Senin, 10 Desember 2012

Isa Almasih Telah Wafat

Isa Almasih Telah Wafat

Kepercayaan tentang masih hidupnya Nabi Isa as di langit,
merupakan salah satu bahaya besar bagi agama Islam.

Kaum Muslimin yang percaya bahwa Nabi Isa as masih hidup di
langit dengan jasad kasarnya dengan tidak sadar mereka
telah mendukung dan membantu kelangsungan hidup agama
Kristen serta lebih memuliakan Nabi Isa as dari pada Nabi
Besar Muhammad s a.w. sendiri.

Kaum Muslimin yang beranggapan bahwa Nabi Isa as masih hidup
di langit dengan badan kasarnya, mereka telah masuk kedalam
golongan orang-orang yang syirk. Tentang syirk Allah swt
berfirman: "Innasy syirka lazulmun azim." Sesungguhnya syirk
itu zulman yang besar.

Sehubungan dengan masalah wafatnya Nabi Isa as ini, bahwa
maju dan hidupnya agama Islam banyak bergantung kepada
wafatnya Nabi Isa as

Dalil Pertama

Allah swt berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 117:
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Artinya: ".. dan aku sementara menjadi penjaga atas mereka
selama aku di antara mereka, akan tetapi setelah Engkau
mewafatkan aku, maka Engkaulah yang menjadi Pengawas
mereka dan Engkaulah Saksi atas segala sesuatu."


Keterangan: Dalam ayat ini Nabi Isa as menjawab kepada Allah
swt. bahwa beliau selalu berusaha agar pengikut-pengikutnya
jangan sampai menyembah tuhan lain kecuali Allah swt.
Seterusnya - dengan jelas - beliau bersabda: "Tetapi setelah
Engkau mewafatkan aku, aku tidak tahu apa-apa yang mereka
kerjakan."

Perkataan tawaffa dalam ayat itu artinya mati (kematian)
sebagaimana kita baca dalam surah Ali Imran ayat 193:
Artinya: ".. dan wafatkanlah kami dalam golongan orang-orang
yang saleh."



Dalil Kedua

Allah swt berfirman dalam surah Ali Imran ayat 55:

Artinya: Ingatlah ketika Allah berfirman "Hai Isa,
sesungguhnya Aku akan mematikan engkau secara biasa dan akan
meninggikan derajat engkau disisi-Ku dan akan membersihkan
engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar dan akan
menjadikan orang-orang yang mengikut engkau diatas
orang-orang yang ingkar hingga Hari Kiamat."


Keterangan: Di dalam Hadits Bukhari di bawah ayat itu
Ditulis didapati keterangan, bahwa Hadrat Ibnu Abbas r.a.
berkata: mutawafika artinya mematikan kamu.

Dan tentang arti kata: (rofiuka) di dalam Hadits
Kanzuh Ummal jilid II hal. 53 terdapat keterangan sebagai
berikut:

Artinya: Apabila seorang abdi merendahkan hatinya, Allah
meninggikan derajatnya sampai langit ketujuh.

Dalil Ketiga

Artinya: Al Masih ibnu Maryam tidak lain melainkan
seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu Rasul-Rasul
sebelumnya. Dan ibunya adalah seorang yang amat benar.
Mereka kedua-duanya biasa makan makanan.


Dalam surah Al-Anbiya ayat 8 Allah swt berfirman lagi:

Artinya: "Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang
tiada memakan makanan dan tidak (pula) mereka itu
orang-orang yang kekal."


Keterangan: Nabi Isa as pun tidak terkecuali waktu beliau
hidup di dunia ini harus makan Tetapi sekarang beliau tidak
makan, artinya sudah wafat.

Dalil Keempat

Allah swt berfirman dalam surah Ali Imran ayat 144.

Artinya: "Dan Muhammad tiada lain melainkan seorang
Rasul, sesungguhnya telah berlalu Rasul-Rasul sebelumnya."


Keterangan: Di dalam ayat lain dalam Quran Karim Allah swt
berfirman: (Surah Al Baqarah ayat 141).

Artinya: "Itulah suatu ummat yang telah berlalu sesudah
habis masanya."


Dalam kamus bahasa Arab "Lisanul Arab," terdapat tulisan
(keterangan) yang bunyinya:

Artinya: Ia berlalu, apabila sudah mati.

Maksud ayat itu jelas sekali, bahwa semua Rasul yang datang
sebelum Muhammad saw semuanya sudah wafat.

Dalil Kelima

Allah swt herfirman dalam surah Al A'raaf ayat 25:

Artinya: "Di situlah kamu akan hidup dan di situlah kamu
akan mati dan dari padanyalah kamu dikeluarkan. "


Keterangan: Jadi menurut hukum (peraturan) Allah swt
sebagaimana tersebut dalam ayat di atas, manusia hidup dan
mati di atas dunia inilah. Manusia tidak bisa hidup di luar
bumi ini tanpa hawa (udara) dari bumi. Sebab itu Nabi Isa as
pun sudah wafat.

Dalil Keenam

Allah swt berfirman dalam surah Maryam ayat 31:

Artinya: "Dan Dia menjadikan aku (Isa as) seorang yang
diberkati dimana saja aku berada dan Dia memerintahkan
kepadaku (mendirikan) sholat dan menunaikan zakat selama aku
hidup. "


Keterangan: Allah swt memerintahkan kepada Nabi Isa as agar
selama beliau (Nabi Isa as) hidup harus mendirikan sholat
dan membayar zakat. Tetapi pada dewasa ini beliau tidak
membayar zakat lagi, artinya beliau sudah wafat.

Dalil Ketujuh

Allah swt berfirman dalam surah Anbiya ayat 34:

Artinya: "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang
manusiapun sebelum kamu. Maka karena itu apakah jikalau kamu
mati mereka akan kekal."


Keterangan: Menurut ayat ini, apabila Nabi Muhammad saw
wafat, tidak mungkin bagi orang-orang lain, walaupun Nabi
Isa as dapat hidup untuk selama-lamanya.

Dalil Kedelapan

Di dalam kitab Hadits Kanzul Ummal jilid IV hal. 160,
Hadhrat Fatimah r.a. menerangkan bahwa Rasuluhlah saw
bersabda:

“Sesungguhnya Isa ibnu Maryam usianya seratus dua
puluh tahun”.


Dalil Kesembilan

Rasulullahh saw bersabda (lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid II
hal. 100):

”Jika Musa as dan Isa as hidup, mereka harus ikut
aku.”


Soal: Banyak orang yang salah menafsirkan surah An-Nisa ayat
157-158. Menurut mereka, Nabi Isa as tidak disalib, tetapi
diangkat oleh Allah swt ke langit. Yang disalib itu adalah
orang lain. (Oleh Allah swt diganti dengan orang lain yang
diserupakan dengan Nabi Isa as). Ayatnya berbunyi:

Artinya: “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula
mematikannya di atas salib akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti yang mati di atas salib. Malahan Allah swt
telah meninggikan derajatnya kepada-Nya”.


Jawab & Keterangan: perkataan sholabuhu dalam ayat tersebut,
bukan berarti bahwa orang-orang Yahudi tidak menaruh Nabi
Isa as di atas salib, tetapi yang sebenarnya - mereka tidak
menyalibkannya sampai mati.

Didalam kamus Al Munjid kita baca:

Artinya: "Ia menyalib tulang-tulang artinya mengeluarkan
sumsumnya."
Sedangkan Nabi Isa as tidak dipatahkan
tulang-tulangnya.

Adapun maksud perkataan syubha bukan berarti bahwa Nabi Isa
as disamarkan (diganti) dengan orang lain, tetapi beliau
disamarkan seolah-olah telah mati di atas kayu salib. Yang menajdi pokok pembicaraan adalah nabi Isa [bukan orang lain], jadi mestinya Nabi Isa yang disamarkan [seperti mati], bukan orang lain yang disamarkan seperti Nabi Isa.

Tentang perkataan anjalna sudah dijelaskan dalam dalil kedua.

Soal: Banyak orang yang berkata, bahwa menurut Hadits
Bukhari:

Nabi Isa as akan turun dari langit.

Jawab pertama: Di dalam hadits tersebut tidak terdapat
perkataan langit.

Jawab kedua: Perkataan anjalna artinya bukan turun dari
langit. Contohnya yang lain kita baca dalam surah Al-Hadid
ayat 25:

Artinya: "Dan Kami turunkan besi."

Semua manusia tahu dari mana datangnya besi.

Jawab ketiga: Maksud perkataan "Isa Ibnu Maryam," tidak
berarti bahwa Isa Ibnu Maryam yang dulu yang akan datang
(sebab Isa Ibnu Maryam sudah wafat), tetapi yang akan datang
itu orang lain yang sifat-sifatnya seperti Nabi Isa as,
sebagaimana Nabi Yahya as datang dalam sifat-sifat Nabi
Ilyasa as (Matheus Bab 17 ayat 12-13).

Semoga Allah swt memberi taufik dan hidayat kepada semua
kaum Muslimin agar mereka mengerti dan meyakini tentang
wafatnya Nabi Isa as sebagaimana dijelaskan oleh dalil-dalil
tersebut di atas, sebab keyakinan atau kepercayaan tentang
wafatnya Nabi Isa as itu mengandung arti sukses dan
kehormatan bagi agama Islam dan Rasulullah saw.

-----------------------------------------------------------------

PANDANGAN BERBEDA ALIM ULAMA DALAM MEMAHAMI KEWAFATAN ISA ALMASIH

Wa’alaikum salam wr. wb. 

Alhamdulillah sehat, terima kasih. Pertanyaan sangat bagus sekali. Dalam keyakinan agama Islam, sebagaimana sama-sama kita ketahui, para ulama sepakat bahwa Nabi Isa as tidak meninggal dibunuh atau disalib, sebagaimana firman Allah yang akan saya jelaskan di bawah nanti. 

Apakah Nabi Isa as telah meninggal dunia? Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Isa as belum meninggal dunia, ia diangkat oleh Allah ke langit, dan nanti ketika menjelang Kiamat tiba, Allah akan menurunkannya kembali untuk melawan dan membunuh Dajjal. Hal ini berdasarkan banyak hadits yang menjelaskan hal itu, yang menurut para ulama, haditsnya mencapai mutawatir. 

Sedangkan menurut sebagian kecil ulama lainnya, Nabi Isa as telah meninggal dunia. Namun, ia meninggal bukan karena dibunuh atau disalib, tetapi diwafatkan oleh Allah seperti yang lain. Penjelasannya, akan saya coba kupas di bawah nanti.

Kini, mari kita lihat ayat yang dimaksudkan oleh saudara kita, Bapak Pendeta tadi. Ayat tersebut ada dalam surat Ali Imran (surat ketiga), ayat 55. Bunyinya  adalah sebagai berikut: 

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

Dalam ayat di atas, Allah menggunakan kata mutawaffîka, yang diambil dari kata wafat yang salah satu artinya adalah mati. Departemen Agama RI menerjemahkannya sebagai berikut: 

“Ingatlah ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir".

Lalu apa yang dimaksud dengan kata: ‘mutawaffîka’ dalam ayat di atas? Apakah betul berarti meninggal dunia?

Imam ath-Thabari, al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, menukil banyak pendapat para ulama seputar maksud kata dimaksud. Secara umum, penulis dapat mengelompokkannya sebagai berikut: 

Pendapat pertama, mengatakan bahwa arti dari kata ‘wafat’ dalam ayat di atas adalah tidur (an-naum). Maksud ayat di atas menurut pendapat ini: “Sesungguhnya Aku menidurkanmu dan mengangkatmu ke langit ketika kamu tidur”. Jadi, pendapat pertama mengatakan, bahwa Nabi Isa as tidak meninggal dunia, hanya ditidurkan oleh Allah, lalu diangkat ke langit ketika ia tidur. 

Pendapat ini berhujjah, di antaranya,  karena kata ‘wafat’ dalam al-Qur’an juga digunakan untuk maksud tidur (an-naum), misalnya seperti dalam firman Allah di bawah ini: 

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَار [الأنعام [6]: 60]

Artinya: “Dan Dia lah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari” (QS. Al-An’am [6]: 60).

Dalam ayat di atas, Allah menggunakan kata ‘wafat’ dan yang dimaksudkan adalah tidur, bukan wafat meninggal dunia. 

Dalam ayat lain pun demikian, misalnya dalam surat az-Zumar ayat 42 di bawah ini: 

اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا

Artinya: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya” (QS. Az-Zumar [39]: 42). 

Dalam ayat di atas, Allah juga menggunakan kata ‘wafat’ untuk maksud meninggal dunia dan tidur. 

Lebih jelas lagi, apabila kita melihat doa yang diajarkan Rasulullah saw ketika bangun dari tidur di bawah ini: 

الْحَمْدُ لله الَّذِي أحْيَانَا بَعْدَمَا أمَاتَنَا وإلَيْهِ النُّشُورُ

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami (maksudnya tidur), dan hanya kepadaNya lah akan dibangkitkan”. 

Dari pemaparan di atas, jelas bahwa kata ‘wafat’ dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, di antaranya berarti tidur (an-naum). 

Lalu pertanyaannya, mengapa kata ‘wafat’ dalam ayat 55 surat Ali Imran tersebut, diartikan dengan tidur, bukan dengan meninggal dunia? 

Hal ini karena dalam ayat lain, Allah menegaskan secara jelas, bahwa Nabi Isa as itu tidak meninggal dunia, tidak dibunuh, juga tidak disalib. Perhatikan ayat-ayat dimaksud: 

وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا * وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا * بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Artinya: “Artinya: “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisa [4]: 156-158).

Dalam ayat di atas, Allah secara tegas mengatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak membunuh Nabi Isa as dan tidak pula menyalibnya, tapi yang mereka bunuh dan salib itu adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa as. Allah mengangkat Nabi Isa ke langit, untuk diturunkan lagi kelak ketika kiamat sudah dekat, untuk membunuh Dajjal yang sudah diturunkan sebelumnya, sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits shahih yang mencapai mutawatir.

Bahkan, dalam ayat ke 159 nya Allah lebih tegas lagi mengatakan: 

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Artinya: “Tidak ada seorangpun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya” (QS. An-Nisa [4]: 159).

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan, bahwa dhamir dari kata ‘mautih’ (sebelum kematiannya), kembali kepada Nabi Isa as. Jadi maksud ayat di atas, lanjutnya: “Tidak ada satupun ahlul kitab kecuali akan beriman kepada Nabi Isa as, sebelum Nabi Isa as meninggal nanti. Yaitu, ketika Allah menurunkannya ke muka bumi sebelum kiamat tiba. Pada saat itu, seluruh ahlul kitab akan mengimaninya, karena ia akan menetapkan tebusan, dan ia tidak menerima kecuali agama Islam” (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Manshurah: Maktabah al-Îmân, 1996, 2/28). 

Di tempat lain Ibnu Katsir juga mengatakan: “Sebelum kematiannya’, maksudnya adalah sebelum kematian Nabi Isa as. Ini menunjukkan bahwa seluruh ahlul kitab akan  membenarkannya ketika diturunkan untuk membunuh Dajjal, sehingga seluruh agama menjadi satu, yaitu hanya agama Islam, agamanya Nabi Ibrahims as” (Ibid., 2/ 281). 

Pendapat pertama ini, menurut Ibnu Katsir adalah pendapat jumhur mufassirin, kebanyakan para ulama (Ibid., 2/28).

Pendapat kedua mengatakan, bahwa kata ‘wafat’ dalam ayat di atas maksudnya adalah menggenggam (al-qabdh) dalam keadaan hidup dan mengangkat, bukan dalam pengertian meninggal dunia. Hal ini karena kata ‘wafat’ dalam bahasa Arab juga dipergunakan untuk makna menggenggam (al-qabdh) dalam keadaan hidup. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam bahasa Arab: 

توفيت مالي من فلان أي قبضته

Artinya: “Aku mewafatkan hartaku dari si fulan, maksudnya adalah aku menggenggamnya”. 

Jadi maksud ayat di atas, menurut pendapat kedua, sebagaimana disampaikan Imam ath-Thabari, adalah: “ Aku menggenggammu dari bumi dalam keadaan hidup untuk di bawa ke sisiKu. Dan Aku membawamu ke sisiKu tanpa dimatikan terlebih dahulu. Aku juga mengangkatmu dari orang-orang musyrik, dan orang-orang yang mengingkarimu” (Jâmi’ul Bayân fî Ta’wîlil Qur’ân, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, T.th, 3/314). 

Pendapat ini adalah pendapatnya Hasan al-Bashri, Abu Ja’far, Ibnu Juraij, juga pendapat para ulama lainnya, termasuk Imam ath-Thabari (Ibid., 3/316) dan Imam al-Qurthubi. Imam al-Qurthubi juga mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat shahih nya Ibnu Abbas juga ad-Dhahak (Al-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, T.th., 4/90). 

Pendapat ini juga berdalil karena dalam banyak hadits yang derajatnya sampai mutawatir Rasulullah saw menegaskan bahwa Nabi Isa as kelak di akhir zaman akan diturunkan ke bumi untuk membunuh Dajjal. Ia akan tinggal di bumi beberapa lamanya, yang diperdebatkan oleh para ulama berkaitan lama tinggalnya tersebut, kemudian Nabi Isa setelah itu meninggal dunia, dan dishalatkan oleh orang-orang muslim, juga dikuburkannnya (Tafsîr ath-Thabari, 3/315). 

Pendapat ketiga mengatakan, bahwa kata ‘wafat’ dalam ayat di atas adalah wafat dalam pengertian meninggal dunia. Pendapat ini dinisbahkan kepada pendapatnya Ibnu Abbas.(Tafsîr Ibn Katsir, 2/28). 

Menurut pendapat ini, Allah mematikan Nabi Isa beberapa saat, yaitu selama tiga jam pada siang hari sebagaimana menurut Wahab bin Munabbih sebagaimana dikutip Imam al-Qurthubi, lalu Allah menghidupkannya kembali dan mengangkatnya ke langit. (Tafsîr al-Qurthubî, 4/89).

Hanya saja, pendapat ini, menurut Imam al-Qurthubi adalah pendapat yang jauh dari kebenaran (Ibid.). Bahkan, Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syanqithî dalam tafsirnya mengatakan pendapat ini termasuk berita israiliyyat, di mana Rasulullah saw melarang membenarkannya atau mendustakannya (Mulhaq Adhwâil Bayân Fî Îdhâh al-Qurân Bil Qur’ân, Kairo: Dârul Hadîts, 2006, 10/31). 

Pendapat ini juga dibantah oleh Abu Ja’far, sebagaimana dinukil Ath-Thabari dalam tafsirnya (3/316), bahwa kalau Allah betul-betul mematikannya, maka tidak mungkin makhluk yang sudah dimatikan, akan dimatikan yang kedua kalinya. Karena dengan demikian, akan berkumpul dua kematian, sementara Allah menegaskan bahwa manusia itu diciptakan, kemudian dimatikan, kemudian dihidupkan kembali, sebagaimana dalam firmanNya di bawah ini:
 
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ

Artinya: “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali)” (QS. Ar-Rûm [30]: 40). 

Pendapat keempat mengatakan, bahwa ayat dimaksud adalah termasuk dari bagian disebutkan pertama tapi artinya diakhirkan, dan disebutkan terakhir, tapi artinya didahulukan (minal muqaddam alladzî ma’nâhu at-ta’khîr, wal mu’akhkhar alladzî ma’nâhu at-taqdîm) (Tafsîr ath-Thabari, 3/315).

Menurut pendapat ini, kata râfi’uka dan muthahhiruka didahulukan secara artinya, baru kemudian mutawaffîka, sekalipun dari susunan yang tertulis,mutawaffîka lebih dahulu baru râfi’uka dan muthahhiruka.

Jadi maksud ayat di atas adalah: “Ketika Allah berkata: ‘Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mengangkatmu ke sisiKu, juga akan mensucikanmu dari orang-orang kafir, dan aku akan mematikanmu setelah Aku menurunkanmu ke bumi”. (Tafsîr ath-Thabari, 3/315).

Dan hal ini sesuatu yang biasa dalam bahasa Arab. Bahkan, dalam al-Qur’an pun terdapat seperti ini, yaitu seperti dalam ayat berikut: 

وَلَوْ لا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَكانَ لِزاماً وَأَجَلٌ مُسَمًّى

Artinya: “Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang  telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka” (QS. Thaha [20]: 129). 

Dalam ayat di atas, kata ‘lizâman’ disebutkan lebih dahulu dari pada kata ‘wa ajalum musammâ’. Namun maksud juga artinya, ‘wa ajalum musammâ’ lebih didahulukan dari pada kata ‘lizâma’, karena ia athaf (mengikuti) kepada kata sebelumnya yaitu kata ‘kalimatun’. Karena itu, dalam mengartikannya pun ia lebih didahulukan dari kata ‘lizâman’, sebagaimana nampak dalam arti di atas. 

Pendapat kelima mengatakan, bahwa kata ‘mutawaffîka’ dalam ayat di atas adalah betul-betul meninggal dunia. Menurut pendapat ini, Nabi Isa as sudah meninggal dunia, namun meninggalnya bukan karena dibunuh atau disalib, tapi wafat biasa. Dan nanti, di akhir zaman, ia akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk diturunkan ke dunia. 

 Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Isa as telah wafat di antaranya adalah Imam az-Zamakhsyary. Dalam tafsirnya al-Kasysyâf  ‘an Haqâiq at-Tanzîl Wa ‘Uyûn al-Aqâwîl Fî Wujûh at-Ta’wîl (Kairo: Maktabah Mishr, T.th., 1/323) ia mengatakan: 

{ إِنّي مُتَوَفّيكَ } أي مستوفي أجلك. معناه: إني عاصمك من أن يقتلك الكفار؛ ومؤخرك إلى أجل كتبته لك.ومميتك حتف أنفك لا قتيلاً بأيدهم، { وَرَافِعُكَ إِلَىَّ } إلى سمائي ومقرّ ملائكتي

Artinya: “Sesungguhnya Aku mewafatkanmu’, maksudnya adalah mewafatkan usiamu. Maknanya: Sesungguhnya Aku menjaga dan melindungimu dari upaya pembunuhan orang-orang kafir, dan menangguhkan usiamu, sampai waktu yang telah Aku tetapkan kepadamu. Dan Aku mewafatkanmu dengan kematian seperti biasa, bukan karena dibunuh oleh tangan-tangan mereka. ‘Dan Aku mengangkatmu ke sisiKu’ maksudnya ke langitKu dan ke tempat para malaikatku”. 

Pendapat ini kemudian ditentang oleh Imam al-Buqâ’i dalam tafsirnya, ketika menafsirkan ayat di atas, mengatakan: 

وأما قول الزمخشري : .... فلا ينبغي الاغترار به لأنه مبني على مذهب الاعتزال من أن القاتل قطع أجل المقتول المكتوب

Artinya: “Adapun perkataan az-Zamakhsyari….(di atas), jangan sampai tertipu dengannya, karena pendapatnya itu bersandar kepada pemahaman Madzhab Mu’tazilah bahwa pembunuh dapat memutuskan ajal terbunuh yang sudah ditetapkan”. 

Hanya saja, hemat penulis, bantahan Imam al-Buqa’i, ini terlalu berlebihan. Karena yang berpendapat bahwa Nabi Isa as meninggal pun, juga dikutip oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya, at-Tafsîr al-Kabîratau Mafâtîh al-Ghaib(Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, T.th., 8/64) seperti di bawah ini:

واختلف أهل التأويل في هاتين الآيتين على طريقين أحدهما: إجراء الآية على ظاهرها من غير تقديم، ولا تأخير فيها، والثاني : فرض التقديم والتأخير فيها. 
أما الطريق الأول فبيانه من وجوه: 
الأول: معنى قوله {إِنّي مُتَوَفّيكَ} أي متمم عمرك، فحينئذ أتوفاك، فلا أتركهم حتى يقتلوك، بل أنا رافعك إلى سمائي، ومقربك بملائكتي، وأصونك عن أن يتمكنوا من قتلك وهذا تأويل حسن 
والثاني : {مُتَوَفّيكَ} أي مميتك، وهو مروي عن ابن عباس، ومحمد بن إسحاق قالوا: والمقصود أن لا يصل أعداؤه من اليهود إلى قتله، ثم إنه بعد ذلك أكرمه بأن رفعه إلى السماء، 
ثم اختلفوا على ثلاثة أوجه أحدها : قال وهب : توفي ثلاث ساعات، ثم رفع، وثانيها: قال محمد بن إسحاق:توفي سبع ساعات، ثم أحياه الله ورفعه، الثالث: قال الربيع بن أنس: أنه تعالى توفاه حين رفعه إلى السماء. 

Artinya: “Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang dua ayat ini kepada dua pendapat. Pendapat pertama, memahami ayat tersebut secara zhahirnya, tanpa taqdîm atau ta’khir. Pendapat kedua, mentaqdirkan adanya taqdim dan ta’khir, (yaitu kata mutawaffîka yang disebutkan pertama, artinya dibaca terakhir setelah râfi’uka dan muthahhiruka, yang dari segi urutan setelah mutawaffîka, sebagaimana telah penulis jelaskan di atas). 

Adapun pendapat pertama (yang memahami berdasarkan zhahirnya), penjelasannya ada beberapa pemahaman. Pertama, maksud: ‘innî mutawaffîka’ adalah menyempurnakan umurmu, lalu jika saatnya tiba, aku mewafatkanmu. Aku tidak membiarkan mereka membunuhmu, akan tetapi Aku mengangkatmu ke langitKu, dan mendekatkanmu dengan para malaikatKu. Aku juga menjagamu dari upaya pembunuhan mereka. Ta’wil ini adalah ta’wil yang bagus. 

Kedua,  ‘mutawaffîka’ maksudnya adalah betul-betul mematikanmu. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Muhammad bin Ishak. Mereka berpendapat: Maksud ayat tersebut adalah musuh-musuh Nabi Isa yang merupakan orang-orang yahudi tidak dapat membunuhnya, kemudian setelah itu, Allah memuliakannya dengan mengangkatnya ke langit. 

Mereka lalu berbeda pendapat, kepada tiga pendapat: Pertama, Wahab bin Munabbih berkata: “Nabi Isa diwafatkan selama tiga jam, kemudian baru diangkat”. Kedua, Muhammad bin Ishak berkata: “Nabi Isa as diwafatkan selama tujuh jam, kemudian Allah menghidupkannya kembali dan mengangkatnya (ke langit). Ketiga, ar-Rabi’ bin Anas berpendapat: Allah mewafatkan Nabi Isa as, ketika diangkat ke langit”. 


Bahkan, jika kita membuka tafsir Muhammad at-Thâhir Ibnu ‘Asyûr, at-Tahrîr wat Tanwîr, sepemahaman penulis dari apa yang dipaparkannya, ia cenderung mengatakan bahwa Nabi Isa as telah meninggal dunia. 

Menurutnya, ketika menafsirkan ayat di atas, dalam bahasa Arab, katamutawaffîka, secara zhahir artinya adalah mewafatkanmu (mumîtuk). Dengan bahasa lain, kata wafat dalam bahasa arab, makna hakikinya adalah meninggal dunia, wafat. 

Sedangkan, kata ‘wafat’ diartikan tidur, adalah arti secara kiasan (majâz), bukan arti sebenarnya. Menurutnya, mengartikan kata wafat dalam ayat di atas dengan tidur kepada Nabi Isa as, kurang tepat. Karena, jika Allah bermaksud mengangkatnya, tidak mesti Nabi Isa as harus tidur dulu. Karena dengan demikian, tidur menjadi  pelantara diangkat ke langit, dan tidak layak diberikan perhatian dengan menyebutkannya, sementara di sisi lain meninggalkan menyebutkan inti atau maksud utamanya (At-Tahrîr wat Tanwîr, Tunisia: Dâr Suhnûn, T.th., 3/258). Perhatikan perkataan Ibu Asyur di bawah ini: 

وحملُها على النوم بالنسبة لِعيسى لا معنى له؛ لأنهُ إذا أراد رفعَه لم يلزم أن ينام؛ ولأنّ النوم حينئذ وسيلة للرفع، فلا ينبغي الاهتمام بذكره، وترك ذكر المقصد

Demikian juga Ibnu Asyur membantah pendapat yang mengatakan bahwa kata ‘wafat’ dalam ayat di atas diartikan diangkat (al-qabdh war raf’u) dari dunia. Menurutnya, pengertian ini adalah pengertian mengada-ngada dalam bahasa Arab tanpa ada sandaran dalil yang kuat. Karena itu, Ibnu Abbas dan Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa kata ‘wafat’ dalam ayat di atas maksudnya adalah wafat meninggal dunia (wafâtu maut). 

Dan pemahaman ini juga, lanjutnya, sesuai dengan zhahir perkataan Imam Malik yang mengatakan bahwa: Nabi Isa as wafat pada usia tiga puluh satu (31) tahu. Lalu Ibnu Rusyd dalam kitabnya al-Bayân wat Tahshîlmengatakan: “Boleh jadi perkataan Imam Malik: “Bahwa Nabi Isa wafat pada usia tiga puluh tiga (33) tahun itu, dalam pengertian sebenarnya (yaitu meninggal dunia), bukan dalam pengertian kiasan, majâz (Ibid.)

Berikut penulis kutipkan perkataan Ibnu Asyur dimaksud: 

فالقول بأنها بمعنى الرفع عن هذا العالم، إيجاد معنى جديد للوفاة في اللغة بدون حجة، ولذلك قال ابن عباس، ووهب بن منبه: إنها وفاة موت، وهو ظاهر قول مالك في جامع العتبية، قال مالك: مات عيسى وهو ابن إحدى وثلاثين سنة، قال ابن رشد في البيان والتحصيل: ((يحتمل أنّ قوله: مات وهو ابن ثلاث وثلاثين على الحقيقة، لا على المجاز)).

Ibnu Asyur juga berkata, dalil pendapat yang memperkuat Nabi Isa telah wafat adalah ayat berikut ini: 

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيد

Artinya: “(Nabi Isa berkata): Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu” (QS. Al-Maidah [5]: 117).

Di akhir penafsirannya, Ibnu Asyur berkata: 

والوجه أن يحمل قوله تعالى: { إني متوفيك } على حقيقته، وهو الظاهر، وأن تؤوّل الأخبار التي يفيد ظاهرها أنه حيّ على معنى حياة كرامة عند الله، كحياة الشهداء وأقوى، وأنه إذا حمل نزوله على ظاهره دون تأويل، أنّ ذلك يقوم مقام البعث، وأنّ قوله في حديث أبي هريرة: ((...ثم يتوفّى فيصلي عليه المسلمون)) مدرج من أبي هريرة، لأنّه لم يروه غيره ممن رووا حديث نزول عيسى، وهم جَمْع من الصحابة، والروايات مختلفة وغير صريحة. ولم يتعرض القرآن في عدّ مزاياه إلى أنه ينزل في آخر الزمان

Artinya: “Dan hendaknya firman Allah: “Sesungguhnya Aku mewafatkanmu’ perlu dipahami secara pengertian hakikatnya, dan ini  adalah pengertian secara lahirnya. Sementara hadits-hadits yang zhahirnya menjelaskan bahwa Nabi Isa as masih hidup, perlu ditafsirkan kepada pengertian hidup mulia di sisi Allah, sebagaimana hidupnya para Syuhada dan orang-orang pilihan lainnya. Demikian juga, jika pengertian Nabi Isa akan turun ke bumi diartikan secara zhahirnya tanpa ta’wil, maka itu harus dipahami bahwa dihidupkannya itu seperti hidup ketika dibangkitkan dari kubur kelak (artinya, setelah itu Nabi Isa as tidak akan meninggal lagi, tapi terus hidup sampai hari akhirat, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Asyur sebelumnya. Sepemahaman saya, perkataan Ibnu Asyur ini untuk keluar dari pemahaman Nabi Isa as dimatikan dua kali=pent). 

Adapun hadits Abu Hurairah yang menyebutkan: “…Kemudian Nabi Isa as diwafatkan dan dishalati oleh orang-orang muslim), hadtis tersebut adalah Mudraj dari Abu Hurairah. Karena rawi-rawi lain yang meriwayatkan akan turunnya Nabi Isa as, tidak menyebutkan redaksi dimaksud. Dan rawi-rawi tersebut adalah sekelompok para sahabat. Riwayat-riwayat (seputar turunnya Nabi Isa as ke bumi) berbeda-beda dan tidak jelas. Bahkan,  al-Qur’an pun dengan segala kelebihan yang dimilikinya tidak menjelaskan bahwa Nabi Isa as akan diturunkan di akhir zaman kelak” (At-Tahrîr wat Tanwîr, 3/259). 

Demikian, pemaparan Ibnu Asyur seputar masalah ini. Sekali lagi apa yang saya utarakan, adalah berdasarkan pemahaman saya kepada teks yang disampaikan Ibnu Asyur. Saya sengaja mengetengahkannya secara lebih panjang, dengan harapan kita dapat mengambil istifadahdari Ibnu Asyur, juga membuka wawasan kita, bahwa terdapat pendapat sebagian ulama muslim yang mengatakan Nabi Isa as telah wafat. 

Demikian penafsiran dan penjelasan para ulama tafsir seputar ayat dimaksud. Dari penjelasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 

1. Kata ‘wafat’ dalam bahasa Arab dan dalam al-Qur’an, mempunyai banyak pengertian. Di antaranya dapat berarti meninggal dunia (al-maut), tidur (an-naum), juga menggenggam (al-qabdh).

2. Adapun apakah Nabi Isa as masih hidup atau sudah wafat, ini merupakan masalah ijtihadiyyah. Karena itu para ulama berbeda pendapat. Jumhur  ulama mengatakan, Nabi Isa as belum meninggal, dan sampai sekarang juga nanti, masih hidup, dan ia akan diturunkan oleh Allah kelak di akhir zaman. Pendapat lain mengatakan, bahwa Nabi Isa as telah wafat, dan kelak akan dihidupkan kembali, lalu diturunkan ke bumi di akhir zaman.

3. Sekalipun para ulama berbeda pendapat seputar maksud kata  ‘wafat’ dalam ayat di atas, namun semua sepakat bahwa Nabi Isa as tidak dibunuh, juga tidak disalib oleh orang-orang Yahudi, sebagaimana yang diyakini saudara-saudara kita dari Kristiani, akan tetapi yang disalib itu adalah murid Nabi Isa yang diserupakan wajah dan bentuk tubuhnya dengan Nabi Isa as.  Dan ini ditegaskan langsung oleh Allah dalam surat an-Nisa ayat 156-159 sebagaimana telah penulis jelaskan di atas.

4. Dari beberapa pendapat di atas, penulis cenderung untuk mengambil pendapat yang dirajihkan oleh Imam at-Thabari, juga al-Qurthubi, bahwa maksud ayat di atas adalah Allah menggenggam dan mengangkat Nabi Isa as ke langit dalam keadaan hidup, dan sampai saat ini masih hidup. Nanti di akhir zaman Allah akan menurunkannya kembali ke bumi untuk membunuh Dajjal dan  mengajak ahlul kitab kepada agama Islam, sekaligus menegaskan kekeliruan mereka, di antaranya bahwa Nabi Isa adalah Tuhan. Yang benar, Nabi Isa as adalah rasul atau utusan Allah, bukan Anak Allah. Wallâhu ‘alam bis shawâb.


Nabi Isa Telah Wafat dan Tidak Akan Turun ke Bumi

 brainwash1
Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat, merujuk pada penafsiran Al-Qur'an, sebagaimana firman-Nya:
 "(Ingatlah) tatkala Allah ber firman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku akan memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang kamu perselisihkan padanya'..." (Ali Imran: 55).
 "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu." (al-Maa'idah: 117)
 Berkaitan dengan surat al-Maa'idah ayat 117 maka timbul penafsiran kata tawaffaitani-tawafa, yatawaffa, mutawaffi, yang artinya 'mematikan, mencabut nyawa atau mewafatkan'. Pengertian ini tentu saja berlaku untuk seluruh ayat yang berkaitan dengan kata tawafaa. Sehingga surat Ali Imran ayat 55 di atas harus dipahami secara yakin bahwa Allah telah mewafatkan, mematikan, atau mencabut nyawa Nabi Isa a.s..
 Kata tawaffa berasal dari kata kerja wafaya (wau-fa-ya) mempunyai arti: 'melunasi, menyelesaikan, menyempurnakan, wafat' (mati). Akar kata wafat (mati) sangat dekat dengan akar kata wifa' yang artinya, 'penyempurnaan atau pelunasan'. Sehingga dua kata itu merujuk pada sesuatu tugas yang sempurna atau telah selesai, atau seseorang yang telah selesai menjalani hidupnya alias mati. Apabila kata wafaya tersebut ditambah huruf mati ta dan fa, yaitu tawaffaya memberikan arti 'sangat bersungguh-sungguh'. Dan bila kata tawaffa dihubungkan dengan firman Allah surat al-Maa'idah ayat 117, maka memberikan arti yang pasti bahwa, "...Engkau wafatkan (angkat) aku..."
 Dengan pembahasan kata tersebut sampailah pada kesimpulan bahwa kata muttawafika dalam surat Ali Imran: 55, berarti Allah sungguh-sungguh (benarlah) akan mewafatkan engkau (Nabi Isa). Hal ini tidak dapat ditafsirkan lain kecuali Allah akan mewafatkan Nabi Isa.
 Apabila kata tersebut ditafsirkan lagi dengan ayat yang lain, maka akan didapat pengertian yang sama pada ayat ayat sebagai berikut: "... sampai mereka menemui ajalnya (yatawaffahunna)...." (an-Nisa' 4:15)
 "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan (tawaffaahum) malaikat... " (al-Maa'idah: 97)
"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa (yatawaffa) orang-orang...." (al-Anfal 8:50)
Masih banyak lagi kata atau ungkapan tawaffa dalam surat-surat pada Al-Qur'an yang keseluruhannya memberikan arti 'mewafatkan, mencabut nyawa', dan sebagainya. 2
 Apabila seluruh kata tawaffa dalam ayat-ayat yang disebutkan tersebut menunjukkan arti "mewafatkan dan mematikan", lantas atas dasar apa meragukan bahwa Nabi Isa telah diwafatkan (mati). Oleh karena itu, tidak dapat ditafsirkan lain bahwa Nabi Isa tidur, Nabi Isa istirahat, dan sebagainya.
 l. Kata Rafi'a
  • Kata raafi'uka (mengangkatmu) sebagaimana terdapat dalam Ali Imran: 55, tidak dapat ditafsirkan sebagai mengangkat Nabi Isa ke langit, karena tidak didukung oleh ayat lain yang memperkuat argumentasi bahwa kata raafi'uka menisbatkan kepada naiknya Nabi Isa ke langit dan kemudian hidup, tidur, atau istirahat di sana.
  • Kata rafi'u adalah isim fa'il atau pelaku yang berasal dari kata kerja rafa'a (telah mengangkat) dan bentuk rafa'a dengan segala bentukannya yang disebutkan di dalam Al-Qur'an menunjukkan pada sebuah makna 'meningkatkan derajat, mengungguli, dan mengatasi', sebagaimana di sebut di dalam Al-Qur'an sebagai berikut :
". . . dan sebagiannya Allah meninggikan beberapa derajat.... (wa rafa'a ba'dhuhum darajatin)." (al-Baqarah 2:253 ).
 "... dan mengangkat sebagian kamu di atas sebagian yang lain (wa rafa'a ba'dhukum fawqa ba'dhin)." (al-An'am 6:165).
 Selanjutnya kata-kata rafa'a yang berarti 'mengangkat derajat'sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur'an-terdapat pula pada surat surat "wa rafa'na" (az-Zukhruf 43:32); "wa rafa'na" (Alam Nasyrah 94:4); "yarfa'u" (al-Mujadilah 58:11); dan "narfa'u" (Yusuf 12:76).
Dari uraian tadi dapat disimpulkan, sebagai berikut :
  • Nabi Isa a.s. telah diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan Sunnatullah yang tidak mungkin akan berubah selama-lamanya (al-Ahzab 33:62). Nabi Isa telah wafat dan diangkat derajatnya oleh Allah. Dan tentang wafatnya Nabi Isa, sesuai pula dengan Sunatullah bahwa segala benda yang bernyawa pasti akan menemui kematian.
  • Al Qur'an tidak pernah menyebutkan secara jelas dan muhkamat3 maupun mutasyabihat,4 apakah Nabi Isa masih hidup dan apakah sampai saat ini masih berada di langit? Lalu apakah setelah itu, ia akan turun kembali ke bumi untuk membasmi Dajjal. Padahal, tidak ada satu kata pun di dalam Al-Qur'an yang menyebut nama Dajjal. Dengan demikian, hal ini memperkuat argumentasi bahwa Nabi Isa telah wafat, dan tidak akan turun ke bumi dan tidak akan membunuh Dajjal.
  • Kiamat akan segera tiba setelah turunnya Nabi Isa yang akan memberantas Dajjal, kemudian mempersatukan umat manusia serta menjadikan semuanya beragama Islam dan menjadi imam shalat, tentunya berita ini merupakan berita besar yang mustahil luput dari uraian Al-Qur'an.
  • Mengingat turunnya Nabi Isa dan datangnya Dajjal tidak disebutkan di dalam Al-Qur'an, maka tidak menyebabkan berdosa apabila kita tidak mengimaninya. Lagi pula, rukun Iman yang telah diakui seluruh ulama sejak dahulu tidak mencantumkan hal ini.
2. Hadits-Hadits tentang Nabi Isa a.s. dan Dajal
 Argumentasi yang berdasarkan pada Al-Qur'an mengatakan bahwa Nabi Isa telah wafat dan tidak akan turun lagi ke bumi untuk memberantas Dajjal. Tentu hal itu tidak berdasarkan dalil hadits, walupun hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan yang lainnya.
 Bagi mereka yang menyangkal hadits tersebut didasarkan bahwa berita-berita yang diriwayatkannya bertentangan satu sama lain, karena mereka mendasari itu terhadap alasan-alasan berikut :
  • Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash disebutkan, "...kemudian Isa Almasih itu, menetap bersama manusia tujuh tahun lamanya…"
  • Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, al-Hakim, dan Ahmad bin Hanbal dari Abu Hurairah r a. menyebutkan, "…Isa menetap di bumi empat puluh tahun lamanya, kemudian ia pun wafat, maka kaum muslimin menyembahyangkannya ..."
  • Menurut Joesoef Souyb salah satu hadits yang meriwayatkan kedatangan Dajjal diterima melalui Ka'ab al-Ahbar5 yang mengatakan, "Aku akan mengirimmu kelak menghadapi Dajjal si Juling, dan engkau akan membunuhnya, lalu hidup di bumi sehabis itu selama dua puluh empat tahun dan Aku akan mematikanmu, seperti halnya orang yang hidup."
Penulisan hadits dengan isi pernyataan yang berbeda satu sama lainnya dan diceritakan melalui satu orang saja (hadits ahad) menyebabkan kedudukan hadits tersebut tidak termasuk mutawatir (hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar