Minggu, 15 Juli 2012

Mengapa Geert Wilders benci Islam dan apa pesannya bagi Muslim?

Aku pertama kali berkunjung ke negara Islam di tahun 1982.

Saat itu aku berusia 18 tahun dan pergi bersama teman Belandaku dari Eilat di Israel ke kota Sharm-el-Sheikh, Mesir, di tepi Laut Merah.

Kami berdua adalah pelajar² yang hampir tak punya uang sama sekali.
Kami tidur di dipan² dan mendapatkan banyak keramahan dari masyarakat Mesir, yang sertamerta mengajak kami minum teh.

Aku ingat dengan jelas bagaimana kesan pertamaku atas Mesir: Aku sangat kagum dengan keramahan, persahabatan, dan pertolongan masyarakat Mesir.

Aku juga ingat kesan keduaku yang kuat akan Mesir: Aku kaget melihat orang² ramah tamah dan bersahabat ini begitu penuh ketakutan.

Saat itu kami sedang berada di Sharm el-Sheikh, dan kebetulan Presiden Mubarak berkunjung ke tempat itu.

Aku ingat rasa takut yang melanda kota itu ketika diumumkan bahwa Mubarak akan datang tiba². Aku melihat mobil² hitam datang di hari kunjungannya dan rasa takut mencekam kuat seperti angin dingin bertiup di hari musim panas yang sangat panas.

Ini adalah pengalaman yang aneh; Mubarak itu bukanlah tiran Islam yang terkejam, tapi rasa takut masyarakat Mesir awam akan pemimpinnya begitu jelas terasa bahkan oleh diriku juga. Aku membayangkan bagaimana perasaan masyarakat Saudi jika Rajanya berkunjung ke kota mereka, atau bagaimana perasaan masyarakat Libya jika Kaddafi datang, atau bagaimana perasaan masyarakat Irak jika Saddam Hussein lewat di depan mereka. Beberapa tahun kemudian, aku membaca Qur’an yang menerangkan di abad ke 7 M bagaimana rasanya berada di sebelah Muhammad yang menurut beberapa ayat “memasukkan rasa teror (takut) di hati mereka” (Qs 8:12, 8:60, 33:26, 59:12).

Dari Sharm el-Sheikh, aku dan temanku pergi ke Kairo. Kota ini sangat miskin dan luar biasa kotornya. Kami kaget melihat kemiskinan dan kejorokan tempat ini yang merupakan tetangga Israel, yang negerinya sangat bersih. Kami bertanya pada bangsa Arab tentang kemiskinan mereka, maka jawaban mereka adalah bukan salah mereka sama sekali mengapa mereka itu miskin dan terbelakang. Mereka berkata bahwa mereka adalah korban konspirasi global “imperialis” dan “Zionis” yang bertujuan membuat Muslim miskin dan terbelakang. Kupikir penjelasan mereka sangat meragukan. Instingku mengatakan mestinya hal ini berhubungan dengan perbedaan budaya Israel dan Mesir.

Aku berbuat kesalahan di Kairo. Kami tak punya uang dan aku sangat haus. Orang bisa beli segelas air dari warung air umum. Air itu tampaknya kotor, tapi aku minum saja. Setelah itu aku kena diare hebat. Aku pergi ke penginapan murah yang menyediakan tempat di ujung ruangan seharga $2 sehari. Di situ aku berbaring untuk beberapa hari, berdesakan dengan sepuluh orang lainnya di ruangan yang bau. Dulu Mesir ini adalah negara berbudaya termaju di seluruh dunia. Mengapa kok lalu mandeg dan tak berkembang bersama dengan masyarakat dunia lainnya?

Di akhir tahun 1890-an, Winston Churchill adalah seorang prajurit dan penulis perang di India British (yang sekarang jadi Pakistan) dan Sudan. Churchill adalah pemuda berpengamatan tajam, di mana pengalamannya selama beberapa bulan di Pakistan dan Sudan membuatnya mampu melihat dengan kritis bahwa masalah masyarakat Muslim terletak pada Islam dan “ajaran agamanya yang terkutuk.”

“Selain rasa fanatik gila… terdapat pula sikap pasrah dan ketakutan yang fatal,” tulisnya. “Efeknya jelas tampak di banyak negara. Kebiasaan yang royal, menghamburkan duit bagaikan tak peduli hari depan, sistem agrikultur yang teledor, teknik² dagang yang melempem, dan kegelisahan akan barang milik di mana pun umat Nabi berkuasa atau hidup… Hukum Muhammad menetapkan bahwa setiap wanita dimiliki seorang pria, sebagai barang milik yang absolut, tak peduli apakah wanita itu adalah seorang anak, istri, atau budak sex. Perbudakan akan terus berlangsung sampai Islam tidak berkuasa lagi diantara umat Muslim… Setiap Muslim bisa saja punya bakat dan kecerdasan besar —tapi pengaruh Islam telah melumpuhkan perkembangan sosial bagi masyarakat yang memeluknya.” Dan Churchill menyimpulkan: “Tiada ideologi apapun, selain Islam, yang bisa membuat suatu masyarakat begitu mandeg/mundur di dunia ini.”

Ada orang² yang mengatakan aku membenci Muslim. Aku tidak benci Muslim. Aku merasa sedih melihat Muslim dirampok jatidiri dan kehormatannya oleh Islam. Pengaruh Islam pada Muslim tampak jelas melalui bagaimana mereka memperlakukan kaum perempuan mereka. Pada tanggal 11 Maret, 2002, lima belas murid perempuan Saudi mati sewaktu mereka berusaha melarikan diri dari sekolah yang terbakar di kota suci Mekah. Api telah melahap gedung sekolah. Para murid perempuan berlarian ke pintu² gerbang yang ternyata dikunci. Kunci² pintu disimpan oleh penjaga sekolah yang adalah Muslim (pria), dan Muslim ini tidak mau membuka pintu karena para murid perempuan tidak mengenakan cadar penutup muka dan burka, dan ini bertentangan dengan hukum Saudi.

Para murid wanita yang “tak berpakaian pantas” ini jadi panik ingin menyelamatkan nyawa mereka yang masih muda. Polisi² Saudi malah menggebuki mereka untuk kembali ke gedung yang tengah terbakar. Para polisi moral Mutawin “Commission for the Promotion of Virtue and the Prevention of Vice” (Komisi Promosi Moral dan Pencegah Maksiat”) juga memukuli orang² yang sedang lewat dan anggota pemadam kebakaran yang mencoba menolong murid² perempuan itu. “Dosa mendekati mereka,” begitu kata para polisi pada orang² yang mencoba menolong. Hal ini bukan saja dianggap dosa, tapi juga melanggar hukum negara.

Nyawa para gadis² muda itu tidak dihargai Islam; Qur’an mengatakan bahwa lahirnya anak perempuan mengakibatkan wajah ayah jadi hitam pekat dan penuh kesedihan:

Qs 43:16-17
Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.
Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allâh Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.

Meskipun begitu, kejadian kebakaran sekolah perempuan di Mekah itu mendatangkan banyak reaksi marah. Islam itu tak berperikemanusiaan; tapi umat Muslim adalah manusia, yang mampu mengasihi – kemampuan mengasihi inilah yang dibenci Muhammad. Humanitas unggul di kalangan para ayah Mekah yang marah atas kematian para putrinya; humanitas juga unggul dalam hati para pemadam kebakaran yang berani melawan Mutawin yang memukuli para murid kembali ke dalam gedung terbakar, dan humanitas juga unggul dalam hati para jurnalis Saudi yang untuk pertama kalinya berani menulis kecaman terhadap “Commission for the Promotion of Virtue and the Prevention of Vice” yang sangat ditakuti.

Akan tetapi, protes² Muslim terhadap kekejaman Islam sangat jarang terjadi. Kebanyakan Muslim, bahkan di negara² barat sekalipun, mendatangi mesjid dan mendengarkan ayat² Qur’an yang sarat ajaran bunuh dan khotbah² memuakkan tanpa bersikap berontak sama sekali.

Aku adalah agnostik (tidak beragama, tapi masih mempertanyakan keberadaan Tuhan). Tapi orang² Kristen dan Yahudi percaya bahwa Tuhan menciptakan umat manusia berdasarkan citraNya. Mereka percaya bahwa melalui pengamatan atas diri sendiri, sebagai manusia yang merdeka dan mampu mengasihi, mereka dapat mengenal pencipta mereka. Mereka bahkan bisa berdialog denganNya, seperti yang dilakukan umat Yahudi terus-menerus sepanjang sejarah mereka. Sebaliknya, dalam Qur’an dinyatakan “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (Qs 42:11). Allâh SWT itu sangat amat berbeda dengan kita semua. Sungguh tidak bisa diterima bahwasanya Allâh SWT menciptakan manusia berdasarkan citranya. Konsep Alkitab bahwa “Tuhan adalah Bapa umat manusia” tidak dikenal dalam Islam. Tiada hubungan pribadi antara manusia dengan Allâh SWT. Tujuan Islam itu adalah tunduk total pada Allâh SWT yang tak dikenal, yang harus dilayani Muslim sepenuhnya. Selain itu, Muslim juga harus tunduk total pada Muhammad, pemimpin negara Islam (Qs 3:31, 4:80, 24:62, 48:10, 57:28). Sejarah telah mengajarkan pada kita bahwa Muhammad bukanlah Nabi sama sekali, dan dia juga bukan orang yang penuh kasih dan pengampunan, tapi seorang jagal masal, tiran, dan pedofil. Muslim tampaknya tidak bakal punya idola yang lebih jelek daripada ini.

Karena tak adanya konsep manusia merdeka, maka tak heran mengapa dalam Islam tidak berkembang pengertian manusia sebagai satu individu yang bertanggung jawab. Umat Muslim itu cenderung bersikap sangat fatalistik (orang yang bermental tunduk total karena menerima buta doktrin agama yang mengatakan semua yang terjadi telah ditentukan sebelumnya dan tidak bisa dicegah). Mungkin – harapan kami nih – hanya sedikit Muslim radikal yang melakukan secara serius perintah Jihad bunuh kafir. Meskipun begitu, kebanyakan umat Muslim tidak pernah protes melawan para radikal Muslim. Inilah “sikap pasrah dan ketakutan yang fatal” yang disebut Churchill dulu.

Penulis Aldous Huxley, yang hidup di Afrika Utara di tahun 1920-an, menyatakan hasil penelitiannya:
“Tentang penyebab² langsung sesuatu hal – persis seperti apa yang terjadi – mereka tampaknya tak peduli sama sekali. Bahkan mereka tidak mengakui bahwa itulah penyebab² langsung, karena bagi mereka: Allâh itulah yang bertanggung jawab langsung atas segala hal. ‘Apakah kau kira akan turun hujan?’ kau bertanya pada mereka sambil menunjuk awan gelap di langit. ‘Jika Allâh menghendaki,’ itulah jawabnya. Kau lalu berjalan melalui sebuah rumah sakit lokal. ‘Apakah dokter² di RS itu bagus?’ ‘Di negara kami, kami mengatakan bahwa dokter² tak bisa apapun, sebab jika Allâh telah menentukan orang bakal mati, maka matilah orang itu. Jika waktunya belum tiba, maka dia akan terus hidup,’ jawab seorang Arab dengan gaya raja Solomon. Tampaknya hal ini begitu dipercayai oleh mereka, sehingga tak perlu dibicarakan lagi. Bagi orang² Arab Muslim, itulah pandangan yang bijaksana. Mereka – kecuali yang berpendidikan menurut pandangan Barat – telah mundur ke fatalisme jaman batu, yang penuh ketidak pedulian dan tak ada rasa ingin tahu.”

Islam mencabut kemerdekaan umat Muslim. Hal ini sangat disayangkan, karena orang² merdeka mampu untuk menghasilkan karya² besar, sebagaimana yang telah ditunjukkan sejarah. Orang² Arab, Turki, Iran, India, dan Indonesia punya potensi yang sangat besar. Jika mereka tidak jadi budak Islam, jika mereka mampu memerdekakan diri dari ikatan Islam, jika mereka mampu menyingkirkan Muhammad sebagai idola mereka, dan jika mereka mampu membuang Qur’an jahat ke tong sampah, maka mereka akan mampu untuk meraih prestasi² besar yang tidak hanya menguntungkan diri mereka sendiri, tapi seluruh dunia.

Sebagai orang Belanda, orang Eropa, dan politikus Barat, tanggung-jawabku yang utama adalah bagi masyarakat Belanda, bagi masyarakat Eropa, dan dunia Barat. Akan tetapi, karena memerdekakan Muslim dari Islam akan juga menguntungkan kami, maka aku sepenuhnya mendukung Muslim yang mencintai kemerdekaan (maksudnya Muslim yang ingin merdeka —murtad dari Islam). Pesanku pada umat Muslim sudah jelas: “Fatalisme bukanlah pilihan; “Insya Allâh” itu adalah kutukan bagimu; Tunduk pada Islam adalah sikap yang mempermalukan dirimu.

Bebaskan dirimu dari Islam. Nasibmu berada di tanganmu.
Sumber: Muslims Debate | Faithfreedom Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar