Minggu, 15 Juli 2012

Selamat tinggal Ramadhan, bulan penuh Kemunafikan

Oleh Karim Amir 
 
Pada 22 Februari 2007, blogger Mesir Abdel Karim Nabil Suleiman
yang lebih dikenal dengan nick internet-nya Karim Amir, dihukum
empat tahun penjara karena mengkritik Islam dan Presiden Mesir
Husni Mubarak dalam blog pribadinya.
Artikel dibawah ini adalah terjemahan dari sebuah entry yang dia
publikasikan setelah Ramadhan tahun 2006. Diterjemahkan kedalam
bahasa Inggris oleh Baal dan sukarelawan Faithfreedom lainnya)
 
 
Untuk pertama kalinya sejak berumur lima tahun, saya kini menemukan cukup keberanian untuk menolak puasa dibulan Ramadhan tahun ini, meski ditimpa segala macam kesulitan, halangan dan tantangan. Hal ini mengembalikan kebebasan diri saya yang dicabut ketika saya masih memaksakan diri tunduk dan melakukan praktek² dan tindakan² dengan pendirian yang tidak kuat. Hanya dengan bantuan mereka yang ada disekeliling sayalah, saya akhirnya bisa.

Saya muncul dari pengalaman sukses ini dengan pandangan baru mengenai masyarakat munafik tempat saya tinggal ini, dimana tiap individu ditakdirkan untuk memamerkan kemunafikannya agar ia mendapatkan persetujuan dari orang sekitarnya, meski didalam dirinya dia sebenarnya sama sekali berbeda dengan apa yang kelihatan diluar.

Beberapa tahun lalu, seorang anggota parlemen Mesir mengusulkan sebuah rancangan UU yang menghukum siapapun yang terang-terangan makan disiang hari di bulan Ramadhan; sebuah hukum yang jelas memaksa orang² yang tidak puasa agar bermunafik saja dengan meyakinkan masyarakat sekitar mereka bahwa mereka juga puasa.

Walau ritual puasa adalah masalah pribadi antara sang individu dengan Tuhannya, islamisasi masyarakat kita menyebabkan puasa berubah dari tindakan pribadi menjadi sebuah kebiasaan yang harus ditunjukkan keluar agar tidak menjaga perasaan mereka yang puasa; seakan mereka yang tidak puasa harus menahan diri dari makan dan minum DEMI menolong mereka yang berpuasa!

Meski rancangan ini tidak pernah jadi UU, tapi hukum semacam itu sudah diterapkan satu dan lain cara di jalan² Mesir, sebagai bagian dari gaya hidup Ramadhan. Kita lihat kafe² dan restoran² menutup pintu sampai waktu buka puasa. Toko² fast food & minuman dilarang berdagang selama puasa dengan alasan tiap orang harusnya puasa, dan orang yang tidak puasa harus menjauh dari pandangan orang², sembunyi dibawah tanah seakan dia kena penyakit menular.

Bulan Puasa diubah menjadi Lelang Umum Kemunafikan. Tiap orang —dengan berbagai macam cara— berlomba² membuktikan bahwa mereka lebih munafik dari orang lain. Sangat alami untuk menemukan banyak orang yang tidak berpuasa dengan berbagai alasan baik kesehatan dll, dan dengan begitu mereka makan. Atau bisa saja mereka tidak puasa karena mereka tidak merasa yakin akan puasa itu sendiri, atau karena mereka tidak percaya akan Islam, atau karena mereka bukan muslim. Meski demikian, orang² yang tidak berpuasa ini dipandang dengan dengki dan dipaksa agar berpura-pura puasa demi menghindari sorotan mata muslimin yang penuh dengki.

Kalau ada orang yg secara terbuka tidak puasa, maka jangan tanya lagi bentuk² hinaan yang dia terima, baik langsung maupun lewat pandangan orang² sekitarnya yang memandang dengan pandangan berapi-api dan sangar. Pandangan ini membuat orang yang tidak puasa merasa jadi diserang dan seakan orang yang memandang setiap saat bisa berubah menjadi belati yang lalu menusuk dia hingga mati.

Ketika saya kecil (masih di SD), teman sekelas saya suka mengejek orang yang tidak puasa dengan lagu berikut:

Ya faater Ramadan, ya khaaser deenak!
Sikkeenat al-jazzaar, tiqta’ masaareenak!
[Oh orang yg tidak puasa dibulan Ramadan, O pecundang iman!
(semoga) pisau jagal, memotong organ²mu!] 

Itulah cara kami dididik; dengan lagu kejam yang berharap agar organ kelamin orang yang tidak puasa dicincang². Ini mencerminkan sorotan mata yang diterima mereka yang tidak berpuasa dari masyarakat sekitar.

Jum’at kemarin, saya berada di Kairo bersama seorang teman. Sesaat sebelum waktu buka, kami lapar sehingga kami putuskan untuk makan ditempat yang pertama kita temukan dalam perjalanan. Kelihatannya nasib membawa kita kesebuah cabang Kentucky Fried Chicken. Kami beli dan beranjak ke meja makan. Tidak terpikir oleh kami bahwa waktu buka belum lagi tiba. Saya terkejut ketika melihat ruang makan ternyata sudah penuh oleh keluarga² yang sedang bersiap² untuk makan menunggu waktu buka. Teman saya dan saya duduk ditengah² kerumunan orang dan cuek saja makan. Yang terjadi berikutnya tidak akan saya lupakan; semua orang berpaling dan memandangi kami sehingga kami jadi tontonan sampai kami kesulitan untuk mengunyah dan menelan. Tiap telanan terasa seperti menelan batu.

Dimalam Idul Fitri, saya kirim surat ucapkan selamat pada teman², “Kullu ‘aamin wa antum bikhair.” ["May you be well every year"] Saya juga mengucapkan selamat kepada seorang teman non-muslim. Dia terkejut dan berkata dia bukan muslim, tapi saya jelaskan posisi saya dengan berkata bahwa saya memberi selamat dalam rangka berakhirnya bulan penuh kemunafikan, bukan untuk hal lainnya.

Kepada setiap manusia yang harus memamerkan wajahnya yang berbeda dari wajah aslinya pada setiap bulan Ramadhan…

Kepada tiap orang yang menderita karena sorotan mata orang² dan komentar² pedas dan menghina, karena tidak mengikuti mereka berlaku munafik…

Kepada setiap manusia yang menghargai dirinya sendiri dan murtad dari Islam…
“SEMOGA SELAMAT DAN SEHAT² SAJA SEPANJANG TAHUN”

Sumber: Faithfreedom Indonesia | Faithfreedom International

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar