Selasa, 14 Agustus 2012

Nama Sesembahan Bag III

4.       Term “Ilah” dan “Allah”

Untuk mempermudah studi, saya tampilkan kedua term tersebut dari salah satu Glosari seperti berikut ini: 

(1). Allah – Arabic  allâh: the Arabic proper name for the Supreme Deity. The exact derivation of this word is unclear, but it is likely related to the Aramaic Alaha and to the ancient Hebrew El. (Note that the name 'God' is a relatively new, and perhaps unfortunate, European invention that has been the source of much misunderstanding, fear and hatred.) [Glossary for The Sufi Message of Hazrat Inayat Khan (Updated August 15, 2005), http://wahiduddin.net/mv2/mv_glossary.htm]

(2) ALLAH is the proper name of God among Muslims, corresponding in usage to Jehovah (Jahweh) among the Hebrews. Thus it is not to be regarded as a common noun meaning 'God' (or 'god'), and the Muslim must use another word or form if he wishes to indicate any other than his own peculiar deity. Similarly, no plural can be formed from it, and though the liberal Muslim may admit that Christians or Jews call upon Allah, he could never speak of the Allah of the Christians or the Allah of tire Jews. [Encyclopedia of Religion and Ethics, James Hastings, Allah p 326; http://www.bible.ca/islam/islam-allah-pre-islamic-origin.htm]
 
(3) The Shorter Encyclopedia of Islam (1965), says that Allah,
"... was and is the proper name of God among Muslims ..." (underline emphasis ours)

(4) Some other references that he cited regarding Allah being a proper name include the following:
Presented in Islam as the proper name of God. (Encyclopedia of Religion, 1987, p. 27; underline emphasis ours)

(4)                    The proper name of God among Muslims ... (Encyclopedia of Religion and Ethics, 1962, p. 326; underline emphasis ours)
Jadi “Allah”  dimaknai sebagai nama diri (proper name) dari sesembahan paling tinggi atau Tuhan, God (ilah); tentu saja ada yang tidak sependapat dengan padangan tersebut, melainkan memahaminya sebagai “God” itu sendiri. Untuk itu akan kita uji “kelurusan” kedua pemahaman tersebut.

Pemahaman term “Ilah dapat diperoleh dari salah satu “sahadat” (pengakuan iman) dalam Islam sebagai berikut:

la ilaha illa-llah - Arabic lâ ilâha illâ Allâh: The four individual words in the phrase lâ ilâha illâ allâh have the following meanings: = no, not, none, neither; ilâha = a god, deity, object of worship; illâ = but, except; allâh = Allâh. Typical translations include: There is no god but Allâh; There is nothing to worship or adore except Allâh. This phrase is often called tahlîl (acclaim, cry out with with joy), and is used in the Qur'an in sûrah Muhammad (47:19). (also see the tahlil web page) [Glossary for The Sufi Message of Hazrat Inayat Khan (Updated August 15, 2005), http://wahiduddin.net/mv2/mv_glossary.htm]

Terjemahan untuk tiap kata adalah, = tidak, ilâha = (satu) Tuhan, illâ = kecuali, allâh = Allah, dan terjemahan yang umum: “Tidak ada (satu) Tuhan (pun) selain Allah” (There is no God except Allah).  Saya belum pernah menemui model terjemahan lain misalnya: “There is no god except God” (atau, “tidak ada tuhan selain Tuhan”).

Term “Ilah” dapat berbentuk tunggal maupun jamak, dapat juga maskulin ataupun feminin, dapat pula dipakai untuk menunjuk pada “dewa, berhala atauh tuhan” (dengan huruf pertama kecil, false god) maupun menunjuk pada sembahan yang benar (true God, dengan huruf pertama kapital). Selain itu term ini pun dapat diberi “kata sandang” (article) “al” yang artinya “the”; demikian pula dapat memperoleh akhiran (suffic), misalnya ku, mu, kita.
 
"al-ilahat"(the feminine of "al-ilah", godess, tuhan perempuan), http://en.wikipedia.org/wiki/ Talk:Allah, From Wikipedia, the free encyclopedia.

Karakter term “Ilah” ini sama sekali tidak ditemui dalam karakter term “Allah”. Berikut dikemukakan beberapa contoh dari Quran: 

They have taken as lords beside Allah their rabbis and their monks and the Messiah son of Mary, when they were bidden to worship only One God (ilahan wahidan, hanya Tuhan Yang Satu). There is no God (ilaha, Tuhan) save Him. Be He Glorified from all that they ascribe as partner (unto Him)! S. 9:31 (yang digarisbawahi terjemahan saya)

Your God is One God (Ilahukum ilahun wahidan, Tuhanmu itu Tuhan Yang Satu). But as for those who believe not in the Hereafter their hearts refuse to know, for they are proud. S. 16:22  (yang digarisbawahi terjemahan saya)

Allah hath said: Choose not two gods (ilahayni, dua tuhan – dua ilah). There is only One God (ilahun wahidun). So of Me, Me only, be in awe. S. 16:51  (yang digarisbawahi terjemahan saya)
If there were therein gods (alihatun) beside Allah, then verily both (the heavens and the earth) had been disordered. Glorified be Allah, the Lord of the Throne, from all that they ascribe (unto Him). S. 21:22

Say: It is only inspired in me that your God is One God (ilahukum ilahun wahidun, Tuhanmu itu Tuhan Yang Satu). Will ye then surrender (unto Him)? S. 21:108

And argue not with the People of the Scripture unless it be in (a way) that is better, save with such of them as do wrong; and say: We believe in that which hath been revedaled unto us and revealed unto you; our God and your God is One (wa-ilahuna wa-ilahukum wahidun, Tuhan kita dan 
Tuhanmu itu Satu/Esa), and unto Him we surrender. S. 29:46  (yang digarisbawahi terjemahan saya)
Most surely your God (ilahakum, Tuhanmu) is One: S. 37:4  (yang digarisbawahi terjemahan saya)
And He it is Who in the heaven is God (ilahun), and in the earth God (ilahun). He is the Wise, the Knower. S. 43:84

Dari contoh karakter term “Ilah” tersebut jelas bahwa term ini memang persis sejajar dengan term sesembahan yang ada dalam Alkitab Ibrani (PL), yakni, El (elim-plural), Eloah (Elohim-plural), Elah (Elahin-plural), atau Elaha (Aramaik), atau God(s). 


 Asal-usul term “Allah”
Secara sederhana term “Allah” dibedakan dalam 2 pemahaman, yakni
(1) bentuk singkat (kontraksi) dari al-ilah (the god = God) atau yang lain, menjadi “Allah
(2) bukan sebagai bentuk ringkas, melainkan sebagaimana adanya, tidak berasal-usul.
Informasi kedua pendapat tersebut cukup banyak, dan antara lain dapat diakses di
http://www.daar-ul-ehsaan.org/faq.HTM#Allaah


Debat mengenai kedua pendapat tersebut sangat argumenatif khususnya untuk pendapat (2), namun bagi saya bukan hal yang penting melainkan bagaimana term “Allah” (dan ilah) diterapkan untuk terjemahan “hebrew-greek” sebagai “bahasa asal” Alkitab PB-PL dengan tanpa menyalahi aturan kebahasaan! 

 Informasi karakter kedua term, ilah dan Allah tentu sangat signifikan diperoleh dari teks arabik, dan Al Quran pastilah sangat tepat. 

Berikut pernyataan Hizbullah Mahmud dalam Mengkritisi Kembali Makna "Tuhan" [http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2396&Itemid=0]:

Kata Allah dalam Alqur'an disebut ulang oleh Allah sebanyak 2679 kali semuanya dalam bentuk tunggal, karena memang tidak memiliki bentuk tatsniyah dan jama' sesuai dengan firman-Nya "Allahu ahad" yang berarti Allah maha Tunggal/Esa. Hal ini akan berbeda dengan kata ilah yang berarti tuhan. Didalam Al-Qur'an oleh Allah kata ilah disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrod, ilahaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali, dan aalihah dalam bentuk jama' disebut ulang sebanyak 34 kali.

Berdasarkan disiplin ilmu dalam bahasa Arab, apabila isim nakiroh (indefinite article) dapat ditatsniyahkan dan dijama'kan, maka isim ma'rifaah (definite article) juga demikian.
Kita telah mengetahui bahwa dalam Alqur'an tatsniyah dan jama' dari kata ilah masing-masing disebut 2 kali dan 34 kali.
Tetapi tidak ditemukan satupun tatsniyah dan jama' dari kata Allah.
Pakar dan ulama besar dari Pakistan Abul A'la Maududi menyebut ma'rifah (definite article) dari kata ilah yang berarti tuhan dengan al ilah jadi, bukan dengan sebutan Allah tegasnya. Ma'rifah dari ilah itu al illah dan bukan Allah. hal ini banyak ditemukan dalam kitab Musthalahatul Fil Qur'an.

Tentu saja saya tidak mungkin mengujinya (maksud saya, membaca Al Quran sendiri), namun saya mempercayai data tersebut. Oleh karena itu dengan mudah dapat dipahami bahwa  hanya term “Ilah” saja yang dapat disejajarkan dengan term Ibrani eloah-elohim, elah-elahin, el-elim, dan Aramaik elaha.  Sementara itu apa pun teorinya atau bahkan hanya sekedar dialek saja (sebagaimana dilontarkan sdr. Herlianto), term “Allah” suka atau tidak, ternyata menunjuk pada “proper name” sebagaimana YHWH. Term ini tidak pernah ditemui bentuk jamak, tanpa definite articleal”, dan dipahami pula tanpa gender.

Jika “bismillah” dalam inskripsi Zabad (tahun 512) olah orang-orang Kristen-Arab, dipahami sebagai “bism al ilah” maka hal ini tidak terlalu mengherankan, karena term al ilah memang sejajar dengan ha Elohim (juga sejajar dengan ha El – Elaha)  yang memang banyak ditemui dalam Hebrew Scripture (PL), 367 kali termasuk 7 kali menunjuk ha elohim (dewa-berhala). Namun jika “bismillah” dipahami sebagai “bism Allah” (Seperti dalam Al Quran) dengan asumsi lanjut Allah adalah bentuk kependekan “al ilah”, maka tidak mungkin dirumuskan bahwa Allah kemudian menjadi bentuk kependekan dari ha Elohim; melainkan, kita harus bertanya siapakah ”al illah” itu (yakni ”Allah”), siapakah ha Elohim itu dan jawabnya hanya satu yakni YHWH.

Bangsa Israel berulang kali menyebut Bait Suci sebagai “Bait ha Elohim” dan juga “Bait YHWH”. Dan dengan demikian bism Allah (Arab) sejajar dengan beshem YHWH (Ibrani) yang ternyata memang cukup banyak ditemui dalam Alkitab PL (ada sekitar 43 kali:
Kej. 4:26; 12:8 ; 13:4 ; 21:33; 26:25; Kel.33:19; 34:5; Ul. 18:5; 18:7; 18:22; 21:5; 1Sam.17:45; 20:42; 2Sam. 6:18; 1Raja.18:24; 18:32; 22:16; 2Raja.2:24; 5:11; 1Taw.16:2; 21:19; 2Taw. 18:15; 33:18; Mazm, 20:8; 118:10,11, 12, 26; 124:8; 129:8; Yesaya 48:1; 50:10; Yer. 11:21; 26:9,16, 20; 44:16; Yoel 3:5; Amos 6:10; Mikha 4:5; Zefaya 3:9, 12; Zakharia 13:3)

Jadi, term bism selalu diikuti ”proper name (nama diri)”. Alkitab PL juga memuat beberapa frase bism yang diikuti ”nama generik” sesembahan kita namun selalu dalam bentuk construct (terikat) umumnya posesif (kepemilikan) atau dengan kata sandang ha, sebagai ”penentu” yakni:
  
1Raja 18:24,25, beshem eloheikem (dalam nama elohimmu)
Ezra 5:1, beshem Elah Israel (dalam nama Elah Israel); karakter kata ”Elah” di sini adalah
common noun, masculin singular construct.   
Micha 4:5, …. beshem eloheyw (in the name of its gods), we do walk Beshem YHWH

Jadi jelaslah bahwa bism Allah sejajar dengan bism YHWH. Dengan demikian, pemakaian term Allah dalam Alkitab LAI sama saja mempersekutukan proper name YHWH dengan Allah. Jika YHWShua-Yesus mengajar kita dengan doa ”dikuduskanlah namaMU” (bukan ’dikuduskanlah Engkau’), pastilah YHWShua-Yesus mengenal namaNya, yakni YHWH, dan jika namaNya ”diganti” ’Allah’, pertanyaannya adalah ”Apakah penggantian namaNya itu suatu tindakan pengudusan?”

Kita perhatikan ”sahadat” kita berikut ini:
O, YHWH, there is none like You, and there is no Elohim except You (1 Tawrh17: 20),
(O, Yahweh, tidak ada yang seperti Engkau, dan tidak ada Elohim selain Engkau)
Ayat ini maknanya kan persis sama dengan “there is no Elohim except YHWH” (tidak ada Elohim selain Yahweh) yang identik dengan lâ ilâha illâ allâh”(Islam).

And now, O, YHWH, You are God (Ha Elohim) Himself (1 Tawrh. 17: 26)
(Dan sekarang O, Yahweh, Engkaulah Elohim itu sendiri)
Yes. 44: 6-8, Beginilah firman Yahweh…… Adakah Elohim selain dari padaKu?
Yes. 45: 5, Akulah Yahweh, dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Elohim.

Sama sekali tidak ada keraguan jika seseorang mau mencari siapa nama yang dimaksud dengan sebutan “HaElohim”, hanya satu jawabannya yakni YHWH (Yahweh), bukan “Allah”. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar