Minggu, 16 September 2012

Kristen Bukan Agama Penjajah

KRISTEN ATAU ISLAM YG LBH DULU MASUK INDONESIA?

Sumber :
Dr. Alwi Shihab Phd. Buku Membendung Arus : Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, Mizan, Bandung, 1998. halaman 30-31, ISBN : 979-433-478-3

alwi-shihab-membendung-arus-vt2076.html#p10995


Dr. Alwi Shihab, menulis dalam bukunya (disertasinya) menjelaskan kepada kita bahwa Agama Kristen lebih dulu masuk ke wilayah kepulauan Nusantara sejak periode Bapa-bapa Kristen awal.



Kutipan :

Beberapa Sarjana Kristen berpendapat bahwa utusan Kristus kemungkinan sudah tiba di wilayah yang kini disebut Indonesia pada periode Bapa-bapa Kristen awal. Dr. Kurt Koch menyatakan bahwa penginjil Thomas (salah satu murid Kristus), yang bekerja di India, mungkin saja berlayar ke Indonesia bersama para pedagang India (reff : Kurt Koch, The Revival in Indonesia, Michigan : Kregel Publication 1972, halaman 13).

Dalam bukunya Church History in Indonesia, Muller Kruger menyatakan bahwa, menurut sumber-sumber Arab kuno, pada pertengahan abad ke 7 sebuah komunitas umat kristen hidup di Sibolga, Sumatera, dan membangun gereja. Sementara itu rute perdagangan darat dan laut dari Asia Tengah ke Asia Timur dilewati orang-orang Eropa, yang beberapa diantara mereka adalah misionaris.

Menurut Cosmas (Indicopleustes), seorang pendeta asal Mesir yang menulis pada sekitar 547 Masehi dalam The Christian Topography, penerjemah : JW Mc. Crindle (London : The Hakluyt Society, 1897), pada sekitar abad ke-lima Masehi terdapat sebuah gereja orang-orang Kristen Persia "Sielediba" (Cylon), dengan seorang presbiter yang ditunjuk dari Persia. Penuturan ini memperkuat hipotesis bahwa beberapa orang Kristen sudah datang ke kepulauan Nusantara pada abad-abad pertama munculnya Agama Kristen (Reff : Wolter B Sidjabat, Religius Tolerance and The Christian Faith, Jakarta : Badan Penerbit Kristen, 1965, halaman 30).

Namun demikian, nasip agama Kristen tidak begitu jelas di wilayah ini. (Untuk paparan mendetail mengenai kedatangan awal agama Kristen di Indonesia, lihat Theodor Muller Kruger, Sejarah Geredja di Indonesia, Jakarta : Badan Penerbitan kristen, 1959, halaman 7-21)



Keterangan :

Buku Membendung Arus : Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, tulisan Alwi Shihab ini adalah merupakan disertasi Doktor beliau di Universitas Temple Amerika Serikat, 1995.




 http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_di_Indonesia

 Umat Katolik Perintis di Indonesia: 645 - 1500

Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya". yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.

Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)


Awal mula: abad ke-14 sampai abad ke-18

Dan selanjutnya abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan.

Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis yang berdagang rempah-rempah. [18]

Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat. [19]

Selama masa VOC, banyak praktisi paham Katolik Roma yang jatuh, dalam hal kaitan kebijakan VOC yang mengutuk agama itu. Yang paling tampak adalah di Flores dan Timor Timur, dimana VOC berpusat. Lebih dari itu, para imam Katolik Roma telah dikirim ke penjara atau dihukum dan digantikan oleh para imam Protestan dari Belanda.[18] Seorang imam Katolik Roma telah dieksekusi karena merayakan misa kudus di suatu penjara semasa Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai gubernur Hindia Belanda.

Pada tahun 2006, 3% dari penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut Protestan. Mereka kebanyakan tinggal di Papua dan Flores.




Noorsena, Bambang, The Flash Back of The Indonesian History, Syriac Christian in India and in Indonesia, March 10th, 2000.

The Assyrian Church had landed down in Indonesia since 7th Century. A fact that the Assyrian Church had landed down at Barus (645 C.E). This history had been recorded by a moslem scholar Syaikh Abu Salih al-Armini in his book under title “Tadhakur fiba Akhbar min al-Kana’is wa al-Adyar min Nawabin Mishri wa al-Iqta’aih” ( The list of the news on the churches and the monastries in the Egypt provinces and surrounded). [1] The list of the churches and monastries of the original manuscripts in Arabic with 114 pages, which contain the news about 707 churches and 181 the Christian monastries which spread out around Egypt, Nubia, Abysina, West Africa, Spain, Arabic and Indian. Within his book (Abu Salih), the land of Indonesia still was put in the “al-Hindah (Indian)” territory.
Absolutely at the times, the country of the farthest sea was called Hindia too and the Ocean was put into the South of Indian until to the East was called Indian sea.[2] After that Abu Salih wrote down about the churches at Kullam (Quilon) and the churches at Fansur (Barus). Thus we read Abu Salih explanation in the Arabic text: “Fansur, fiha ‘ idda biya’ wa jami’ min biha min an-Nashara Nashatorah, wa hal fiha kadzalika. Wa hiya allatiy yasala minha al-Kafur, wa hadza al-Sinfu yanbuka min al-khasah. Wa hadzihi al-Madinat biha bi’at wahidat ‘ala ismi Sittna al-Saydat al-Adzra’ mar’at Maryam. [3] Fansur, overthere there was many churches and all the Christians and they were the Eastern Syrian [4] and so this is the condition of the churches. At the town there was established the church with the name : Sayidatina Siti maryam al-Adzra ( our Lady, the Pure Virgin Mary). Abu Salih al-Armini who worked at the third time of the last khulafat/the caliph of Fatimiyah in Egypt (115 – 1171 C.E) who write down the books based on the Arabic sources beyond the time, such as : Abu al-Hussain ‘Ali bin Muhammad al-Shabushti, Kitab al-Adyar (990 C.E) and Abu Ja’far Ath Thabariy, Tarikh ar-Rasul wa al-Muluk (923 C.E). At the center of Christianity knowledgement in the past time such as, Nisibis, Harran, Yundi Shapur and Bagdad, the Christian scholars work together with moslem scholars. The top achievement of the relationship between Christians-Moslems was in the science development at the Arabic land was happened when the time of the caliph al-Ma’mun 833 C.E that had opened “Bait al-hikmah” (House of Wisdom), which was led by two Christian monks: Yusuf bin ‘Adi and Hunayn bin Ishaq. The Christians side had opened the treasure of the Syrian/Aramaic culture and had translated the Philosophy and the Art of the Greek into Arabic.[5] There is another story on Chritianity in Indonesia according to the history of Indonesia before and after 645 C.E such as Mar Abdhi’sho (Arab: ‘Abdi ‘Isa) had been ordained as Metropolitan of Chaldean Church (Rules of Ecclesiastical Judments 1318 C.E had mentioned that “Metropolitan of the isles of the Sea…Dabag, Sin and Masin” [6] His writing was recognized in the theology and in the canonic of law of the church in Aramaic/Syriac and Arabic. Dabag, sometimes it was spelled as Dabag and Jabag it is an Arabic word for Java and Sumatera at one time since 10th centuries. Patriarkh Elias V in 1503 C.E had sent 3 Metropolitan in Indian and the isles of the sea between Dabag, Sin and Masin. [7] They are Mar Jab ‘Alaha, Mar Denha and Mar Ya’qub. [8]

Footnote:

1. Abu Salih The Armenian, The Churches and Monastries of Egypt and Some Neighbouring Countries. Edited by B.T.E. Evvets (Oxford:At the Clarendon Press, 1969), p.16
2. Ibid, p.299.
3. Y.W.M. Bakker,”Umat Katolik Perintis Indonesia” (The Catholic religion is the pioner of Indonesian), dalam M.P.M Muskens Pr, Sejarah Gereja Katolik Indonesia (Jakarta: Bagian Dokumentasi Penerangan MAWI, 1976), p.38.
4. Prof. Sutjipto Wiryosaputro, “Agama Kristen telah meluas di Indonesia sejak abad ke 7” (The Christian had widely spread out in Indonesia since 7th Century), dalam Majalah Manusia Indonesia, No.4/1970, p. 151-156.
5. Y.W.M. Bakker, Op.Cit, pp.30-31.
6. John C. England, The Hidden History of Christianity in Asia: The Churches of the East before 1500 (New Delhi-Hongkong: ISPCK and CCA, 1996), p.98.
7. Ibid.
8. Y.W.M. Bakker, SJ. Op.Cit, p.34 




TAMBAHAN NOTE
http://www.religion-online.org/showchapter.asp?title=1553&C=1365

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar