Kamis, 14 Maret 2013

MENJAWAB KLAIM MUKJIZAT QURAN (LAUTAN YANG TIDAK BERCAMPUR SATU SAMA LAIN)


Harun Yahya dan Zakir Naik menganggap kalau Quran dengan tepat meneyatakan batas tak terlihat yang mencegah garam dan air tawar menyatu. Ayat yang mereka pakai adalah:

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. S. 25:53

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing S. 55:19-20

kutipan berikut diambil dari artikel cerdas dari Andy Bannister dimana ia merespon pada seorang muslim yang membuat klaim serupa seperti Yahya dan Naik pada S. 25:53:

sekarang muslim yang berdebat dengan saya (didukung oleh yang lainnya) berargumen bahwa:


"ayat diatas dari Quran jelas merujuk pada pertemuan antara sungai-sungai besar dan lautan dan samudera yang lebih luas, dimana sungai dalam sebagian kasus masuk kedalam air laut ber mil-mil tanpa mencampurnya antara dua entitas air. Ini adalah fenomena yang sangat dipahami oleh ilmuan masa kini, juga, Quran dengan jelas dan tidak dapat diragukan menekankan pada alas an untuk itu, ketawaran yang satu dan keasinan yang lainnya, dalam istilah ilmiah, adalah perbedaan rapat jenis antara dua entitas, yang juga merupakan penjelasan yang diberikan ilmuan modern." (Suleiman, dalam thread "Scientific facts and Qur'an", soc.religion.islam, 4-Nov-99
Lihat http://www.deja.com/threadmsg_ct.xp?AN=544267403 dll.)

walaubegitu, saat anda membandingkan beragam terjemahan Qur'an, anda mulai melihat kalau ayat ini tidak bicara mengenai sungai, namun badan air, menurut bahasa Arab (terima kasih pada AlQuran-digital.com):

YUSUFALI: Adalah Ia yang membebaskan dua badan air yang mengalir: satunya tawar dan segar, dan satunya lagi asin dan pahit, Ia membuat batasan diantaranya, sebuah partisi yang terlarang untuk dilalui.

PICKTHAL: Dan Dia yang telah membebaskan dua lautan (walau mereka bertemu); satu tawar, segar dan satunya lagi asin, pahit; dan membuat penghalang dan larangan untuk mereka saling melewati.

SHAKIR: Dan Dia yang membuat dua lautan mengalir bebas, satunya tawar dan menghilangkan rasa haus karena kesegarannya, dan yang lainnya asin yang membakar lidah karena pahitnya; dan diantara keduanya Ia membuat batasan dan larangan yang tidak dapat ditembus.

sekarang agar sebuah penafsiran ilmiah modern berlaku, seseorang mesti menunjukkan kalau ini bukan dua laut atau dua lapisan air, namun saalh satunya adalah sungai. Orang Arab tidak membedakannya. Kenapa ini penting? Karena untuk menemukan sains modern di ayat ini, Harun Yahya et al harus memaksakan kalau salah satu badan air adalah sungai (air tawar) dan satunya lagi samudera (air asin). Mereka dapat memperkenalkan gagasan sungai air tawar mengalir ke laut dan tidak bercampur. Sekarang, diluar isu apakah (sebagaimana saya akan klaim) atau tidak (sebagaimana Harun Yahya et al klaim) dua air ini bercampur, ada sebuah isu yang lebih mendasar. Bila orang Arab tidak mengkhususkan saalh satunya sebagai sungai, maka ada penjelasan yang lebih sederhana.


1. "Laut" atau "badan air" atau "bahr" pertama adalah Laut Merah (dekat dengan Mekkah dan Medinah) dan diketahui oleh Muhammad, yang berair asin.
2. "Laut" atau "badan air" atau "bahr" kedua adalah daerah air tawar local (banyak oasis untuk dipilih).
3. Kedua "laut" atau "badan air" atau "bahr" ini terpisah oleh darata; ini adalah batas yang tidak dapat dilampaui masing-masing.
4. Karena surat 25:53 sesungguhnya komentar Muhammad pada mukjizat (seperti yang ia lihat), kalau Allah tampak memisahkan air asin dan air tawar.

Penafsiran ini memiliki sejumlah manfaat pada posisi yang diajukan Harun Yahya dan kawan-kawan yang akan mengklaim mukjizat ilmiah dari ayat ini. Manfaat ini antara lain:


1. Harun Yahya mengklaim kalau Muhammad mungkin tidak pernah melihat sungai mengalir ke laut (ia tinggal ribuan mil dari sungai dan laut). Bila Harun Yahya benar dalam pernyataan ini, maka ini cocok dengan penafsiran saya di atas seperti pikiran Muhammadmengenai air tawar dan air asin yang tidak bertemu.
2. Ini artinya Surah 25:53 dapat diterapkan pada saat ayat itu di tulis (sekitar 600 M) dan masa kini; Muslim yang pertama membacanya akan paham dan bersyukur kepada Tuhan atas rahmatnya, seperti yang bias dilakukan orang muslim sekarang. Penafsiran alternative memerlukan kalau ayat ini tidak bermakna selama 1.300 tahun hingga kita dengan sains modern kita menemukan maknanya. Jadi Qur'an tidak relevan pada semua orang sepanjang zaman.
3. Ini menjelaskan kenapa Muhammad menulis surah 25:53. Bukannya tidak memiliki konsep sungai/samudera dan bercampur/tidak bercampur, ia akan, memahami pentingnya air tawar, terpisah dari air asin yang tidak dapat diminum, sebagai contoh rahmat Allah dan berarti pantas untuk disyukuri.
Agar surah 25:53 mendukung posisi "sains modern membuktikan Qur'an", maka penafsiran penafsiran diatas mesti ditolak agar yang pertama benar, dengan tidak ada argument nyata yang membantu penafsiran pertama maka itu berarti benar karena itu mukjizat! (Catat: penafsiran Harun Yahya tidak menunjukkan kalau Qur'an memuat mukjizat, namun penafsirannya yang membuat Qur'an menjadi special).

Tafsir mengenai dua badan air/laut adalah Laut Merah dan air tawar local manapun, dan batasan sebagai tanah kering sesungguhnya didukung oleh Ibn Kathir!:


Wahuwalladzi marajal Bahraini.
Maknanya Ia telah menciptakan dua jenis air, tawar dan asin. Air tawar seperti di sungai, kali dan kolam, yang segar, dan dapat diminum. Ini adalah pandangan Ibn Jurayj dan Ibn Jarir, dan ini artinya tanpa diragukan,tidak ada satupun di alam ciptaan Allah dimana lautan terasa tawar dan dapat diminum.

Hazaa Azbun Furatun.
Allah telah memberitahu kita mengenai kenyataan sehingga kita dapat menyadari nikmat dari Nya dan bersyukur pada Nya. Air tawar adalah yang mengalir dan menyegarkan orang. Allah telah membagikannya pada mahlukNya menurut kebutuhannya; sungai dan kali di setiap negeri, menurut apa yang mereka butuhkan untuk mereka dan tanah mereka sendiri.


Wa Hazaa Milhun ujajun.
Maknanya asin, pahit dan tidak dapat ditelan dengan mudah. Ini seperti lautan yang kita kenal di barat dan timur, Samudera Atlantik dan Selat-selat yang menujunya, Laut Merah, Laut Arab, Teluk Persia, Laut China, Samudera Hindia, Laut Tengah, Laut Hitam dan seterusnya, semua lautan yang stabil dan tidak mengalir, namun mereka bergejolak saat musim dingin dan saat angina kuat, dan mereka memiliki pasang surut yang mengalir. Pada awal bulan mereka pasang dan banjir, dan saat bulan mulai pudar, mereka surut kembali ke tempat awal mereka. Saat sabit bulan selanjutnya muncul, pasang menurun. Allah SWT, Yang kekuasaanNya mutlak, telah membuat hukum-hukum ini berlaku, sehingga semua lautan tetap, dan Ia telah menjadikan air mereka asin, sementara bumi menjadi buruk, dan tanah busuk karena hewan yang mati. Karena airnya yang asin, udaranya sehat dan yang mati didalamnya dapat dimakan. Karena itu Rasulullah mengatakan kalau air laut dapat dipakai untuk Wudu' lewat hadist yang dikatakan oleh Malik, Ash-Shafi'i dan Ahmad, dan oleh para ahli Sunan dengan rantai narasi yang baik [Jayyid].


Wa ja'ala baynahuma.
Maknanya, antara air tawar dan air asin.


Barzakh.
Maknanya dinding, yaitu DARATAN KERING.

Wa Hijram makhzur.
Maknanya sebuah batasan, untuk mencegah salah satu menyentuh yang lain. Ini seperti dalam ayat (55:19-21) (Tafsir Ibn Kathir - Volume 7 Surat An-Nur hingga Surat Al-Ahzab ayat 50, halaman. 184-186; penekanan pada huruf besar adalah gubahan penulis)

jadi, apa yang dinyatakan sebagai pernyataan ilmiah mendahului masanya berubah menjadi sesuatu yang dengan mudah diamati siapa saja. Bukannya batasan ini sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang, ia sesungguhnya tidak lebih dari daratan yang kering. Masalahnya belum selesai lagi. Dr. Willaim Campbell mencatat:
Frase "sebuah potongan yang terlarang untuk dilewati" menyajikan dua kata dengan akar yang sama. Ini dilakukan dalam bahasa arab untuk menekankan apapun yang sedang dibahas. Kata "Hijr" berarti – dilarang, kata yang sangat kuat, dan kata kedua yang merupakan bentuk lampau memiliki makna yang sama. Jadi sangat literal kita menterjemahkan ini sebagai "Ia (Tuhan) membuat diantaranya sebuah tongkat dan sebuah larangan keras".

Dr. Bucaille sempat membahas ini, namun Dr. Torki menghabiskan dua setengah halaman untuknya dengan bahasan panjang tentang tekanan osmotic dan bagaimana ia terbukti lewat tabung U dan selaput semi permeable di laboratorium. Ia kemudian menyimpulkan dengan mengatakan,
"Muhammad tidak punya laboratorium, tidak juga alat riset untuk menemukan semua misteri ini dan memahami halangan ini yang jelas tertulis dalam Qur'an. Ini membuktikan kalau kitab ini tidak dikarang oleh manusia, namun karya Satu Tuhan."

Walau begitu, pertanyaan harus diajukan kembali, apakah kita tidak berhadapan dengan sebuah fenomena yang dapat diamati? Bukankah itu disajikan sebagai fakta yang menunjukkan nikmat tuhan? Bukankah semua nelayan yang mencari ikan di muara sungai yang kosong menuju air asin tahu fakta ini?
Sementara berdagang untuk Khadija, Muhammad berkelana hingga sejauh Aleppo, di utara Damascus di Syria. Apakah tidak mungkin kalau suatu saat dalam perjalanan ini Muhammad turun ke pantai di Syria atau Lebanon; atau berbicara dengan seorang nelayan yang tahu kalau air tetap tidak bercampur di laut tengah sana?

dalam buku terbarunya Dr. Bucaille, sendiri memuji orang primitive atas kemampuan mereka mengamati dan menggolongkan. Ia menulis,
"Para naturalis menceritakan bagaimana mereka terkesan dengan ketelitian suku primitive tertentu, tanpa menerima pendidikan luar mengenai subjek tersebut, namun berhasil membedakan spesies hewan yangmengelilingi mereka, dan tiba pada klasifikasi yang hamper setara seorang pakar."
Tentu benar dengan menganggap kalau mereka dapat mengamati hewan dengan skill demikian, maka mereka juga mengamati fenomena alam lain yang mengelilingi mereka seperti air tawar di laut.

Aneh, membaca ayat ini sebagai ayat yang menunjukkan pengetahuan ilmiah modern dapat memunculkan lebih banyak pertanyaan dari pada solusi, karena tafsiran demikian juga akan menuntut akurasi ilmiah abad ke20 pada pengukuran. Saat Tuhan membuat "sebuah batas dan potongan yang terlarang untuk dilalui", kedengarannya seperti larangan 100%. Tidakkah kita paham dan menafsirkan ayat ini sebagai "kedua jenis air ini tidak boleh bercampur!"?
Faktanya, tidak ada batang, atau selaput semi permeable, di laut yang melarang pencampuran keduanya dan gaya-gaya yang sesungguhnya ada membantu pencampuran.

Seorang rekan ilmuan berkomentar pada masalah ini,
"Memang air tawar dan air asin terpisah secara fisik (keluaran dari sungai menggantikan air laut), namun tidak ada batasan. Seara termodinamis atau secara energies – campurannya bersifat spontan, dengan proses yang seketikan, sangat ditentukan oleh pertimbangan entropi. Satu-satunya batasan adalah kinetik, dimana perlu waktu sedikit untuk mencampur kedua zat tersebut bersamaan."
Dr. Bucaille mengenali hal ini, jadi ia menambahkan sebuah fakta kualitatif, anggapan dasar kecil lainnya. Beliau menulis "pencampuran air mereka (sungai) dengan air asin biasanya tidak terjadi hingga jauh ke laut." (Campbell, pp. 166-167)

Jadi, baik Quran dan Ibn Kathir salah khususnya dalam komentar Ibn Kathir diatas:
"… tidak mungkin ada laut yang tawar dan segar."
Dan,

Wa Hijram makhzur.
Maknanya sebuah batasan, untuk mencegah salah satu menyentuh yang lain.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

From Wikiislam

The whole of surah 81 is referring to the “Day of Judgment” and cannot be claimed as fulfilled prophecy if/until such an event were to take place.

Surah 55 is dealing with the creation of the universe and everything in it and cannot be called prophetic because the events (allegedly) took place before we or the Quran even existed. Furthermore, surah 55 & surah 25:53 are referring to land masses placed between the two different types of water, ie 'barrier' and 'massive partition.' Its not figurative for the inability of salt fresh water to mix.


[وَهُوَ الَّذِى مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَـذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَـذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ]

(And it is He Who has let free the two seas, this is palatable and sweet, and that is salty and bitter;) means, He has created the two kinds of water, sweet and salty. The sweet water is like that in rivers, springs and wells, which is fresh, sweet, palatable water. This was the view of Ibn Jurayj and of Ibn Jarir, and this is the meaning without a doubt, for nowhere in creation is there a sea which is fresh and sweet. Allah has told us about reality so that His servants may realize His blessings to them and give thanks to Him. The sweet water is that which flows amidst people. Allah has portioned it out among His creatures according to their needs; rivers and springs in every land, according to what they need for themselves and their lands.

[وَهَـذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ]

(and that is salty and bitter;) meaning that it is salty, bitter and not easy to swallow. This is like the seas that are known in the east and the west, the Atlantic Ocean and the Straits that lead to it, the Red Sea, the Arabian Sea, the Persian Gulf, the China Sea, the Indian Ocean, the Mediterranean Sea, the Black Sea and so on, all the seas that are stable and do not flow, but they swell and surge in the winter and when the winds are strong, and they have tides that ebb and flow. At the beginning of each month the tides ebb and flood, and when the month starts to wane they retreat until they go back to where they started. When the crescent of the following month appears, the tide begins to ebb again until the fourteenth of the month, then it decreases. Allah, may He be glorified, the One Whose power is absolute, has set these laws in motion, so all of these seas are stationary, and He has made their water salty lest the air turn putrid because of them and the whole earth turn rotten as a result, and lest the earth spoil because of the animals dying on it. Because its water is salty, its air is healthy and its dead are good (to eat), hence when the Messenger of Allah was asked whether sea water can be used for Wudu', he said:

«هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُه»

(Its water is pure and its dead are lawful.) This was recorded by Malik, Ash-Shafi`i and Ahmad, and by the scholars of Sunan with a good [Jayyid] chain of narration.

[وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخاً وَحِجْراً]

(and He has set a barrier and a complete partition between them. ) meaning, between the sweet water and the saltwater.

[بَرْزَخاً]

(a barrier) means a partition, which is dry land.

[وَحِجْراً مَّحْجُوراً]

(and a complete partition) means, a barrier, to prevent one of them from reaching the other. This is like the Ayat:

[مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ - بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَّ يَبْغِيَانِ فَبِأَىِّ ءَالاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ]

(He has let loose the two seas meeting together. Between them is a barrier which none of them can transgress. Then which of the blessings of your Lord will you both deny) (55:19-21)

[أَمَّن جَعَلَ الاٌّرْضَ قَرَاراً وَجَعَلَ خِلاَلَهَآ أَنْهَاراً وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِىَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزاً أَءِلـهٌ مَّعَ اللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ ]
(Is not He Who has made the earth as a fixed abode, and has placed rivers in its midst, and placed firm mountains therein, and set a barrier between the two seas Is there any god with Allah Nay, but most of them know not!) (27:61)

'Ibn Kathir's Tafsir Quran 25:53
{ وَهُوَ ٱلَّذِي مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَـٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَـٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخاً وَحِجْراً مَّحْجُوراً }
And He it is Who merged the two seas: letting them [flow] one adjacent to the other: this one palatable, sweet, and the other saltish, bitter; and He set between the two an isthmus, so that the one does not mix with the other, and a forbidding ban, a shield that prevents the two from becoming mixed.

Tafsir al-Jalalayn Quran 25:53
{ وَهُوَ ٱلَّذِي مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَـٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَـٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخاً وَحِجْراً مَّحْجُوراً }
(And He it is Who hath given independence to the two seas (though they meet); one palatable, sweet, and the other saltish, bitter; and hath set a bar) a barrier between the sweet and the salty (and a forbidding ban between them) preventing either one from transgressing against the other, such as to make the taste of either of them change.

24 komentar:

  1. masbro, jalan-jalan ke Biduk-Biduk (Kaltim), di sana kamu akan menemukan jawaban tetang ayat tersebut. Di Biduk-Biduk ada sebuah danau (Labuan Cermin) yang memiliki 2 rasa, di permukaan rasanya tawar sedang di bawah air asin mengalir di bawahnya tanpa bercampur. di sana kamu akan merasakan kebesaran Allah, bagaimana tidak, di sana kamu bisa menikmati ikan air tawar yang berenang di permukaan dan ikan air asin bermain-main di dasar air. Subhanallah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Liat danau cermin di majalah iseng brosing nemu ini.
      Pgn bgt kesana sambil muji allah.

      Hapus
  2. masbro kayak ny masbro g percaya sama alquran... g usah panjang lebar begitu.. percuma g bakalan nyampe akal nya... baru bisa nulis di internet j udah so ngebahas macem2.. agama kamu ya buat kamu... agama islam ya buat orang islam.. jangan nulis yg matahin alquran donk... jangan sotoy... udah jelas alquran itu firman Allah SWT

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nga segaja liat di majalah bluebird danau ini
      .iseng brosing nemu tukisan ini...
      .pgn bgt ksna subhanalah


      Buat yg nulis coba deh cari di google gunung pelangi di cina terus buka alquran 35:27.
      Nga perlu susah2 bahasa arab artinya aj ud jelas bgt

      Hapus
  3. laqum dinukum waliyadi....

    BalasHapus
  4. tunggu maut menjemput anda..baru akan sadar apa yg anda tulis...

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Wah, semakin buta informasi ini... semakin ngawur artikelnya
    Di selat Gibraltar ada du Laut yang bertemu tapi tidak bercampur meskipun keduanya berbeda salinitas
    Cek...

    http://imaggeo.egu.eu/view/1085/

    di muara, tempat bertemunya air tawar (segar) dengan air asin, ditemukan situasi yang berbeda dengan yang terdapat pada tempat bertemunya dua air laut. Penemuan menunjukkan bahwa yang memisahkan air tawar dari air laut di muara adalah zona Pycnocline yang ditandai oleh adanya perbedaan salinitas dan kepadatan yang bertahap dan jelas memisahkan kedua lapisan air tersebut.
    Sudah jelas benar kan Al-Qur'an

    Anda tidak mengerti bahasa arab, tidak bisa memperdaya kami muslim...
    Laqum dii nuqum waa liyadiin
    (Untukmu agamamu, untukku agamaku)
    Agama kami lurus menyembah Allah SWT Yang Maha Suci, yakni tidak beristri dan tidak beranak dan jauh dari tuduhan-tuduhan musyrikin. Agama Islam mempunyai kitab suci Al-Qur'an yang benar dan membenarkan. Bukan Injil yang telah kalian robah sesuka hati. Dusta mengatasnamakan Allah SWT itu neraka Jahannam tempatnya...

    BalasHapus
  7. izinkan sy menyampaikan TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, MUHAMMAD ROSULULLAH, maap sy tdk bs comment ilmunya masih CETEK....

    BalasHapus
  8. Silahkan buka link ini http://www.backpackerborneo.com/2013/08/danau-labuan-cermin-keajaiban-dua-rasa.html?m=1

    Ada air tawar dan asin yg terpisah, dibagian atas tawar ada ikan air tawar dan di bagian bawahnya adalah air asin, seolah-olah ada lapisan kaca yg memisahkannya

    BalasHapus
  9. Kasian nih penulis blog, udah ilmunya cetek, o'on, sotoy bahasa arab lagi, wajar ente dibully abis2an. Tapi gpp juga, dengan adanya tulisan ngawur ente, terbuktilah kebenaran firman Allah Ta'ala, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka." (TQS 2:120)

    BalasHapus
  10. Banyak manusia yg mati ingin bangkit hanya utk sholat & mohon ampun kpd Allah SWT.. mereka menyesali perbuatan yg mereka lakukan selama hidupnya..

    BalasHapus
  11. Banyak manusia yg mati ingin bangkit hanya utk sholat & mohon ampun kpd Allah SWT.. mereka menyesali perbuatan yg mereka lakukan selama hidupnya..

    BalasHapus
  12. semoga Allah membuka mata hatimu.....,

    BalasHapus
  13. air tawar ada ditengah lautan sudah diketahui para pelaut bahkan sebelum muhammad lahir. Jadi berita alquran tuh berita basi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimana dengan ini??

      “Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit” (Qs Al-An’am 125).

      Secara implisit, ayat ini menyatakan bahwa orang yang naik ke langit pasti akan sulit bernafas karena di angkasa luar tidak ada oksigen. Dari mana Nabi Muhammad 15 abad yang lalu tahu kalau di luar angkasa tidak ada udara yang mengandung oksigen? Apakah zaman dulu sudah ada yang bisa keluar angkasa mas bro??? Ini adalah satu nubuatan yang terbukti kebenarannya melalui pengetahuan modern...

      Hapus
  14. Bismillah, Al Qur'an tidak selalu bisa dimaknai secara harafiah. Ada banyak ayat ayat yang maknanya tersirat dibalik yang tersurat. Al Qur'an adalah kitab Spiritual yang akan merefleksikan ketinggian spiritual dari si pembaca. Tidak akan sama antara semua orang. Seperti halnya makna Pertemuan 2 lautan dalam Al Qur'an, ada yang memberi makna sebagai pertemuan sistem syaraf manusia yang dikontrol otak kanan dan otak kiri.
    Dari Tulang ekor sampai puncak kepala, banyak disimbolkan di dalam Al Qur'an. Ruas ruas tulang ini juga disimbolkan dengan sekat pengulangan ayat di Surah Ar Rahman,Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān. Masih panjang penjelasannya , termasuk hubungan nya dengan Surah Al Haj, perintah naik haji, bilangan Phi , Baitullah, Baitul Maqmur, Maqdis , Muqaddas dll yang semuanya bisa kita temui dalam tubuh dan diri kita.
    Tidak perlu saling menghujat, carilah makna itu dengan mempertajam batin, mendekatkan diri ke Allah SWT. InsyaAllah pengetahuan Sirr yang rahasia akan mengalir deras ke dalam diri kita. Anda akan terkagum kagum dengan Al Quran tapi mulutmu akan terkunci dan bersedih mendengar debat debat antar umat yang hanya memakai otak belaka. Wallahualam Bisshowab.

    BalasHapus
  15. kayaknya byk yg terkexoh dg nama blog ini, nama blognya ga sesuai dg isinya, sy ga menemukan sesuatu yg salah dr artikel di atas

    BalasHapus
  16. lucu sekali penjelasan penulis blog ini luci

    BalasHapus
  17. Siapa yang melihat dunia hanya dari sebuah jendela,maka dia tidak akan pernah bisa melihat dunia yg lain.

    BalasHapus
  18. Kalau Al-Quran bukan karya Tuhan. tidak mungkin Alqur'an bisa menyatakan jasad Firaun utuh.Di dalam bukunya, “al-Qur’an Dan Ilmu Modern”, Dr Morris Bukay[1] mengungkap kesesuaian informasi al-Qur’an mengenai nasib Fir’aun Musa setelah ia tenggelam di laut dan realita di mana itu tercermin dengan masih eksisnya jasad Fir’aun Musa tersebut hingga saat ini. Ini merupakan pertanda kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala saat berfirman, (QS.Yunus:92)
    "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."



    Dr. Bukay berkata, “Riwayat versi Taurat mengenai keluarnya bangsa Yahudi bersama Musa Alaihissalam dari Mesir menguatkan ‘statement’ yang menyatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir pada masa nabi Musa Alaihissalam. Penelitian medis terhadap mumi Mineptah membeberkan kepada kita informasi-informasi berguna lainnya mengenai dugaan sebab kematian fir’aun ini.

    Sesungguhnya kitab Taurat menyebutkan, jasad tersebut ditelan laut akan tetapi tidak memberikan rincian mengenai apa yang terjadi terhadapnya setelah itu. Sedangkan al-Qur’an menyebutkan, jasad Fir’aun yang dilaknat itu akan diselamatkan dari air sebagaimana keterangan ayat di atas. Dalam hal ini, pemeriksaan medis terhadap mumi tersebut menunjukkan, jasad tersebut tidak berada lama di dalam air sebab tidak menunjukkan adanya tanda kerusakan total akibat terlalu lama berada di dalam air.

    BalasHapus
  19. Kalau Al-Quran bukan karya Tuhan. tidak mungkin Alqur'an bisa menyatakan jasad Firaun utuh.Di dalam bukunya, “al-Qur’an Dan Ilmu Modern”, Dr Morris Bukay[1] mengungkap kesesuaian informasi al-Qur’an mengenai nasib Fir’aun Musa setelah ia tenggelam di laut dan realita di mana itu tercermin dengan masih eksisnya jasad Fir’aun Musa tersebut hingga saat ini. Ini merupakan pertanda kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala saat berfirman, (QS.Yunus:92)
    "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."



    Dr. Bukay berkata, “Riwayat versi Taurat mengenai keluarnya bangsa Yahudi bersama Musa Alaihissalam dari Mesir menguatkan ‘statement’ yang menyatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir pada masa nabi Musa Alaihissalam. Penelitian medis terhadap mumi Mineptah membeberkan kepada kita informasi-informasi berguna lainnya mengenai dugaan sebab kematian fir’aun ini.

    Sesungguhnya kitab Taurat menyebutkan, jasad tersebut ditelan laut akan tetapi tidak memberikan rincian mengenai apa yang terjadi terhadapnya setelah itu. Sedangkan al-Qur’an menyebutkan, jasad Fir’aun yang dilaknat itu akan diselamatkan dari air sebagaimana keterangan ayat di atas. Dalam hal ini, pemeriksaan medis terhadap mumi tersebut menunjukkan, jasad tersebut tidak berada lama di dalam air sebab tidak menunjukkan adanya tanda kerusakan total akibat terlalu lama berada di dalam air.

    BalasHapus