Minggu, 16 September 2012

Tantangan Membuat Yang Serupa Quran

Oleh Tuhan, kepada setiap orang diberi hak untuk bertanya. Itu yang disebut HAM, alias hak-hak azazi yang melekat pada setiap manusia. Maka kepada Yesus ditanyailah oleh ramai-ramai orang:

“Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?”
 

“Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus:
Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi” (Mat.16:2-4). 


Dan kepada Muhammad juga ditanyakan:
Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda  dari Tuhannya?” (Sura 13:7).

Atas pertanyaan dasar ini, ternyata Muhammad menjawabnya berbelit-belit setiap kali ditanyai. Sesekali beliau menjawab bahwa mujizat ada disisi Allah, atau ia hanyalah seorang pemberita peringatan, tak ada tanda kekuasaan Allah dalam dirinya. Dilain waktu, ia hanya mampu menyuruh orang  agar menunggu saja mukjizatnya (lihat 10:20, 29:50, 17:90-93 dll.).

Akhirnya karena setelah ditunggu-tunggu mujizat disisi Allah tidak juga datang, maka Quran-pun dimasukkan Muhammad sebagai mujizatnya. Padahal tidak pernah kitab Taurat Musa dan Mazmur Daud and Injil Kristus diklaim sebagai mujizatnya masing-masing nabi yang membawakannya. Jadi kenapa Quran itu dinyatakan sebagai mujizatnya Muhammad yang datang dari surga? Bukankah isinya bukan materi baru samasekali.  Sedikitnya dua pertiga dari pada Quran terambil dari Alkitab dengan pelbagai pencorakan, sehingga Quran lebih layak disebut sebagai hasil kumpulan dan pengolahan Muhammad – semacam diary — ketimbang “produk asli surgawi” lewat Muhammad. Tentu saja Muhammad dan Muslim tak mau menerima kenyataan ini. Itulah sebabnya lahir sebuah TANTANGAN PALING BESAR dari Muhammad, agar para penuduhnya (manusia dan jin yang tidak mempercayai kenabiannya) melakukan pembuktian-terbalik secara tulisan, demi sekaligus membatalkan Quran sebagai wahyu Allah:

“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (semisal) Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” (Sura 17:88).

Ini adalah sebuah ayat yang sangat terkenal dan didewa-dewakan oleh setiap Muslim. Sebuah pilar Islam yang paling tinggi untuk mengokohkan kebenaran Quran yang tidak terpatahkan. Muhammad berkeyakinan bahwa Al-Quran itu tidak mungkin dapat ditiru atau disamai walaupun dengan mengerahkan semua mahkluk dan jin disegala zaman. Sebab semua tulisan dan produk dunia  adalah cacat dan fana, kecuali Quran saja yang bukan ex-dunia, tanpa cacat cela dan kekal selamanya. Itulah tanda dan mukjizat yang dikhususkan Allah baginya sebagai tanda kenabiannya yang terbesar dan terakhir. Maka jikalau Quran dapat ditiru atau disamai oleh mahluk, maka gugurlah ia sebagai Kalam Allah yang Maha Tinggi tak terjangkau!
Celakanya, tak lama setelah tantangan ini dimaklumatkan Allah, Muhammad (atas nama Allah) buru buru mengubah teks tantangannya kembali. Kali ini bukan menantang menulis sebuah Quran, melainkan cukup 10 surat yang mana saja dari Quran itu.

“… mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu, Katakanlah: (Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar (Sura 11:13).


Kenapa ubahnya begitu drastic dan mendadak? Ada masalah apa dibaliknya? Tidak ada keterangan apapun di Quran, bahkan juga tidak di semua Hadis nabi. Dan belum sampai tantangan 10 surat ini disosialisasikan dan mengendap kehati orang , buru-buru lagi Muhammad mengubahnya untuk kedua kalinya! Kali ini tantangan diperingkas menjadi 1 surat saja! Ya benar, surat mana saja!

“ Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain allah, jika kamu orang yang memang benar” (Sura 2:23, 10:37-38).

Disinilah awal kehancuran pilar dan wibawa Al-Quran sebagai wahyu Allah!  Karena ternyata ada banyak orang biasa yang lebih dari mampu menyambut tantangan Muhammad yang satu ini. Orang yang bodoh sekalipun akan segera merasakan bahwa tantangan semacam ini sangat primitif karena tampak hakekatnya bukan dari jenis tantangan adi-kodrati (seumpama membangkitkan mayat seketika, atau menampakkan hidangan makanan yang turun dari sorga), melainkan murni tantangan duniawi-insani belaka, yang mudah sekali di samai atau bahkan diungguli orang dalam kontes surat-menyurat.

Itu sesungguhnya sama saja dengan Einstein atau Shakespeare atau Beethoven yang mengklaim kenabiannya dari Allah apabila tak ada orang dan jin yang membuktikan kepakarannya melebihi dirinya dalam bidang science, sastra, dan musik bertuturt-turut! Atau andaikata Anda menemukan sebuah batu-akik yang super-unik, lalu Anda menetapkannya sebagai batu dari surga (semacam Hajar-Aswad?) karena merasa tidak ada orang lain yang mampu menemukan batu yang sama, atau yang bisa menandinginya! Keunikan – apalagi keunikan aksara dan tulisan asal dunia – sungguh tidak ada kaitannya dengan keharusan bahwa substansinya itu mesti ilahi! Bukankah aksara dan tulisan dan kehebatan berbicara dengan kefasihan yang paling unggul sekalipun dari seseorang, tidak mencirikan bahwa konten bicaraannya itu mesti berasal dari sorga?!

Kitab Zabur dan Amsal Sulaiman penuh dengan bahasa puitis tinggi yang isinya menggentarkan pembacanya. Tetapi Daud (Musa, Isa dan semua nabi-nabi lain!) tidak pernah mengklaim “kitabnya” sebagai mujizat kenabian.


Tantangan Muhammad yang salah-wahyu
Muhammad tiba-tiba mengubah tantangannya dua kali berturut-turut. Tidakkah itu super ajaib, karena tak ada orang dan jin manapun yang ambil pusing atau menawar-nawar kepada Allah? Kenapa tak ada sarjana Islam yang menjelaskan maksud dan tujuan perubahan Kalimat Allah yang aneh, radikal dan berulang kali itu? Memang ada beberapa ulama yang berkata sekenanya bahwa perubahan-perubahan tantangan itu justru menunjukkan kehebatan dan bukan kelemahan tantangan. Zakir Naik, pendebat ulung Islam malah berkata bahwa perubahan itu diadakan karena Allah ingin mempermudah penantangnya. Ini sungguh jawaban yang sembarangan, karena tidak mempersoalkan inti teologinya, yaitu:

1.Kenapa Allah sampai harus mengubah-ubahkan KalimatNya yang kekal tanpa angin yang berputar dan setan yang menawar? Muslim mendalilkan hebatnya mukjizat Al-Quran sehingga tak perlu banyak-banyak melainkan cukup satu surat mana saja untuk menantang setiap tiruan manusia atau jin. Oke, kalau begitu, lalu 2. Kenapa harus dimulai dengan seisi Quran lalu berubah menjadi 10 Surat, dan lalu 1 Surat? Tidakkah Allah mampu memutuskan sesuatu yang benar, sekali Ia memutuskan?

Bocoran rahasianya adalah begini.
Kita tahu bahwa Surat ini adalah Surat Makkiyah yang diwahyukan di Mekah. Jadi, sesungguhnya  Al-Quran yang utuh belum ada ketika itu, melainkan baru terturun sebagian ayat-ayat dan surat-nya. Para ahli memperkirakan paling banyak dua pertiga Al-Quran saja yang terturun dikala itu, dan belum ada Quran-utuh. Tantangan Surat Semisal Quran (SSQ) yang paling awal ini terjadi di surat 17 Al Israa’, tahun 621 sebelum hijrah (kemudian disusul pada tahun yang sama, dua tantangan berikutnya, kecuali surat 2:23 ditahun-tahun lebih lanjut).  Maka porsi Quran-serakan mentah (unfinished scattered Quran) manakah yang bisa ditantangkan Muhammad, mengingat Quran yang utuh belum ada, berceceran ayat-ayatnya tanpa mushaf, sementara ayat dan surat terus bertambah setiap waktu mengikuti wahyu yang terturun?! Jelas tantangan konyol ini tak bisa di follow- up dan eksekusikan oleh siapapun termasuk Muhammad.

Muhammad tampaknya diam-diam menyadari hal ini setelah wahyu tantangan terlanjur diproklamasikan. Itu sebabnya iapun buru-buru mengubahnya menjadi 10 surat, agar tantangan tersebut bisa di alokasi dan di kwantifikasikan diantara 50 -70 surat-surat yang mungkin sudah terkumpul acak disaat itu. Rupa-rupanya orang-orang Mekah mencium “game” yang dimainkan Muhammad, seperti yang tercermin dalam ayat tuduhan seperti yang dikutip diatas: “…mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya…”

Dapat dibayangkan betapa besar cemoohan orang-orang Mekah ketika perubahan ini diumumkan atas nama Allah SWT. Sayang Quran dan Hadis tidak mencatat semua reaksi dan bukti-bukti yang orang-orang Mekah lontarkan, kecuali hanya mempromosikan dalil-dalil Muhammad saja secara sepihak. Tetapi benar, sekalipun tantangan sudah dilontarkan (dan ternyata salah wahyu), dan bahkan sudah diubah, Muhammad ternyata masih dalam tekanan ejekan yang sangat besar. Orang-orang kafir tentu bertanya-tanya sinis,  kenapa mendadak turun menjadi 10 surat, kenapa tidak berani lebih jauh?

Ya, jikalau kita ada ditengah-tengah Muhammad, tentu pantas kitapun akan bertanya, kenapa Allah mendadak sontak menurunkan tantanganNya menjadi 10 Surat, bukan 19, 9, 7 SSQ dll, angka-angka ganjil favoritnya Muhammad?  Sayang Quran tidak menuliskan risaunya hati Muhammad atas ejekan semacam ini, tetapi kegelisahannya terwujud dari sikapnya yang sangat reaktif untuk membuat Allah sekali lagi mengulang-ubah wahyu-Nya, menjadi angka yang tidak bisa dipermasalahkan lagi, yaitu: SATU SURAT saja!  Bukankah setiap Surat Quran yang mana saja adalah hasil pewahyuan yang sama adikodratinya, dan sama melebihi kemampuan manusia dan jin untuk menirukannya? Bukankah setiap sesuatu dari Al-Quran itu adalah tertulis dalam kitab yang nyata Lauh Mahfuzh dan menggentarkan? Jikalau begitu maka penetapan 10-SSQ adalah  berlandaskan iman yang buruk. Ini tentu mengganggu dan menggelisahkan. Maka tidak mengejutkan bahwa Muhammad pada akhirnya terpaksa harus mengubah kembali “wahyu-sepuluh” menjadi “wahyu-satu” SSQ, karena keyakinan bahwa setiapnya adalah juga mukjizat langit yang sama utuh dan agungnya dengan Surat yang lain. Ini lebih make sense. Dan tampaknya Muhammad puas dengan “wahyu-satu” ini sehingga 1-SSQ itulah yang diulanginya dimasa-masa kemudian (surat 2:23), demi mengekalkan pilar Quran sebagai wahyu surgawi!


Tantangan Quran disambut
Kini kita sadar bahwa tantangan dan perubahannya itu hanyalah sebuah itjtihad atau game mainan Muhammad, dan tak ada kaitannya dengan pembuktian asal usul Quran yang ilahi. Maka sesungguhnya masuk menyambut tantangan tersebut hanyalah sebuah kebodohan belaka. Namun demi menghindarkan penggelapan dan penyesatan Islamisme, maka kita sodorkan bukti-bukti telak yang memperlihatkan bahwa ayat tantangan yang merupakan pilar penyanggah Quran yang terbesar ini sudah diruntuhkan tanpa bisa dibela sedikitpun! Kita hanya petikkan beberapa bukti  saja:


A. Dr.William Campbell telah menyodorkan tiga SSQ yang paling mudah dan terbuka untuk dicarikan sumbernya! Itu terambil dari Kitab Mazmur (Zabur) pasal 103 (dengan 22 ayat) yang terkenal dari Raja Daud, yang secara objektif dinilai mengandung keindahan dan nilai-nilai puitis yang khas Ibrani. Kemudian disusul dengan dua petikan kotbah Yesus di Bukit, Matius 6:16-24 dan juga Matius 7:1-5. Inilah Surat-surat yang terambil dari Alkitab yang dianggap korup oleh setan-setan Kristen, jadi memenuhi syarat bahwa ayat dan surat ini adalah ciptaan manusia dan setan.

B. Banyak orang Muslim bahkan tidak tahu bahwa Al-Quran koleksi Ubai bin Ka’b (mushaf Ubai) sesungguhnya memuat dua Sura extra, yaitu Sura 115 (Sura al-Khafdh) dan Sura 116  (Sura al-Khal’) yang kini dihilangkan dari Al-Quran yang dibaca oleh para Muslim dewasa ini. Padahal Ubai adalah salah satu dari penulis dan pengajar Al-Quran yang paling dipuji oleh Muhammad. Begitu pula dengan Quran koleksi Ibnu Abbas juga memuat kedua Sura tadi, dan bahkan Umar bin Khattab sendiri pernah mengajikan kedua Sura tersebut. Kedua Sura ekstra itu secara lengkap disajikan berikut ini (Rekonstruksi Sejarah al-Quran, by Taufik Adnan Amal, p.231).


Sura al-Khafdh
Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang
(1) Ya Allah, kami memohon kepada-Mu pertolongan dan ampunan.
(2) Kami menyanjung-Mu dan tidak bersikap kafir kepada-Mu.
(3) Kami ungkapkan puja-puji kepada-Mu dan kami tinggalkan
orang-orang yang berlaku curang kepada Mu.


Sura al-Khal’
Dengan nama Allah yang pengasih, yang penyayang
(1) Ya, Allah, kepada-Mu lah kami menyembah.
(2) Dan kepada-Mu lah kami bersembahyang serta bersujud.
(3) Dan kepada-Mu lah kami berjalan bergegas-gegas serta bersegera.
(4) Kami berharap akan limpahan rahmat-Mu.
(5) Dan kami takut akan azab-Mu.
(6) Sesungguhnya azab-Mu menimpa semua orang yang kafir.


Oleh pihak Islam main-stream kedua surat itu dianggap sebagai bukan bagian Al-Quran. Namun, sebelum di vonis-mati begitu, semestinya para Sahabat Nabi harus memastikannya dengan cara mempertandingkan kedua surat tersebut terhadap surat Al-Quran yang lain, sebagaimana yang telah dirumuskan – dalam metode dan kriteria — oleh Muhammad sendiri, demi menyingkirkan setiap surat yang tidak sejatinya Al-Quran. Ketika kedua “surat Ubai” itu dipertandingkan terbuka dengan surat Quran 106 atau 103 misalnya, maka apakah yang bisa diputuskan oleh dewan juri tertinggi dari otoritas dunia? NOL! Itu sebabnya tak ada para sahabat Nabi (dan kini para sarjana Muslim) yang sanggup menyelenggarakan kontes SSQ ini untuk kedua surat Ubai ini, dan tak ada nyali Muslim yang menjurikannya.

C. Inilah Sura Ad-Du’a (the Prayer), karangan manusia biasa, yang mengambil sumber pengilhaman dari Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus Al-Masih kepada murid-muridNya:



Surat Ad-Du’a (“The Prayer”)
(wa idh kalal hawari’yoona lil-maseehi rabbana allimna salatan turdee rabbal alameen)
Dan ketika para murid berkata kepada Kristus: Ya Tuhan, ajarkanlah kami doa yang menyenangkan hati Tuhan yang empunya bumi ini (1)
(kala farfa’oo ilal alya’ee kuloobakum wala tukarrirul kalama kalmunafikeen)
Ia berkata, maka angkatlah hatimu ke surga
Dan janganlah mengulang-ulang perkataan (suka mengucapkan kata-kata yang berlebihan) seperti orang-orang yang munafik (2)
(huwal ladhi sawakumu bir-roohi abna’an lahoo idh nafakha min roohihi fi sudoorikum roohan lakum faknutoo lahu khashi’een)
Dialah yang menjadikan kamu anak-anak yang rohani bagi-Nya, ketika Ia menghembuskan rohmu ke dalam dadamu
Jadi abdikanlah dirimu kepada-Nya dengan takut dan gentar (3)
(wakhatiboohu kabaneen)
Dan panggillah Ia seperti [yang dilakukan] anak-anak (4)
(abanal ladhi fissamawati liyatakaddas’ismuka, liya’ti malakootuka, litakun mashee’atuka, ila abadil abideen)

Bapa kami yang ada di dalam surga, dikuduskanlah namamu;
Datanglah kerajaanmu; jadilah kehendakmu untuk selama-lamanya (5)
(kama fissama’ee kadhalika ala ardi fi kulli makanen wafi kulli heen)

Di bumi seperti di dalam surga, di segala waktu dan tempat (6)
(Rabbana khubzana kafafana a’tinal yawma waghfer lana dhunoobana ya arhamar rahimeen.)

Oh Tuhan, berikanlah pada kami makanan pada hari ini
Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, Ya yang maha pengasih (7)
(kama naghfiru nahnoo likulli man kanoo bihakkina mukhti’een)
Sebagaimana kami juga mengampuni mereka yang bersalah kepada kami (8)
(Rabbana wala tudkhilna fi tajrubaten inna alashirriri bika nasta’een)
Tuhan kami, janganlah membawa kami ke dalam pencobaan;
Menghadapi yang jahat, kami hanya mencari pertolongan daripadaMu (9)



Surat Al-Muslimoon


Surat Al-Muslimoon
(1) Alif Laam Shaad Miim
(2) Kul ya ayoohal muslimoona innakom lafee dalalen ba’eed.
Katakan: O Muslim, engkau jauh tersesat.
(3) Innal latheena kafaroo bil’lahee wa maseehihee lahom fil akhiratee naroo jahannama wa athabon shadeed.
Mereka yang tidak percaya kepada Tuhan dan Kristus akan masuk ke dalam api neraka dan akan disiksa dengan siksaan yang berat.
(4) Wujoohon yawma’ithen saghiraton mukfahirraton taltamisoo afwal lahee wal’lahoo yaf’aloo ma yureed.
Pada hari itu akan ada banyak muka yang akan dihinakan dan digelapkan, dan mencari pengampunan dari Tuhan, dan Tuhan akan melakukan apapun yang Ia kehendaki
(5) Yawma yakuloor’rahmanoo ya ibadee kad an’amtoo alal’latheena min kablikom bil’hooda munazalan fit-tawrati wal-injeel.
Pada hari itu, Yang Maha Pemurah akan berkata: O hamba-hambaku yang kuberi karunia dengan bimbingan yang kunyatakan padamu di dalam Torat dan Injil.
(6) Fama kana lakom an takfuroo bima anzaltoo wa tadalloo sawa’assabeel.
Seharusnya engkau tidak menolak untuk mempercayai apa yang Aku telah wahyukan kepadamu, dan tidak menyimpang dari jalan yang lurus.
(7) Kaloo rabbana ma dalalna anfusuna bal adallana manid’da’a annahoo minal mursaleen.
Mereka berkata: Kami tidaklah menyimpang dari dalam diri kami sendiri, tetapi Dia yang mengklaim bahwa ia adalah Sang Utusan Tuhan, telah menyesatkan kami.
(8) Wa ith kalal lahoo ya muhammada aghwayta ibadee wa ja’altahom mial kafireen.
Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan: O Muhammad, engkau telah menggoda hamba-hambaKu dan telah menyebabkan mereka menjadi tidak percaya.
(9) Kala rabbi innama aghwaniyash shaytanoo innahoo kana libanee adama A’zamal mufsideen.
Ia menjawab: O Tuhanku, Setanlah yang telah menggodaku dan ia benar-benar yang paling tersesat dari antara anak-anak Adam
(10) Wayaghfirool lahoo lillatheena taboo mimman aghwahumool insanoo wa yab’athoo billathee kana lish’shaytanee naseeran ila jahannama wabi’sal maseer.
Dan Tuhan akan mengampuni mereka yang telah digoda oleh manusia dan kemudian bertobat, tetapi Ia akan memasukkan ke dalam neraka orang [Muhammad] yang menjadi penasehat Setan, sebuah akhir perjalanan yang tidak lagi ada harapan.
(11) Wa in kadal lahoo amran fainnahoo a’lamoo bima kada wahoowa ala kulli shay’en kadeer.
Dan jika Tuhan memerintahkan sesuatu, Ia paling tahu apa yang Ia perintahkan, dan mengenai apa perintahnya itu; dan Ia sanggup melakukan segala hal.


Maka setelah penyodoran ini, apakah para-pakar Islam dapat dengan obyektif dan lapang dada memutuskan bahwa Al-Fatihah lebih hebat? Redaksi bahasanya lebih tinggi? Lebih luas relevansi dan applikasinya? Cakupannya lebih mulia dan universal? Pentaskanlah kontesnya keseluruh dunia! Itu adalah sunnah Nabi!

Kita bisa pastikan, pemenangnya tidak pernah muncul. Penjuriannya mustahil. Walau jelas ini untuk memenuhi undangan tantangan terhormat dari mulut Muhammad sendiri. Yang muncul adalah segala macam tuduhan, terror dan amok, dan pembunuhan yang mengerikan!  Ingat, Muhammad semula melontarkan tantangan SSQ untuk Quran-Utuh, dan itu salah wahyu, dengan akibat tidak bisa difollow-up dan di-eksekusikan. Kini, tantangan revisi-nyapun tak bisa di-eksekusikan oleh Muslim! Jadi betapa inkonklusif , bodo, dan sia-sianya tantangan Allah dan Muhammad yang satu ini! Apakah Ia betul Allah, dan betul nabi? Yang jelas, FIRMAN MACET TANPA SOLUSI, tak terpulihkan!

5 komentar:

  1. Suratnya bisa dites dengan rumus yg ada disini http://imamadi83.blogspot.co.id/2012/02/membuat-surah-yang-menyamai-al-quran.html

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Jawaban tantangannya mana? Ayooo dong bisa gak buat? Ahh situ cuma ngomong ngalor ngidul doang, tanpa menjawab tantangannya, saya bilangin kalau hanya ngomong doang burung BEO juga bisa

    BalasHapus
  4. Betul.Ndk jelas ngalor ngidul. Klo memang ada. Sudah runtuh pengikut Nabi Muhammad.bukan malah menjadi banyak pengikutnya. Pake nalar.yg bisa menjawab tantangan-nya. Menjadi pahlawan sepanjang masa. Krn menyelamatkan umat manusia. Tapi mana..sampe skrg tidak ada yang bisa menjawab tantangan-nya.padahal cuma 1 surat pendek (3 ayat) .

    BalasHapus
  5. HI..RAJA ROMAWI, SUDAH DINUBUATKAN BAHWA ISLAM AKAN MERAJAI DUNIA INI, SAMPAI AKHIR ZAMAN DATANG...ISA ALMASIH BERPESAN AKAN ADA BANYAK NABI-NABI PALSU DAN PENGIKUTNYA KELAK, BERHATI-HATILAH, NANTIKAN AKU DATANG KEDUA KALINYA

    BalasHapus