Kamis, 14 Maret 2013

BELUM ADA JUDUL

apakah Allah SWT sungguh Maha kasih? Dan apakah Dia sudah membuktikannya dengan saksi-saksi?
Mengklaim kasih tidak sulit sama sekali. Malahan klaim itu bisa “dibuktikan” dengan “berpura-pura” kasih, dan itu tentunya lebih jahat. Yang sulit justru membuktikan ujud kasih-Nya yang hakiki dan tak terbantahkan, yang bisa ditampakkan kepada mahluk ciptaanNya. Agamaagama lain merujukkan (lagi- lagi klaim) kasih Allah hanya sampai sebatas pemberianNya kepada manusia, yaitu sejumlah unsur-unsur pendukung kehidupan seperti udara, air, embun, sinar matahari dll. Namun alasan ini jauh dari memadai! Itu bukan khas wujud MahaKasih Allah, melainkan khas wujud tanggung- jawab Allah (yang baik) atas apa yang sudah diciptakanNya, yang memang harus dipeliharaNya. Maha kasih harus
dibuktikan dengan wujud pengorbanan Allah yang tidak seharusnya berkorban, dan bukan sekedar tanggung-jawab. Maka itulah yang perlu Anda jadikan kriteria kebenaran Allah, yaitu: “Allah manakah yang sudah membuktikan diriNya sebagai Tuhan yang berkorban?” Anda hanya mendapatinya pada Tuhan Alkitab yang sudah meng-kurbankan “AnakNya” (Firman yang “nuzul”/ diinkarnasikan menjadi Anak Manusia) Yesus Almasih diatas kayu salib, demi menebus umatNya dari perhambaan dosa? Semuanya disaksikan secara mutawatir oleh para saksi mata. Ya ibu Maryam dan pengikut-pengikut Yesus, maupun segenap musuhmusuh, orang-orang awam, serta para serdadu Roma yang mengeksekusinya!

Allah dengan wahyu yang menuduh-nuduh tetapi ternyata salah tuduh, hanyalah menunjukkan bahwa
Ia tidak MahaTahu seperti yang seharusnya bagi seorang Allah. Ini bisa menyangkut aspek dan dimensi apa saja. Tetapi disini baiklah kita soroti konsep doktinal yang dalam, yaitu tentang konsep ke-esaan Tuhan,
yang sering ditanggapi dengan pemahaman yang sangat dangkal dan
salah oleh pihak Islam. Sekalipun orang-orang Kristiani berkata berulang-ulang bahwa mereka percaya kepada satu Tuhan, namun sekian kali pula berulang-ulang mereka dituduh sebagai penyembah politeisme, menyembah tiga Tuhan Trinitas. Alkitab tidak memuat satu ayat pun yang menyebutkan bahwa ada tiga Allah berpartner. Tidak juga ada ayat yang mengatakan bahwa Allah memakai tiga topeng yang berbeda untuk bekerja kedalam drama sejarah. Apa yang Alkitab katakan adalah satu Allah yang mengungkap-an diriNya dalam tiga pribadi yang berbeda --Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bukan tiga entitas Bapa Allah, Ibu Allah (Maryam), yang menghasilkan Anak Allah (Isa Al-Masih), seperti yang dituduhkan Islam secara keliru. Keliru oknumnya, keliru Zat-nya, dan keliru kejadiannya (dipahami secara biologis).

Dimanapun, Alkitab tidak pernah mengajarkan lain dari pada satu Tuhan dalam satu-satunya Zat keilahian (lihat Kitab Bilangan 6:4, I Timotius 2:5, Yesaya 44:6 dll). Sedangkan istilah “Anak Allah” bukanlah anak-biologis, anak hasil kawin-mawin (walad) seperti yang dipahami dalam kedangkalan persepsi Arabia abad ke-7, melainkan “nuzul”nya Kalimat Allah menjadi “Sang Anak” (Sonship in Word incarnated). Dalam kekeliruan wahyu, Muhammad, maaf, Allah sampai bertanya: “Bagaimana Dia (Allah) mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri?”… “Mahasuci Allah dari mempunyai anak” (surat 6:101, 4:171). Bahwa Allah itu satu dalam sifat esensiNya dan kesenyawaanNya, namun juga adalah tiga pribadi, ini bukan rekayasa/ bikinan misionaris dan maunya antek-antek Kristen, melainkan memang itulah yang dinyatakan Allah lewat AlkitabNya berkali-kali; Alkitab yang telah di benarkan dan yang harus diimani oleh Muhammad dan Muslim berpuluh kali (a.l. Qs.10:94,73; 2:41,91; 3:3; 5:44, 46, 48, 68; 6:92; 29:46; 32:23; 5:31; 43:4; 46:30 dll ). Jadi inilah nasihat kita yang terbaik bagi orang- orang Kristiani, yaitu tatkala Anda berhadapan dengan tuduhan “Allahmu itu kok tiga Tuhan dalam Trinitas yang tak ada istilahnya dalam Alkitab?”, maka tolong sampaikan kepadanya tiga kemungkinan dibawah ini, serta mempertanyakan balik masalah Tauhid dan Shahadat mereka:

Bila itu merupakan tuduhan pribadi, maka sipenuduh pasti telah disesatkan oleh informasi yang dangkal dan keliru; dan (2) Bila itu dianggap merupakan tuduhan dari Kitab Suci agamanya, maka pasti Allah-nyalah yang telah keliru berwahyu! Bila dipersoalkan istilah Trinitas itu tak dikenal oleh Yesus sendiri dan tak ada istilahnya di Alkitab, maka kita jawab dengan sederhana bahwa istilah ini hanyalah istilah teologis demi memudahkan rujukan awam kepada konsep keberadaan Allah yang unik agar tidak disesatkan oleh slogan pukul- rata: “Allahmu dan Allahku satu”. Trinitas adalah ke-Esa-an Allah dalam tiga pribadiNya. Konsepnya (dan bukan istilahnya) bertaburan dalam seluruh Alkitab! Dan tidakkah Muslim juga mengadopsi suatu doktrin Islam yang tertinggi, TAUHID, tetapi istilahnya justru tidak muncul dalam Al-Quran sendiri? Dan apakah Muslim juga sadar, bahwa Kalimat SHAHADAT yang dianggap begitu sakral itu, ternyata malah tidak terdapat dalam Quran dalam bentuk dua kalimat yang disatukan (artinya, aslinya tidak diturunkan oleh Allah untuk menjadi shahadat Islam seperti sekarang), melainkan dipilih dan dirangkaikan oleh Manusiapintar dari dua atau tiga surat yang berbeda, surat 37 dan 47 terhadap 48! Dengan perkataan lain, Quran surgawi yang tersimpan dalam Lauhul Mahfudz, tidak bisa ditemukan kalimat Shahadat seperti yang diikrarkan dalam dunia Islam sepanjang zaman. Itu bukan aslinya dari Sana, sebab ia kental berbau syrik! Kenapa? Karena Allah SWT tidak pernah berkenan membiarkan diriNya dipartner-kan dengan siapapun juga, tetapi umat Islam malah menggabungkan Kalimat shahadat pertama tentang diri Allah (“Tiada Tuhan selain Allah”) dengan gandengan “wa” (dan) untuk dijejerkan kepada diri RasulNya (dan “Muhammad adalah Rasul Allah”), sehingga menyodorkan sebuah bentuk persekutuan Allah dan Muhammad yang menyalahi azaz Tauhid.

1 komentar: