Minggu, 15 Juli 2012

Kesehatan Mental Muhammad


 

Oleh Frederic-John Decat

Tidak ada nabi yang normal, mereka semuanya aneh dan nyentrik karena hubungan pribadi mereka dengan Tuhan. Kita mengenal: Musa, Joshua atau bahkan Joan of Arc, dll, tetapi tidak seorangpun dari mereka berhasil mengajarkan perang abadi (Jihad) seperti Muhammad. Sampai sekarangpun dunia masih dalam proses Islamisasi yang tidak kunjung selesai. Tidak ada minggu lewat tanpa kekerasan yang dilakukan Muslim dimanapun didunia. Kalau bukan di Indonesia, Sudan, Iraq, ada saja kejadian di NY, Madrid, London, Paris, Belanda, Mumbai…

Islam jelas-jelas mengandung sesuatu yang tidak beres dan oleh karena itu kita harus menyelidiki kesehatan mental sang pendiri, Muhammad. Sudah waktunya kita mempertanyakan diri: waraskah Muhammad?

Lihatlah kesaksian Ibn Ishaq/Hisham dalam ‘’Sirât Rasûl Allâh’’ (terjemahan Guillaume). Dikatakannya pertama-tama, Muhammad sendiri YAKIN BAHWA IA KESURUPAN SETAN dan karena tidak tahan malu ia MENCOBA BUNUH DIRI dengan menjatuhkan dirinya dari bukit (p.106/153). Lalu dikatakan bahwa Jibril menyelamatkannya.

Juga dilaporkan bahwa ia sering berada di suatu tempat tidak jelas dalam keadaan bingung, sampai pembantu Khadijah menemukannya di wilayah atas Mekah. Memang Khadijahlah yang menenangkan Mohamad kala ia meragukan kewarasannya. “Kasihanilah saya, saya penyajak atau kerasukan setan?” tanya suaminya yang gemetaran. Itulah saatnya Khadijah memanggil saudara wanita Kristennya, Waraqa b. Naufal, yang menegaskan bahwa ia memang benar-benar rasul Tuhan.

Nampaknya ini tidak cukup dan Khadijah mencoba meyakinkannya dengan sebuah tes apakah hantu yang muncul depan suaminya itu adalah malaikat atau setan. Ia meminta agar Muhammad memanggilnya saat hantu itu menampakkan diri. Dan ketika saat itu tiba, Khadijah melakukan gerakan-gerakan seksual dan menanyakan pada setiap tahap apakah hantu itu masih ada. Dengan semakin meningkatnya kegiatan seksual itu, hantu itu pergi. Khadijah kemudian mengatakan: “Wahai putera pamanku, berbahagialah karena ia adalah malaikat dan bukan setan.” (106/153; 107/154; 111/155). Logikanya adalah, hantu jahat tidak akan meninggalkan ruangan jika kegiatan seksual semakin panas.

Nah, dari sini saja nampak bahwa misi Muhammad tidak pernah ditegaskan oleh tanda-tanda ilahi dengan bukti-bukti supernatural, tetapi hanya oleh dua wanita, seorang saudara Kristen dan isterinya sendiri.

Saat Khadijah masih hidup, ilusi-ilusi Muhammad masih terkontrol, dan walaupun sering mengucilkan diri di goa-goa, menerima wahyu, kami masih bisa menganggapnya waras. Dalam bahasa psikiater, kondisinya stabil, ia masih bisa bertindak sebagai orang normal. Tetapi setelah meninggalnya Khadijah pada tahun 619, keadaannya mulai parah; belum lagi paman baiknya, Abu Talib, meninggal pula. Saat menerima ‘The Satanic Verses’, Muhammad kembali meragukan missi ilahinya ini. Ini menunjukkan bahwa paling tidak Muhammad bingung, mana ayat setan dan mana bukan… (165/239; 166/239; 191/278; Qu.109; 22.51-52; 53.19-23).

Orang Mekah sendiri curiga bahwa Muhammad menderita penyakit jiwa atau kesurupan. Ia menyebutnya ‘web of dreams’, ‘fanciful poet’, ‘enchanted’ (Q.21.5; 36.69 or 52.30). Tapi ia membela diri dengan menyebut contoh nabi-nabi Kitab Kristen yang disangkanya juga dianggap gila (Qu.51.52; 23.25; 26.26-27; 51.39). Jelas, tuduhan ini tidak ada dalam Kitab Kristen. Kecuali dalam Hos.9.7 yang Muhammad lupa kutip, mengingat pengetahuan Bible-nya sangat kurang.

DIAGNOSIS Dr. HERMAN SOMERS
Psikolog Vlaams ini memberikan kita diagnosis teknis pertama dalam bukunya yang berbahasa Belanda ‘’Een Andere Mohammed’’ (Mohammad yang lain), diterbitkan tahun 1993 oleh Hadewych, Antwerp. Dr. Koenraad Elst memberikan garis besarnya dalam situsnya.

Pertama, kesaksian mendetil dari kehidupan Muhammad membantunya menyusun diagnosa.
Menurut Dr. Somers, Muhammad adalah kasus klasik paranoia, yang ciri-cirinya adalah delusi tentang dirinya, ditambah dengan halusinasi yang terus menerus. Ini bisa dalam bentuk mendengarkan suara-suara, atau hanya sekedar penipuan mental. Delusi ini selalu menempatkan penderita sebagai pusat sebuah peristiwa: entah sebagai target persekongkolan atau saksi peristiwa kosmik, seperti misi ilahi atau melihat datangnya hari kiamat. Hari Kiamat kebetulan memang salah satu tema utama dalam Quran.

Delusi utama Muhammad adalah bahwa ia dipilih untuk melakukan misi unik berdimensi kosmik. Delusi ini membentuk inti kepercayaan yang di ikuti semua Muslim : ‘’Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad satu-satunya rasulNya.’’ Kepercayaan yang tidak mengenal kompromi ini berbeda dari kepercayaan monotheisme lain karena percaya bahwa Quran memiliki asal usul ilahi. Tunduk pada Islam berarti tidak mungkin meninggalkannya. Adalah menyedihkan untuk menyadari bahwa satu milyar pengikutnya ini menundukkan kepala kepada delusi-delusi dan halusinasi paranoid.

Muhammad lebih cocok dibahas dunia psikiater ketimbang dunia religi. Dasar-dasar neuropathologis halusinasinya sangat mengagumkan untuk dipelajari. Megalomania-nya yang total ini merupakan fenomena kompensasi berlebihan atas masa kecilnya yang tidak bahagia. Hanya pandangan ini tidak dapat menjelaskan infrastruktur delusinya. Symptomatology-nya yang eksplisit, deskripsinya sendiri atas sensasi fisik saat kesurupan, memudahkan para ahli menarik kesimpulan. Paranoia Mohammad dari dokumen-dokumen
Islam juga nampak jelas.*

2 komentar:

  1. Semoga yang membuat web ini mengalami strok dan lumpuh dari leher ke kaki

    BalasHapus
  2. Semoga yang membuat web ini mengalami strok dan lumpuh dari leher ke kaki

    BalasHapus