Minggu, 05 Agustus 2012

Selisih pendapat itu terjadi dalam Islam sendiri dalam menentukan penyaliban Isa Almasih

Quran menyatakan bahwa orang Yahudi saling selisih pendapat mengenai Penyaliban

“Dan karena ucapan mereka: “Seseungguhnya kami telah membunuh Al Masih Isa putra Maryam, utusan Allah.” Padahal mereka tidak membunuhnya dan menyalibnya, tetapi hanya diserupakan saja bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentangnya benar-benar dalam keragu-raguan tentang itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang itu kecuali mengkuti prasangka belaka, mereka tidak pula yakin telah membunuhnya” (Q.S. An Nisa 157).


NAMUN SESUNGGUHNYA MUSLIM SENDIRI LAH YANG BIMBANG SEHINGGA MEMBUAT BERBAGAI MACAM TEORI MENYANGKUT PENYALIBAN ISA ALMASIH
 
Pendapat pertama:
Syaikh Thanthawi Jauhari dalam tafsirnya menerangkan, bahwa yang ditangkap adalah Yudas Iskariot, begitu pula pendapat Sayyid Qutb. (Tafsir Jawahir, Mesir, 1343 H, Juz II hal 115 dan 117)

Syaikh Muhammad Abduh condong pada pendapat di atas dengan mengatakan, memang Yudas mirip wajah Isa al Masih [teori kemiripan wajah asli], seperti pendapat George Sale dalam terjemah dan komentar Al Quran edisi Inggrisnya. (Tafsir Al Manar, Kairo, 1367 & 1374 H, Juz VI hal. 41)
   
Asy Syaukani hanya mengatakan yang ditangkap dan disalib itu adalah orang yang serupa dengan Nabi Isa, dengan tidak menyebut namanya. (Tafsir Asy Syaukani, Cet.1 1349 H, Juz VI hal 495)
  
Syaikh Ahmad Mustafa Al Maraghi menerangkan: “Terjadilah keserupaan pada mereka [teori pengubahan wajah] dan mereka menduga telah menyalib Isa, padahal orang lain. Maka keluarlah beliau dari kepungan mereka itu, sedangkan mereka tidak mengetahui. Dan Allah menyelamatkan Isa dari musuh-musuhnya. Dan kita tahu bahwa sesungguhnya tentara Romawi itu tidak mengenal Nabi Isa. (Tafsir Al Maraghi, cet III tahun 1963 M/1382 H. Juz VI hal. 14)
  
Az-Zamakhasari menerangkan, yang ditangkap dan yang disalib itu adalah seorang yang mengkhianati Nabi Isa, yang wajahnya diserupakan beliau [teori-pengubahan wajah]. Sehingga tentaar Romawi mengira bahwa orang itu adalah Nabi Isa. (Al-Kasyasyaf, Al-Intisyarat Aftab, Teheran, 1948M/166 H. Juz 1 hal. 436).
  
Prof Buya Hamka menyatakan, “Syubbiha artinya disamarkan. Yaitu diadakan orang lain, lalu ditimbulkan sangka dalam hati [teori Hipnotis] orang yang hendak membunuh itu bahwa orang lain itulah Isa” (Tafsir Al-Azhar Juz 6 hlm. 21).
   
Prof Dr H Mahmud Yunus menerjemahkan, “Sebenarnya Isa itu bukan mereka bunuh atau mereka salibkan, tetapi yang mereka salib itu, adalah orang yang serupa dengan Isa [teori kemiripan wajah], yang telah dibuat samar” (Tafsir Al-Qur’anul Karim hlm. 94).

Para penafsir ini menerangkan arti “syubbiha lahum” ialah “khuyyilah ilaihi” dikhayalkan kepadanya. Ibnu Katsir menerangkan beberapa riwayat perihal hal ini:

Hadis ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas: “Mereka mengambil pemuda yang persis al Masih [teori kemiripan wajah] yang mereka kira al Masih sendiri, padahal ia naik ke langit.

Hadis An Nasai meriwayatkan: yang ditangkap itu seorang murid yang paling muda umurnya.
Ibnu Jarir mengatakan, Allah mengubah wajah murid Nabi Isa serupa dengan beliau [teori pengubahan wajah]. Maka murid itu maju mengganti gurunya yang dijanjikan sorga baginya, dan dialah yang ditangkap dan disalib itu.

Riwayat Ibnu Ishak mengatakan, orang yang serupa dengan nabi Isa itu namanya Sergius (Tafsir Ibn Katsir, Darul Andalusi Beirut, cet I, 1966 M/1385 H, hal 429-432)




Pendapat kedua mengatakan bahwa Yesus memang di salib, tetapi tidak sampai mati disalib, karena yang disebut menyalib adalah membetangkan di seseorang di kayu salib sebagai hukuman sampai kematiannya di kayu tersebut. Jadi apabila tidak mati, maka tidak dapat di sebut menyalib:

Prof. Dr. Hasbullah Bakry, SH: Nabi Isa memang benar telah ditangkap di taman Getsemani dan di bawa ke istana Pilatus dan juga langsung di bawa ke bukit Golgota dan disalibkan di sana tetapi penyaliban ini telah di gagalkan Tuhan, artinya tidak sampai mati. Diserupakan saja kepada mereka seakan-akan Isa sudah mati. Padahal hanya pingsan saja. Kemudian Isa di kuburkan didalam pemakaman Yusuf Arimatea oleh Yusuf sendiri ditemani oleh Nikodemus. Setelah Nabi Isa sadar dari pingsannya, beliau keluar sendiri atau dikeluarkan dari pekuburan itu dengan tidak di ketahui atau dilihat oleh pengawal makam itu. Tipudaya itu ialah syubbiha lahum diserupakan seakan-akan Isa benar-benar sudah mati disalib oleh mereka.
 
Maulana Muhammad Ali: Kalimat ma shalabuhu ini, tak sekali-kali mendustakan disalibnya Nabi Isa pada kayu palang. Kalimat ini hanya mendustakan wafatnya Nabi Isa pada kayu palang sebagai akibat penyaliban…nabi Isa bukan mati pada kayu palang dan bukan pula dibunuh seperti dua penjahat lainnya, melainkan ditampakkan kepada kaum Yahudi, seakan-akan beliau sudah wafat disalib.
   
Mirza Ghulam Ahmad: Karena itu tidak bisa diragukan bahwa Yesus tidak disalibkan dengan pengertian tidak wafat di kayu salib, karena kepribadian beliau tidak patut memikul konsekwensi yang tersirat dari kematian di atas salib. Karena tidak wafat di kayu salib maka beliau terbebas dari implikasi kotor suatu kutukan, serta membuktikan bahwa beliau tidak terangkat ke langit. Kepergian beliau ke langit merupakan bagian dari keseluruhan skema yang merupakan konsekwensi dari konsep pemikiran bahwa beliau wafat di kayu salib. Jasad Nabi Isa diselamatkan oleh para muridnya kemudian hidup wajar lalu hijrah, meninggal dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir.


Itulah tadi perbedaan dari umat Islam dalam menyikapi penyaliban. Banyaknya versi tersebut mengindikasikan bahwa tidaklah mudah untuk mengklarifikasi perihal sebuah kejadian yang berlangsung ribuan tahun yang lalu.

YAHUDI SEPAKAT BAHWA ORANG YANG DISALIBKAN ADALAH BENAR-BENAR ISA ALMASIH SENDIRI
  Setelah kita membahas beberapa tafsir, mari kita sekarang menengok kepada beberapa dokumen kesejarahan yang ditulis abad-abad awal mengenai hal itu. Beberapa dokumen kesejarahan memang memuat fakta telah terjadi penyaliban terhadap diri Isa al Masih:

1. Dokumen Jewish Antiquities yang ditulis oleh Flavius Josephus (37/38 M-100M) Di dalam dokumen Jewish Antiquities, khususnya Testimonium Flavianum, disebutkan perihal kejadian tersebut: Kira-kira pada waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana. Sebab dia adalah seorang yang telah melakukan tindakan-tindakan luar biasa, dan seorang guru bagi orang-orang yang telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Ia telah memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. Setelah mendengar dia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula telah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka kepadanya. Dan bangsa Kristen ini, disebut demikian dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap

2. Dokumen Mara bar Sarapion (ditulis kira-kira setelah tahun 73 M) Perbuatan baik apa yang dilakukan orang-orang Athena ketika ia membunuh Sokrates, yang mengakibatkan mereka dihukum dengan bahaya kelaparan dan penyakit menular? Manfaat apa yang diperoleh orang-orang Samian ketika mereka membakar Phytagoras, karena kemudian negeri mereka seluruhnya dikubur pasir dalam sekejap saja? Atau apa keuntungannya ketika orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka setelah itu direnggut dari mereka Allah telah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada tiga orang bijaksana ini. Orang-orang Athena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Begitu juga raja yang bijak itu tidak mati, karena setelah dia tidak ada muncul hukum baru yang ia telah berikan

3. The Passing Pereginus oleh Lucian dari Samosata(115 M-200 M) “sesungguhnya, selain dia, juga orang yang disalibkan di Palestina karena memperkenalkan kultus baru ini ke dalam dunia, kini masih mereka sembah”

4. Dokumen Tactitus Annals 15: 38-44: Karena itu, untuk menepis kabar angin itu, Nero menciptakan kambing-kambing hitam dan menganiaya orang-orang yang disebut ‘orang-orang Kristen, yaitu sekelompok orang yang dibenci karena tindakan-tindakan kriminal mereka yang memuakkan. Kristus, dari mana nama itu berasal, telah dihukum mati dalam masa pemerintahan Tiberius di tangan salah seorang prokurator kita, Pontius Pilatus, dan tahyul yang paling merusak itu karenanya untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea, sumber pertama dari kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana segala sesuatu yang buruk, menjengkelkan dan yang menimbukkan kebencian dari segala tempat di dunia ini bertemu dan menjadi populer

1 komentar:

  1. huft, terus masalahnya apa? yang anda bawa kan pendapat orang orang diatas, kalau melihat dari Quran langsung itu Cuma secara garis besarnya saja bukan? Opini orang kok diputer-puter ckck. Oh iya, kalau mau benar-benar mengerti apa yang diajarkan Al-Quran, saya menantang anda belajar bahasa Arab, yang mana orang Muslim sendiri tidak semua menguasainya, kemudian anda buka Al-Quran dan temukan betapa indahnya kata-kata yang digunakan dalam Al-Quran. Tidak ada seorang pun yang memahami Al-Quran dari bahasa arab melainkan menuturkan betapa tiada cacatnya penggunaan diksi didalamnya. Inilah mengapa Al-Quran dibacakan dalam bahasa Arab saat menunaikan shalat. Supaya tidak mengubah makna. Sebagai contoh, kata Nafs, bila ditranslate kedalam bahasa-bahasa lain, pengertiannya bergeser sedikit, entah itu dipersempit, atau diperluas (menjadi tersirat), meskipun ada yang artinya persis, akurat Jadi bisa dibayangkan saat keseluruhan ayat di terjemahkan dan dilafalkan dalam bacaan shalat? :)

    BalasHapus