2Pet.1:4, a divine nature, kodrat ilahi),  El (Mat. 1:23, khusus dalam Mat. 27:46, Ëli,Eli…), ha-El (2 kali, Titus 1:2, Ibr. 6:3) adonay-adoni (108 kali), dan YHWH (sekitar 207 kali).

   Dalam Alkitab Yunani Perjanjian lama (Septuaginta), term-term generik tersebut, (ha)Elohim-Eloah, (ha)El, dan Elah(a) disalin dengan satu kata (ho)Teos; semua kata (ha) Adonai-adon  diterjemahkan (ho) Kurios.  Sementara itu YHWH umumnya disalin juga dengan kata Kurios kecuali pada terjemahan pada awal-awalnya penerjemahan sekitar abad 3 BCE hingga abad 3 CE. Dalam heksapla misalnya, Origen (182 -251 CE) menyajikan tabel 6 kolom; kolom 1 berisi semua ayat-ayat Tenakh dengan huruf Ibrani, dan kolom-kolom yang lain (2-6) dengan huruf Yunani. Namun, kenyataannya pada kolom 2 (transliterasi ke bahasa Yunani oleh Origen sendiri) YHWH tetap dituliskan dengan 4 huruf Ibrani (tetragramaton, יהוה), demikian juga pada kolom 3 (terjemahan Aquila), kolom 4 (terjemahan Symmachus), dan kolom 6 (terjemahan Theodotion).  Sementara itu kolom 5 yang berisi Septuaginta ternyata muncul secara variatif -5 macam, yakni: (1) tetap dalam 4 huruf Ibrani – tetragramaton, יהוה, (2) dengan 2 huruf Yunani kapital (yang dicoret atasnya, yang umumnya dipahami sebagai singkatan Kurios), (3) dengan huruf Yunani capital, PIPI, (4) dengan huruf Yunani kapital, KU, dan (5) dengan huruf Yuanni kapital KE. (http://www.tetragrammaton.org/lxx.htm)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar